Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menjadi Ultraman

Anwar Bahar Basalamah • Minggu, 21 Desember 2025 | 13:17 WIB
Photo
Photo

Sesuai arahan pejabat tertinggi di negeri ini, Pak Lurah Kambali tanpa ragu melarang pejabat atau siapa pun yang datang ke kampungnya untuk melakukan wisata bencana. Maka, sejak empat hari lalu, Pak Lurah Kambali memasang tanda larangan mengambil foto dan video di beberapa lokasi terdampak banjir.

Dibantu Lek No, orang kepercayaannya, spanduk dengan latar hitam itu ditulis besar-besar begini: "DILARANG AMBIL FOTO DAN VIDEO DI TEMPAT INI KECUALI WARTAWAN. INI PERINTAH PRESIDEN".

Sedikitnya ada sepuluh spanduk yang disebar merata. Lek No yang ditugasi itu, menempatkan larangan itu di tempat yang strategis. Salah satu yang paling banyak dipasangi adalah sungai yang dipenuhi potongan kayu dan rumah-rumah warga yang masih terendam tanah.

Semenjak pemasangan spanduk itu, pejabat atau orang yang tidak berkepentingan mulai berkurang jumlahnya untuk sekadar datang dan berfoto-foto saja. Saat ini, mereka yang ingin membantu korban banjir lebih fokus pada pemberian bantuan. Kalaupun ingin berfoto, mereka hanya foto saat menyerahkan donasi.

Pak Lurah Kambali akhirnya bisa bernapas lega. Kampungnya yang tersapu banjir sebulan lalu sedikit demi sedikit terus membaik kondisinya.

Dia tidak repot lagi menyiapkan tetek-bengek pejabat pusat yang ingin berkunjung ke kampung ini. Tugasnya pun semakin ringan. Pak Lurah Kambali kini lebih banyak membantu pemulihan psikologis warganya yang jadi korban banjir. Terutama trauma yang dialami oleh anak-anak.

Untuk mengurus masalah ini, lagi-lagi Pak Lurah Kambali meminta pendapat pamongnya dan Lek No. Siang ini, dia mengumpulkan anak buahnya itu di balai kampung.

"Bapak-bapak semua, kampung kita sudah mengalami ujian berat dengan banjir bandang. Setelah kita mampu mengatasi pemulihan pascabencana, sekarang waktunya kita memulihkan mental anak-anak di kampung ini. Ada yang punya pendapat?"

Pak Lurah Kambali membuka rapat dengan pertanyaan sederhana namun sulit untuk dijabat. Selama hampir dua menit setelah pertanyaan itu dilemparkan, tidak ada satu orang pun yang bisa menjawab.

Pak Kamituwo Supat diam. Begitu pula kamituwo-kamituwo lain. Pak Mukhol selaku ketua RT dan ketua RT lain tampak masih mengunci mulutnya. Lek No pun ikut membisu.

"Apakah tidak ada usulan?" kata Pak Lurah Kambali.

Pertanyaan itu kemudian disambar dengan cepat oleh Pak Kamituwo Supat yang merasa punya ide brilian untuk menyelesaikan pemulihan mental anak-anak di kampung ini.

"Saya ada usulan, Pak."

"Silakan, Pak Kamituwo Supat."

"Menurut saya, ini usulan yang cerdas."

"Katakan saja Pak Kamituwo," celetuk Lek No.

"Sabar Lek. Biarkan Pak Kamituwo Supat mengatakan usulannya," kata Pak Lurah Kambali.

"Usulan saya adalah bagaimana kalau kita hibur anak-anak dengan memakai kostum Power Rangers."

"Hmmm.. hmmmm..." Pak Lurah Kambali belum mengiyakan sambil memikirkan apa maksud dan tujuan Pak Kamituwo Supat mengusulkan cosplay Power Rangers untuk menghibur anak-anak.

"Tidak masuk akal sampean Pak Kamituwo Supat," kata Lek No yang sepertinya tidak setuju dengan cara itu.

"Sampean sekarang boleh mengatakan ini tidak masuk akal, Lek. Tapi, kalau belum kita coba, mana kita tahu."

"Aneh saja, Pak Kamituwo."

"Aneh bagaimana?"

"Kenapa harus Power Rangers? Kenapa tidak Batman, Superman, Ultraman, atau Gatotkaca?"

"Berarti sampean setuju dengan usulan saya, Lek?"

"Saya cuma pengen tahu kenapa Power Rangers?"

"Sampean kan tahu. Bapak-bapak di sini juga tahu, Power Rangers itu kan superhero terkenal dan disenangi anak-anak. Jadi anak-anak pasti senang dengan kehadiran Power Rangers di tengah mereka."

"Kenapa harus Power Rangers?"

"Ya karena Power Rangers hebat."

"Lebih hebat mana dengan Ultraman?"

"Sama hebatnya, Lek."

"Berarti kita datangkan Power Rangers dan Ultraman saja, Pak Kamituwo Supat."

"Boleh."

"Berarti sampean setuju, Lek?" tanya Pak Lurah Kambali yang mendapat anggukan dari pamong-pamong lain.

"Saya setuju kalau semua superhero dan tokoh kartun didatangkan, Pak Lurah. Power Rangers, Ultraman, Superman, Batman, Ninja Hattori, Spiderman, Popeye."

"Kenapa harus semua, Lek?

"Biar anak-anak makin terhibur, Pak Kamituwo Supat."

"Ribet Lek."

"Kenapa ribet?"

"Beli kostumnya dan berapa orang yang harus dipakaikan dengena kostum itu."

"Kalau begitu, saya usulkan cukup Ultraman saja."

"Kenapa begitu?"

"Biar tidak ribet."

"Baiklah."

Pak Kamituwo Supat akhirnya setuju dengan pendapat Lek No. Peserta rapat lain juga mengiyakan. Tandanya mereka sepakat.

Lek No bergegas membeli kostum Ultraman. Dan sesuai kesepakatan, Lek No sendiri yang menjadi Ultraman dan menghibur anak-anak di tenda pengungsian.

Dua jam kemudian, Ultraman itu datang. Dia lantas mengenalkan diri sebagai Power Rangers. Semua kaget. Pak Lurah Kambali kaget. Pak Kamituwo Supat kaget. Pak Mukhol juga kaget.

Mereka kaget karena Ultraman bukanlah Power Rangers. Sejak itu, keabsurdan makin menjadi-jadi. Setelah mengenalkan diri sebagai Power Rangers, Ultraman memakan bayam seperti Popeye. Lalu, memanjat tembok seperti Spiderman. Terbang ke sana kemari seperti Superman dan adegan-adegan absur lainnya.

Selamat hampir satu jam, Lek No mengibur anak-anak itu. Sepanjang pertunjukan itu, mereka terus tertawa melihat aksi lucu Ultraman.

Tapi di satu adegan terakhir, Ultraman menyampaikan pesan mendalam kepada anak-anak. Begini isi pesannya.

"Anak-anakku, Ultraman ini hanya hayalan saja. Yang nyata adalah masa depan kita. Jadi janganlah kalian menjadi Ultraman. Jadilah kalian kelak orang mau yang bertanggung jawab atas kesalahan. Jangan jadi pengecut yang lari dari tanggung jawab setelah melakukan kesalahan dengan merusak alam yang menjadi penyebab bencana banjir ini."

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#wisata bencana #superhero #opini #Ultramen #Lek No