Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Era Mobil Tanpa Sopir Segera Dimulai, Indonesia Siap atau Justru Keteteran?

Internship Radar Kediri • Selasa, 3 Juni 2025 | 00:50 WIB
mobil self-driving
mobil self-driving

JP Radar Kediri - Bayangkan sebuah pagi kamu masuk ke mobil, duduk santai, menyeruput kopi, dan mobil membawa ke kantor tanpa  menyentuh setir sedikit pun, kedengarannya seperti adegan film fiksi ilmiah, tapi tidak lagi masa depan itu kini mulai mengetuk pintu Indonesia.

mobil self-driving alias tanpa sopir resmi masuk ke pasar uji coba Indonesia, Tesla, Hyundai, dan bahkan beberapa startup lokal mulai menurunkan unit mobil otonom ke jalan-jalan kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. 

Mobil-mobil ini dikendalikan bukan oleh manusia, tapi oleh otak digital atau AI (Artificial Intelligence) superpintar yang bisa membaca jalur, mengenali lampu lalu lintas, bahkan bereaksi terhadap pengendara ugal-ugalan, setidaknya dalam skenario idealnya.

Teknologi self-driving sudah diuji di banyak negara maju dengan infrastruktur mumpuni seperti Amerika, Jerman, Jepang. 

Namun di Indonesia? Kita bicara jalan rusak, marka jalan hilang, pengendara lawan arah, parkir sembarangan, dan supir yang kadang lebih percaya feeling daripada aturan.

Baca Juga: Hal Yang Harus Dilakukan ketika Mobil Pecah Ban saat Melaju di Jalan Tol

Mobil otonom bekerja dengan sensor LIDAR, kamera 360, AI real-time, dan koneksi data kuat, tapi semua itu bisa lumpuh dalam sekejap jika jaringan internet putus, sinyal GPS melenceng, atau jalan yang seharusnya dua jalur, tiba-tiba jadi tempat jualan bubur ayam.

Sampai hari ini, belum ada regulasi resmi dari pemerintah yang mengatur lalu lintas mobil otonom. 

Jika terjadi kecelakaan, siapa yang akan bertanggung jawab dan sepertinya belum jelas, padahal negara seperti Singapura dan Korea Selatan sudah memiliki aturan jelas sejak 2023.

Dari sisi keamanan, banyak ahli menyebut mobil otonom justru lebih aman karena mengurangi kesalahan manusia. 

Tapi dengan kondisi jalanan yang tidak selalu bisa diprediksi, AI bisa menjadi terlalu "taat aturan" hingga malah tidak responsif terhadap pengendara manusia yang suka berimprovisasi.

Baca Juga: Air Radiator Warna Pink, Hijau, atau Biru: Apa Bedanya?

 

Jika Indonesia ingin ikut serta dalam revolusi ini, maka PR-nya bukan hanya memperbaiki jalan. Tapi juga:

Mobil otonom bukan sekadar kendaraan, tapi simbol perubahan peradaban, di saat negara lain sudah menyiapkan jalan untuk mobil tanpa sopir, Indonesia harus bergegas atau tertinggal dalam debu revolusi.

 

Penulis: Fikri Raihan Pratama, Mahasiswa Magang Universitas Pembangunan “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#self driving #mobil tanpa pengemudi #self driving car #mobil tanpa awak