Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Selamatan di Persimpangan Zaman: Bertahan atau Tergerus?

Redaksi Radar Kediri • Rabu, 22 April 2026 | 10:18 WIB
Dok. Susita Rahayu
Dok. Susita Rahayu

Oleh: Susita Rahayu, Mahasiswa Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang dan Guru Bahasa Indonesia SMK Muhammadiyah 6 Donomulyo

Di sebuah kampung, selamatan pernah menjadi penanda peristiwa penting dalam kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan, panen, hingga pencapaian usaha. Orang-orang datang tanpa undangan resmi, duduk melingkar, berbagi hidangan sederhana, dan memanjatkan doa dalam suasana akrab. Namun hari ini, pemandangan itu perlahan berubah. Selamatan masih ada, tetapi tidak lagi selalu menghadirkan keramaian yang sama. Generasi muda sering absen, digantikan oleh kesibukan masing-masing. Pertanyaannya, apakah selamatan sedang bertahan atau justru tergerus oleh zaman?

Selamatan sebagai Ruang Sosial

Selamatan selama ini dipahami sebagai ritual tradisional semata. Padahal, ia lebih dari itu. Selamatan adalah ruang sosial tempat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas dipraktikkan secara nyata. Di dalamnya, terdapat etika berbagi, penghormatan terhadap sesama, serta cara masyarakat merawat harmoni, baik dengan sesama manusia maupun dengan lingkungan yang lebih luas. Selamatan termasuk peristiwa budaya yang menghubungkan antar individu dalam satu ikatan sosial.

Selamatan pada mulanya merupakan ruang sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia mempertemukan orang-orang dalam suasana akrab, tanpa sekat yang kaku. Warga datang, duduk bersama, berbagi hidangan, lalu saling mendoakan. Tidak ada jarak sosial yang berarti karena semua hadir sebagai bagian dari komunitas. Dalam momen seperti ini, kebersamaan terasa nyata, bukan sekadar wacana. Selamatan menjadi cara masyarakat menjaga kedekatan di tengah kehidupan yang kian sibuk.

Di dalam selamatan, nilai-nilai sosial tidak diajarkan melalui kata-kata, tetapi melalui praktik secara langsung. Gotong royong terlihat sejak awal yaitu menyiapkan makanan, mengatur tempat, hingga memastikan acara berjalan lancar. Kepedulian pun tumbuh dari kebiasaan berbagi dan saling hadir. Generasi muda yang terlibat dapat belajar secara alami tentang arti kebersamaan dan hormat kepada sesama. Dalam hal ini selamatan menjadi ruang belajar sosial yang hidup.

Baca Juga: Mbak Wali Dukung Gerakan Literasi Mushaf Alquran, Ajak Pelajari Makna dan Menerapkan di Kehidupan Sehari-hari

Tekanan Perubahan Zaman

Perubahan zaman menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Urbanisasi telah menggeser pola hidup masyarakat dari komunal ke individual. Ritme kehidupan yang serba cepat membuat ruang untuk berkumpul semakin sempit. Di kota-kota besar, selamatan lebih disederhanakan, bahkan dialihkan menjadi sekadar pengiriman makanan tanpa pertemuan. Selain memudahkan komunikasi, teknologi digital juga mengurangi intensitas perjumpaan langsung yang menjadi inti dari selamatan itu sendiri.

Selain itu, muncul pula kecenderungan komodifikasi budaya. Selamatan yang dahulu berbasis partisipasi bersama atau merajut kebersamaan, kini dapat “dipesan” dalam bentuk paket praktis. Hidangan tersedia, doa dibacakan, tetapi keterlibatan sosial menjadi minim. Tradisi tetap berlangsung secara bentuk, tetapi maknanya mengalami pergeseran. Di sinilah kita melihat bahwa yang tergerus bukan hanya praktiknya, melainkan juga nilai yang dikandungnya.

Namun demikian, menyimpulkan bahwa selamatan akan punah mungkin itu keputusan yang tergesa-gesa. Sejarah menunjukkan bahwa tradisi tidak pernah benar-benar statis. Ia bertahan justru karena kemampuannya beradaptasi. Selamatan pun demikian. Di berbagai tempat, ia mengalami transformasi yaitu skala yang lebih kecil, bentuk yang lebih sederhana, atau bahkan dipadukan dengan konteks kekinian. Yang berubah adalah bentuknya, tetapi nilai dasarnya masih dapat dipertahankan.

Baca Juga: Selasa Pahing: Keberuntungan, Rezeki, karir, Kehidupan Sosial

Merawat Makna di Tengah Perubahan

Di titik ini, penting untuk membedakan antara bentuk dan makna. Jika selamatan hanya dipertahankan sebagai seremonial tanpa pemaknaan, ia memang rentan menjadi beban budaya yang ditinggalkan. Namun jika nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yaitu kebersamaan, kepedulian, dan solidaritas terus dihidupkan, maka selamatan akan tetap relevan, meski dalam wajah yang berbeda.

Persoalannya bukan lagi tentang apakah selamatan bertahan atau tergerus, tetapi bagaimana kita memaknainya di tengah perubahan. Apakah ia akan dibiarkan menjadi ritual kosong, atau justru dijadikan ruang untuk merawat relasi sosial yang kian renggang? Dalam masyarakat yang semakin individual, kebutuhan akan kebersamaan justru semakin besar. Di sinilah selamatan menemukan relevansinya kembali.

Selamatan adalah cermin dari cara kita hidup sebagai komunitas. Ketika ia memudar, yang hilang bukan hanya sebuah tradisi, tetapi juga ruang-ruang perjumpaan yang memungkinkan empati tumbuh. Kita mungkin tidak lagi hidup dalam ritme yang sama seperti masa lalu, tetapi kebutuhan untuk saling terhubung tidak pernah benar-benar hilang.

Baca Juga: Kehidupan Rumah Tangga Dwi Hartono Terungkap, Andreana Wulandari Kabur Usai Suami Jadi Dalang Pembunuhan Kacab BRI

Selamatan, dengan segala perubahan yang menyertainya, berada di persimpangan. Ia bisa tergerus jika dibiarkan kehilangan makna, tetapi juga bisa bertahan jika diberi tafsir baru yang sesuai dengan konteks zaman. Pilihan itu, pada akhirnya, ada pada kita: apakah kita masih bersedia meluangkan waktu untuk duduk bersama, berbagi, dan merawat kebersamaan atau justru membiarkannya perlahan menghilang. Kelak, yang tergerus bukan sekadar selamatan, melainkan kesediaan kita untuk hadir bagi satu sama lain.

Pada akhirnya, selamatan tidak sekadar soal tradisi yang dipertahankan atau ditinggalkan, melainkan tentang cara kita merawat kebersamaan di tengah perubahan zaman. Di saat kehidupan bergerak semakin cepat dan relasi sosial kian ringkas, selamatan mengingatkan bahwa manusia tetap membutuhkan ruang untuk saling hadir, berbagi, dan menguatkan satu sama lain. Oleh karena itu, menjaga selamatan adalah bagian dari upaya menjaga kualitas kemanusiaan kita. Ketika ruang-ruang kebersamaan terus menyempit, yang kita rawat sebenarnya adalah kemampuan untuk tetap terhubung sebagai sesama dalam kehidupan sosial yang sehat dan bermakna.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#perubahan #pola hidup #Ruang Sosial #zaman #kehidupan