Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Urip Nyaman Masiya Dadi Beban Keluarga

Habibaham Anisa Muktiara • Rabu, 9 Oktober 2024 | 18:12 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri-Mencintai anak memang boleh-boleh saja. Namun, jika terus menerus memanjakannya akan berujung petaka. Hal itu pula yang dialami oleh Yu Limbuk.

Perempuan asal salah satu desa di Kecamatan Gurah ini kelimpungan karena Sudrun yang umurnya sudah puluhan tahun ternyata tetap tidak bisa dewasa. Indikasinya, hidupnya tetap tergantung pada orang tuanya.  

Sebagai anak sulung, Sudrun memang mendapat limpahan kasih sayang yang berlebih dari kedua orang tuanya. Hal tersebut terus terjadi saat Dalbo, adiknya lahir. Meski mendapat porsi perhatian yang sama, pertumbuhan keduanya berbeda.

Sudrun tetap bersikap manja kepada kedua orang tuanya. “Kudune (Sudrun, Red) bisa luwih dewasa. Iki malah luwih dewasa adike,” keluh Yu Limbuk.

Terkait sikap Sudrun yang kolokan, diakui Yu Limbuk jika itu juga karena kesalahannya. Sejak kecil, dia terbiasa menuruti semua kemauan anak pertamanya itu. “Akhire kabeh sing dipingini kudu dituruti. Bocahe dadi manja sakarepe dewe,” lanjutnya.

Yu Limbuk mencontohkan saat Sudrun duduk di bangku SMA. Saat itu, dia ngotot minta dibelikan sepeda motor Kawasaki Ninja. Padahal, dia tahu benar jika Yu Limbuk tidak memiliki uang yang cukup.

Demi memenuhi keinginan Sudrun, Yu Limbuk rela menjual beberapa ekor sapi miliknya. “Lek ora ditukokne jarena bocahe emoh sekolah. Aku kan ya mumet pisan,” kenangnya.

Kebiasaan memaksakan kehendak itu berlangsung hingga Sudrun dewasa. Setelah dia lulus sekolah dan mendapat pekerjaan, Sudrun belum kunjung menjadi sosok yang dewasa.

Bukannya memberikan nafkahnya kepada sang ibu sebagai bentuk baktinya, Sudrun tetap menjadi beban keluarga. Masiya wis duwe bayaran dewe, Sudrun sik tetep njaluk duwit ibuke. Peh!

Untuk sekadar membeli ponsel saja, Sudrun masih tetap meminta uang kepada ibunya. Melihat sikap anak sulungnya yang tak kunjung berubah, Yu Limbuk melakukan berbagai cara untuk mendewasakannya.

Belakangan tebersit ide untuk mencarikannya jodoh. Harapannya, jika Sudrun memiliki istri akan bisa bertanggung jawab. “Wis diwenehi wejangan akeh saka pakdene. Sawise rabi kudu dewasa dan bertanggung jawab. Tapi ya bablas,” paparnya.

Baca Juga: Pedese Makanan Tak Sepedes Lidah Mertua

Demi asa itu, Yu Limbuk menjodohkan Sudrun dengan salah satu santri dari pondok yang ada di dekat rumahnya. Namun, sikap manja Sudrun tetap tidak bisa hilang. Bukannya tinggal di rumah terpisah dengan istrinya, dia tetap tinggal dengan sang ibu.

“Awal-awal rabi sik enek perubahan. Luwih sregep kerja tapi ya ora suwi. Balik maneh sifate,” urai Yu Limbuk geram. Sikap Sudrun itu membuat Yu Limbuk yang justru malu dengan menantunya.

Sebab, justru si perempuan yang harus banting tulang memenuhi kebutuhannya sendiri karena tidak mendapat nafkah. Wis, Sudrun pancen somplak tenan. Deweke tetap merasa nyaman masiya dadi beban keluarga.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #beban keluarga #jawapos #peh