JP Radar Kediri - Di era kedokteran modern yang dipenuhi oleh penemuan obat dan teknologi canggih, siapa sangka bahwa senjata rahasia seorang dokter bukanlah elemen tersebut, melainkan kata- kata sederhana yang dapat menyembuhkan? Tapi, apakah para dokter masih menerapkannya? Monica dan Suzana (2023) menemukan bahwa 63,8% pengguna BPJS di Puskesmas Tanah Kampung menilai komunikasi dokter masih kurang memuaskan. Di balik inovasi, kita sering melupakan komunikasi terapeutik sebagai fondasi penyembuhan.
Bayangkan seorang pasien datang dengan keluhan fisik sederhana, tetapi dibaliknya terdapat keluhan jiwa yang tersembunyi. Jika dokter hanya fokus pada pemeriksaan fisik tanpa membangun empati, maka pasien akan pulang dengan kekecewaan dan keraguan terhadap pengobatannya. Sayangnya, masih banyak dokter yang mengabaikan pentingnya komunikasi terapeutik dalam penyembuhan.
Dalam menangani setiap pasien, penting bagi dokter untuk memperhatikan komunikasi terapeutik. World Health Organization (WHO) mendefinisikan komunikasi terapeutik sebagai bentuk interaksi professional untuk meningkatkan kesejahteraan pasien. Pendekatan ini dilakukan melalui empati, dukungan emosional, serta pemahaman terhadap kebutuhan individu pasien. Komunikasi terapeutik menjadi penting karena kepuasan pasien merupakan indikator utama keberhasilan layanan kesehatan yang dapat mendorong pasien untuk kembali melakukan pengobatan.
Studi Epstein (2021) pada pasien kanker menunjukkan komunikasi terapeutik mengurangi kecemasan hingga 40% dan meningkatkan kelangsungan hidup 15-20% melalui kepatuhan terapi. Temuan tersebut membuktikan bahwa keberhasilan komunikasi terapeutik bergantung pada kualitas hubungan antara dokter dan pasien.
Maka dari itu, komunikasi yang menumbuhkan rasa saling percaya haruslah dicapai terlebih dahulu sebelum menggali permasalahan. Melalui rasa saling menjaga dan menghargai, maka akan tumbuh rasa saling percaya antara dokter dengan pasien.
Tak hanya pada pasien, seorang dokter juga perlu untuk membangun komunikasi terapeutik antarprofesi yang baik. Penyembuhan sejati tak akan tercapai tanpa adanya kerja sama yang selaras. Dalam pelayanan kesehatan, dokter tidak pernah bekerja sendirian. Terdapat perawat, apoteker, ahli gizi, dan tenaga medis lain yang memiliki peran penting dalam proses penyembuhan pasien.
Penelitian tentang komunikasi selama pandemi menemukan bahwa pengarahan tim yang efektif mengurangi kesalahan prosedur hingga 50% di unit perawatan intensif (Lingard dkk., 2022). Apabila komunikasi antarprofesi buruk, maka akan terjadi konflik dan kesalahpahaman yang menghambat pelayanan kesehatan.
Dalam praktiknya, penerapan komunikasi terapeutik menghadapi banyak tantangan seperti adanya perbedaan budaya, keterbatasan waktu konsultasi, hingga komunikasi yang hanya berjalan satu arah. Manakala kondisi ini dibiarkan, tantangan tersebut dapat mengantarkan pasien pada pengobatan yang tidak efektif. Pasien akan merasa kurang nyaman dan ragu dalam menyampaikan keluhan hingga beresiko menimbulkan kesalahan dalam mendiagnosis.
Perbedaan bahasa dan nilai budaya acap kali menimbulkan kebingungan dan jarak emosional yang dapat menghambat proses penyembuhan. Namun, di sinilah saatnya komunikasi nonverbal berperan sebagai alat untuk mengatasi perbedaan budaya dengan empati dan adaptasi. Dalam kondisi ini, komunikasi nonverbal seperti senyuman atau gerak tubuh yang menenangkan dapat menjadi jembatan untuk menciptakan rasa aman.
