JP Radar Kediri - Motor matic menjadi pilihan banyak pengendara karena praktis dan mudah digunakan. Namun, ada satu komponen penting yang kerap luput dari perhatian, yakni V-belt pada sistem Continuously Variable Transmission (CVT).
V-belt berfungsi meneruskan tenaga dari mesin ke roda belakang. Jika kondisinya mulai aus atau bahkan putus, motor tidak akan bisa melaju meski mesin masih menyala.
Sebelum benar-benar putus, V-belt umumnya memberikan beberapa tanda. Pengendara bisa merasakan tarikan motor mulai berat atau ngempos, terutama saat awal berakselerasi. Dalam beberapa kasus, putaran mesin sudah tinggi, tetapi laju motor terasa terlambat seolah tenaga tersalurkan tidak maksimal.
Gejala lain yang sering muncul adalah getaran saat motor mulai berjalan, muncul suara berdecit atau gesekan dari area CVT, hingga kecepatan puncak yang menurun dibandingkan biasanya. Jika penutup CVT dibuka, kondisi fisik V-belt yang mulai retak, menipis, atau mengeluarkan serabut menjadi tanda bahwa komponen tersebut sudah mendekati batas pemakaian.
Apabila V-belt sampai putus, mesin tetap dapat dihidupkan. Namun, saat tuas gas diputar motor tidak akan bergerak karena tenaga mesin tidak lagi tersalurkan ke roda belakang.
Untuk mencegah kerusakan di jalan, pemilik motor matic disarankan melakukan pemeriksaan rutin pada sistem CVT dan mengganti V-belt sesuai rekomendasi pabrikan. Umumnya, penggantian dilakukan setiap 20.000 hingga 25.000 kilometer, meski usia pakainya bisa lebih pendek jika motor sering digunakan membawa beban berat, melewati tanjakan, atau beroperasi di lalu lintas padat. (*)
Editor : Mahfud