Selama penanganan pascabanjir, Pak Lurah Kambali menugasi Lek No untuk menghitung sudah berapa pejabat pusat yang datang di kampung ini. Yang laki-laki berapa dan yang perempuan juga berapa.
Dalam kegiatan catat-mencatat itu, Lek No diperintah pula untuk merekap lokasi mana yang dikunjungi. Di sana ngapain dan apa yang dijanjikan mereka kepada korban banjir bandang ini.
Kemudian, apa saja yang sudah diberikan dan apa saja yang diobrolkan sepanjang pertemuan itu. Semua harus dibukukan dengan rapi dan tak boleh terlewat satu momen pun.
Semula, Lek No menganggap pekerjaan yang diberikan Pak Lurah Kambali ini tidak ada faedahnya. Toh, aktivitas merangkum kegiatan kunjungan itu bukanlah spesialisnya. Ini lebih tepat jadi urusan para intilejen polisi, tentara atau pemerintah.
Maka, waktu itu Lek No hanya bisa menggerutu, "Aneh-aneh saja, Pak Lurah Kambali ini."
"Buat apa coba catat-catat begini," katanya lagi.
Tapi, semakin ke sini, penugasan mencatat kunjungan pejabat pusat ini kian menemukan benang merahnya. Ternyata, apa yang mereka omongkan di depan warga terdampak banjir hanya pemanis saja. Tidak ada langkah konkret yang bisa dirasakan oleh para korban ini.
Dalam catatan Lek No, misalnya janji yang dilontarkan seorang pejabat pusat seminggu lalu. Saat berdialog dengan warga, dia menjanjikan akan mengganti gerobak dagangan yang hanyut terbawa banjir.
Hingga hari ini, gerobak itu tidak kunjung tiba di tujuannya. Lek No yang mecatatnya dengan lengkap mengulang kembali omongan pejabat itu dan melaporkannya kepada Lurah Kambali.
"IBUK YANG SABAR YA. JADI NANTI RUMAH YANG RUSAK INI AKAN DIBANTU PEMERINTAH. KEMUDIAN GEROBAK DAGANGAN IBUK YANG HILANG, SAYA AKAN GANTI DENGAN UANG PRIBADI. TOLONG SABAR DULU"
"Begitu Pak Lurah, kira-kira janjinya."
"Apakah gerobak bantuan itu sudah datang, Lek?"
"Sampai detik ini, belum ada Pak Lurah."
"Waduh!"
"Kenapa waduh, Pak Lurah?"
"Rupanya, masih banyak warga yang dijanjikan tapi mereka belum tersentuh bantuan."
"Betul. Ini di catatan saya masih ada beberapa janji pejabat pusat yang belum ditunaikan, Pak Lurah."
Sambil membuka buku catatannya, Lek No menyampaikan sekitar dua pekan lalu, ada pejabat pusat yang mengatakan akan mendatangkan dua puluh beko untuk mengeruk lumpur yang menutupi jalan dan halaman sekolah.
Nyatanya, setelah berhari-hari ditunggu, beko yang datang hanya dua unit. Untuk mempercepat pekerjaan, warga akhirnya bergotong-royong menyisihkan lumpur yang sudah mengering menjadi debu itu.
Mereka terus menggelorakan "warga bantu warga" dan "korban bantu korban". Mereka sepertinya tidak ingin bergantung pada pejabat pusat yang hanya bilang saya akan, saya akan.
Baca Juga: Banjir dan Tumbler
Saat mengucapkan janji itu, mereka secara terang-terangan menggunakan mikrofon yang telah disiapkan dengan lantang mengatakan dampak banjir akan diselesaikan segera dan secepatnya.
Di tengah kegelisahan warga itu, hari ini seorang pejabat tinggi di pusat dijadwalkan mengunjungi korban banjir di kampung ini. Sesuai tugas yang telah diamanahkan, Lek No wajib mencatat semua pembicaraan, terutama janji mereka kepada warga.
"Lek, hari ini saya tugaskan lagi untuk merekam semua omongan mereka dan janji mereka," kata Pak Lurah Kambali setelah mendengarkan laporan Lek No perihal janji-janji manis pejabat pusat.
"Siap Pak Lurah."
Waktu yang dinanti pun tiba. Seorang pejabat itu membawa beberapa anak buahnya menemui korban banjir di bawah tenda yang sudah disiapkan pamong dibantu staf pejabat itu.
Di situ, pejabat pusat akan berdialog dengan warga dan mendengarkan keluhan mereka. Pejabat itu seperti biasa menggunakan mikrofon untuk berbicara kepada korban-korban banjir.
Lek No siaga. Dia menyiapkan buku catatannya dan pulpen yang sudah dalam genggaman tangan kanannya. Begitu satu kalimat keluar dari mulut pejabat pusat itu, Lek No bergegas menyalinnya di buku yang ditaruh di atas paha kirinya itu.
Begini yang diomongkan pejabat pusat itu yang dicatat dengan baik oleh Lek No.
"BAPAK DAN IBU TIDAK USAH KHAWATIR. SAYA AKAN MENGERAHKAN SEMUA STRUKTUR DI BAWAH SAYA UNTUK MEMBANYU PENANGANAN BANJIR DI KAMPUNG INI. SAYA AKAN MEMERINTAHKAN PARA TENTARA UNTUK TERJUN LANGSUNG MEMBENAHI RUMAH YANG RUSAK. SAYA JUGA AKAN MENYURUH PARA PEMBANTU PEJABAT UNTUK BEKERJA MAKSIMAL"
Untuk sementara catatan Lek No berhenti di situ. Setelah itu, Lek No malah tertegun begitu janji pejabat itu disambut gegap gempita oleh para korban banjir. Dia sepertinya lupa dengan tugas awalnya mencatat janji pejabat pusat itu.
Sambil melongo, Lek No tak berhenti menatap retorika pejabat pusat itu sambil bercuap-cuap tak ada habisnya. Sementara tangan kanannya sudah tidak memegang pulpen lagi. Buku catatan yang selalu dibawa ke mana-mana ketika pejabat pusat datang, juga diletakkan di atas tanah.
Menit demi menit terlewati. Setelah dialog itu berlangsung lebih dari setengah jam, Lek No sama sekali tidak mencatat lagi janji-janji mereka. Di akhir pertemuan itu, Lek No hanya mengingat ocehan pejabat itu yang mengatakan semua warga harus bersabar dan kuat.
Ketika Pak Lurah Kambali meminta laporan padanya, Lek No tak bisa berbuat apa-apa.
"Gimana laporannya, Lek?"
"Waduh saya lupa tidak semua, Pak Lurah."
"Loh kok bisa Lek?"
"Saya hari ini hanya melongo saja, Pak."
"Tumben-tumbenan sampean tertegun begitu, Lek."
"Saya terbawa suasana, Pak."
"Terus laporannya apa ini, Lek, selain catatan di awal ini?"
"Yang saya laporkan, Pak. Pejabat ini senyum-senyum seperti tidak ada perusahaan sedih sama sekali, Pak. Dia juga mengenalkan semua stafnya beserta pangkat-pangkatnya, Pak."
"Itu laporan tidak penting, Lek No!"
"Tapi cuma itu yang saya lihat dan simpulkan, Pak."
Pak Lurah Kambali seketika meninggalkan Lek No tanpa berkata-kata lagi. Sementara Lek No terus menghapal nama-nama staf pejabat pusat itu yang dikenalkan kepada warga.
"Petkol Edy, Petkol Edy, Petkol Edy," kata Lek No yang salah mengucap Letkol menjadi Petkol.
Editor : Anwar Bahar Basalamah