Tantangan tersebut semakin terlihat jelas pada saat pandemi COVID-19. Peristiwa ini nyaris membuat komunikasi terapeutik terhenti. Pandemi COVID-19 memperlihatkan bahwa
komunikasi terapeutik tidak hanya diuji oleh faktor manusia, tetapi juga oleh sistem dan situasi kritis. Sentuhan tangan, tatapan mata, dan senyuman yang seharusnya menjadi bahasa universal empati, justru terputus dengan hadirnya batasan jarak.
Pembatasan fisik, penggunaan alat pelindung diri, hingga layanan daring membuat interaksi antara dokter dan pasien menjadi berjarak. Dokter tak lagi dapat menepuk bahu pasien dengan senyuman hangat yang menenangkan. Komunikasi yang sebelumnya hangat, terpaksa berubah menjadi prosedural dan singkat. Pandemi COVID-19 memanglah memberi kesempatan untuk memanfaatkan inovasi konsultasi. Namun, hal ini membatasi penerapan komunikasi nonverbal antara dokter dengan pasien.
Setelah pandemi usai, dokter harus menegaskan kembali makna komunikasi terapeutik melalui hubungan awal yang tulus dengan pasien baru. Membangun hubungan awal dengan pasien baru adalah langkah krusial. Tidak seharusnya seorang dokter memulai percakapan dengan kalimat yang menegangkan dan menggunakan istilah medis yang membingungkan.
Langkah sederhana seperti menyapa dengan hangat, menggunakan bahasa yang jelas, serta memberi waktu sejenak untuk mendengar keluhan dapat membuat pasien merasa dihargai. Keberhasilan proses penyembuhan sangat bergantung pada kemampuan praktisi kesehatan dalam menyampaikan informasi dengan akurat, empatik, dan mudah dipahami.
Selain untuk pasien, komunikasi terapeutik juga memberikan nilai besar bagi dokter. Di tengah tingginya risiko burnout, komunikasi terapeutik ibarat baterai yang membantu memulihkan energi sekaligus membuat profesi ini lebih berkelanjutan. Penelitian Sara (2017) menunjukkan bahwa dokter dengan keterampilan komunikasi yang baik memiliki tingkat burnout 40% lebih rendah. Hasil tersebut berpotensi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kinerja dokter.
Oleh karena itu, interaksi antara dokter dan pasien harus menjadi fokus utama dalam sistem layanan kesehatan. Tantangan globalisasi dan teknologi bukanlah sebuah dinding yang tak dapat ditembus, melainkan sebuah kesempatan emas bagi para dokter untuk memaksimalkan penerapan komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik yang baik dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan dengan menempatkan pasien sebagai pusat komunikasi.
Tantangan ini harus diatasi dengan solusi realistis untuk diimplementasikan. Permasalahan sistem layanan kesehatan yang terlalu bergantung pada teknologi dan mengabaikan komunikasi harus diimbangi dengan aksi nyata, bukan sekadar retorika. Kementerian Kesehatan harus menetapkan standar waktu konsultasi yang efektif untuk berkomunikasi sehingga memungkinkan dokter dan pasien untuk berdialog secara mendalam.
Kebijakan ini dapat didukung dengan adanya insentif bagi rumah sakit yang menerapkan komunikasi terapeutik dengan baik. Langkah berikutnya yang dapat dilakukan adalah memastikan pelatihan komunikasi terapeutik dilakukan secara intensif bagi dokter dan tenaga kesehatan. Sebuah studi oleh Sany dkk.
(2020) yang melibatkan 35 dokter dan 240 pasien hipertensi menunjukkan bahwa dokter yang menerima pelatihan komunikasi mengalami peningkatan terukur dalam keterampilan komunikasi setelah 6 bulan. Temuan ini menjadi pengingat bahwa upaya peningkatan komunikasi harus diikuti dengan perubahan praktik di lapangan.
Inilah saatnya layanan kesehatan kembali pada hakikatnya, yaitu menyembuhkan lewat dialog manusiawi. Dokter dapat memulai dengan menambah beberapa menit untuk benar-benar mendengar, bukan sekadar memeriksa. Institusi kesehatan perlu memastikan pelatihan komunikasi terapeutik menjadi budaya, bukan formalitas.
Masyarakat pun harus turut berperan melalui apresiasi dan keterbukaan saat berinteraksi dengan tenaga medis. Bersama, kita dapat membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi dan efektif. (Almas Najma Alayya, penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga)
Editor : Anwar Bahar Basalamah