Saat ini mobil listrik sudah beterbaran di mana-mana. Di jalan raya kerap ditemui kendaraan yang plat nomornya bergaris biru, alias merupakan electric vehicle, mobil listrik.
Namun, tahukah kita, sebenarnya tidak semua mobil listrik harus menggunakan listrik untuk bahan bakarnya? Lho, kok bisa!
Rifat Sungkar, pereli nasional, dalam podcast di Kasisolusi milik Deryansha Azhari menjelaskan, ada tiga jenis mobil listrik. Salah satunya adalah yang bernama PHEV, plug in hybrid electric vehicle.
“Ibaratnya, loe bawa genset di dalam mobil,” kata Rifat Sungkar dalam podcast tersebut.
Bila merunut pada pernyataan Rifat dalam podcast tersebut, ada tiga jenis mobil yang menggunakan penggerak listrik. Yaitu hybrid electric vehicle, plug in hybrid electric vehicle, dan full electric vehicle. Apa dan seperti apa perbedaannya, berikut penjelasan masing-masing jenis.
1. Full Electric Vehicle (EV)
Mobil ini adalah kendaraan listrik murni yang sepenuhnya menggunakan baterai sebagai sumber energi tunggal.
- Cara Kerja: Menggunakan motor listrik dan baterai lithium-ion besar yang diisi ulang melalui stasiun pengisian kendaraan listrik (SPKLU).
- Karakteristik: Tidak memiliki knalpot dan tidak menghasilkan emisi gas buang sama sekali (zero emission).
2. Hybrid Electric Vehicle (HEV)
Jenis ini menggabungkan mesin pembakaran internal (bensin) dengan motor listrik.
- Cara Kerja: Mobil biasanya bergerak menggunakan motor listrik pada kecepatan rendah, dan mesin bensin akan mengambil alih pada kecepatan tinggi atau saat baterai lemah.
- Karakteristik: Baterainya tidak bisa diisi ulang lewat colokan listrik (plug-in), melainkan terisi melalui pengereman regeneratif atau putaran mesin bensin.
3. Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV)
Khusus yang PHEV ini, ada dua jenis yang dikembangkan saat ini. Pertama, mirip dengan hybrid biasa. Namun memiliki kapasitas baterai yang lebih besar dan bisa diisi ulang dari sumber listrik eksternal.
- Cara Kerja: Memungkinkan mobil berjalan dalam mode listrik penuh untuk jarak tertentu (biasanya 30–60 km) sebelum mesin bensin menyala untuk membantu.
- Karakteristik: Memberikan fleksibilitas lebih bagi pengguna yang ingin berkendara tanpa emisi di dalam kota, namun tetap memiliki cadangan bensin untuk perjalanan jauh.
Kedua adalah kendaraan menggunakan mesin penggerak listrik sepenuhnya. Namun, sumber daya listrik tidak didapat dari colokan luar. Melainkan dari sistem internal yang menyerupai genset. Beberapa merek, seperti Nissan misalnya, menyebut teknologi seperti ini sebagai e-power.
Baca Juga: Apa Saja yang Bisa Jadi Bahan Bakar Mobil Selain Listrik dan Solar
1. Sistem Penggerak Listrik Murni
Berbeda dengan sistem hybrid konvensional di mana mesin bensin dan motor listrik bergantian atau bersama-sama memutar roda, pada sistem e-Power, roda mobil hanya digerakkan oleh motor listrik. Hal ini memberikan sensasi berkendara yang instan, halus, dan senyap layaknya mobil listrik murni (EV).
2. Fungsi Mesin Bensin sebagai Generator
Mesin bensin yang ada di dalam tidak terhubung ke roda. Tugas utamanya hanyalah menjadi generator untuk menghasilkan listrik yang kemudian disimpan di baterai atau langsung disalurkan ke motor listrik.
- Tanpa Colokan (Non-Plug-in): Anda tidak perlu mengisi daya baterai di stasiun pengisian listrik (SPKLU) karena listrik diproduksi sendiri oleh mesin bensin tersebut.
- Efisiensi: Karena mesin bensin hanya bekerja untuk mengisi baterai pada putaran mesin yang optimal, konsumsi bahan bakarnya menjadi sangat efisien.
Nah, setelah tahu spesifikasi masing-masing jenis kendaraan listrik, silakan menentukan ingin membeli yang mana. Bagi yang sudah terbiasa dengan kendaraan berbahan bakar fosil seperti bensin maupun solar, model hybrid lebih pas. Terutama yang menggunakan sistem e-power. (*)
Editor : Mahfud