Selalu ada karma dari setiap perbuatan yang kita lakukan. Yen ora saiki, ya pas wayah tua. Atau, ketika sudah meninggal bertemu Sang Khalik. Paling nggak, seperti itulah petuah para orang tua.
Nah, karma seperti itu menimpa diri Sudrun. Lelaki asal Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri ini harus menanggung derita di hari tuanya. Yen digothak-gathik gathuk, penyebabnya tentu saja karena polah-tingkahnya di kala mudaa. “Wonge kuwi senengane nesu. Sampek anake wedi nyedek,” kenang Yu Minthul.
Ya, hobi marah Sudrun tidak hanya membuat orang di sekitarnya susah. Tetapi juga nasib perkawinannya yang sering bubrah. Bayangne wae, lelaki ini sampek rabi ping telu! Peh!
“Sing pertama bubrah mergane bojoku main tangan juga,” bisik Yu Minthul.
Yang kebangeten dan tak boleh ditiru, sing dinesoni ora mung bojone tapi juga anake. Sing notabene darah daginge dewe. Ya mesti wae si anak ora enek sing tresna karo bapake.
Bar nikah pertama, Sudrun rabi yang kedua. Sing iki agak lumayan panjang waktunya. Sampek sebelas tahun lan bisa duwe anak loro. Mengapa akhirnya pegatan juga? Pemicunya ya kuwi, hubungan yang tak harmonis.
“Sing wedok kan kerja isuk lan sore. Jarang enek waktu (kanggo Sudrun),” beber Yu Minthul.
Sing miris adalah nasib anak-anake. Tidak mendapat perhatian dari bapake. Sampek anak ragile ketut pergaulan bebas. Pernah mendem, padahal isih duduk di bangku SD.
“Bojone ke loro pun nggak sanggup bertahan. Anake loro melu ibuke merga wedi yen kelakuan elek bapake bisa nurun,” gerutu Yu Minthul.
Kini, nasib Sudrun benar-benar terpuruk. Kena sakit stroke. Uga divonis lara kanker. Saudara bahkan keluarganya pun tak ada yang peduli. Itu karena ketika masih sehat tak ada satu kebaikan pun yang dilakukan. Pokoke kabeh sifat elek enek neng Kang Dalbo. Mulai dari mutungan, temperamen tur pelit.
“Termasuk aku bojo sing ke telu ya emoh ngopeni. Nalika sehat wae senengane nesu. Kadang main tangan barang lek kadung kumat gendenge,” omel Yu Minthul.
Beruntungnya Yu Minthul belum dikarunia anak. Sehingga dia tak begitu sedih ketika meninggalkan Sudrun. Dia mengurus perceraiannya ke Pengadilan Agama Kabupaten Kediri dengan didampingi sang ibu.
Kedua orang tuanyalah saksi betapa menderitanya Yu Minthul ketika hidup dengan Sudrun. “Aku sering nangis neng ibuku. Karo ibuku didongak- dongakne, eh, mandi tenan dongane. Aku iso gugat cerai lan deweke ora iso berbuat apa-apa,” pungkas Yu Minthul bahagia.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil