Lahan Makin Kering, Kenapa Api Lebih Cepat Merambat?

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Sabtu, 24 Oktober 2026 | 16:14 WIB
lahan kering
lahan kering

JP Radar Kediri - Rumput yang biasanya hijau mulai berubah kecokelatan. Daun-daun kering menumpuk di tanah, sementara hujan belum juga turun secara merata. Kondisi seperti ini mungkin terlihat biasa saat kemarau, tetapi ada satu risiko yang ikut meningkat: api menjadi lebih mudah menyala dan menyebar.

Kondisi kering masih menjadi perhatian pada akhir September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian wilayah Jawa bagian tengah hingga timur masih mengalami hari tanpa hujan dalam kategori sangat panjang hingga ekstrem. Kondisi tersebut membuat permukaan lahan lebih mudah kehilangan kelembapan.

Ketika tumbuhan dan rumput kehilangan banyak kandungan air, material tersebut menjadi lebih mudah terbakar. Api yang awalnya kecil pun dapat merambat ke bagian lain apabila di sekitarnya terdapat cukup bahan kering.

Baca Juga: Lahan Kering, BPBD Lemparkan ke Dinas Pertanian

Baca Juga: Lahan Tebu Terbakar di Kunjang, Diduga Akibat Pembakaran Daun Kering, Segini Kerugiannya 

Bahan Kering Jadi Pemicu Api Cepat Menjalar

Api membutuhkan bahan yang dapat terbakar untuk terus menyala. Pada lahan yang kering, bahan tersebut tersedia dalam jumlah lebih banyak, mulai dari rumput, ranting, daun, hingga semak-semak.

Itulah sebabnya api dari pembakaran kecil bisa menjadi sulit dikendalikan ketika berada di area terbuka yang dipenuhi vegetasi kering.

Angin juga dapat mempercepat penyebaran api. Bara atau percikan yang terbawa angin bisa berpindah ke bagian lain sebelum api pertama benar-benar berhasil dipadamkan.

BMKG sebelumnya juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan selama kondisi kering masih berlangsung. Masyarakat diminta tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar.

Kebiasaan Sepele Bisa Berujung Masalah

Risiko kebakaran tidak selalu bermula dari kebakaran besar. Aktivitas sederhana seperti membakar sampah di lahan terbuka juga perlu diperhatikan.

Ketika angin bertiup, bara yang dianggap sudah mati bisa saja kembali menyala atau berpindah ke tumpukan daun dan rumput kering. Hal serupa juga dapat terjadi pada puntung rokok yang dibuang sembarangan.

 

Karena itu, kondisi lingkungan yang kering membutuhkan kebiasaan yang lebih hati-hati. Membakar sesuatu di dekat lahan kosong, semak, kebun atau tumpukan material kering sebaiknya dihindari.

Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi sekitar setelah menggunakan api. Memastikan bara benar-benar padam menjadi langkah sederhana untuk mencegah api kembali menyala.

Jangan Menunggu Api Membesar

Kewaspadaan menjadi semakin penting ketika musim kemarau belum sepenuhnya berakhir. BMKG dalam prakiraan periode 29 September hingga 5 Oktober 2026 menyebut kondisi kering masih ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia, meskipun hujan signifikan tetap berpotensi terjadi secara lokal.

Artinya, munculnya hujan di suatu wilayah tidak otomatis membuat seluruh lahan terbebas dari risiko kebakaran. Kondisi permukaan tanah dan vegetasi dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Jika menemukan asap atau api di lahan terbuka, masyarakat sebaiknya tidak menunggu sampai kobaran membesar. Informasi tersebut dapat segera disampaikan kepada petugas terkait agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Sebab, ketika lahan sudah mengering, mencegah api sejak awal jauh lebih mudah dibandingkan berusaha menghentikannya setelah menjalar ke area yang lebih luas.

Nama: Tahta Alvina

Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Editor : Shinta Nurma Ababil
lahan kering resiko kebakaran