Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Banjir dan Tumbler

Anwar Bahar Basalamah • Minggu, 30 November 2025 | 06:06 WIB
Photo
Photo

Hujan yang sudah berlangsung dua jam, belum ditambah yang semalam, mengguyur deras kampung ini pagi ini. Sinyal kewaspadaan kedatangan banjir mulai dinyalakan keras-keras.Lek No, yang mendapat perintah dari Pak Lurah Kambali, bergegas pergi ke pos ronda untuk memukul kentongan empat kali berulang-ulang. Itu untuk menandakan air bah sebentar lagi tak bisa dihadang.

Tanda-tandanya jelas. Hujan belum tampak reda meski angin kencang tak seganas seperti tadi malam. Lek No yang bolak-balik mengintip debit sungai melaporkan bahwa air berwarna cokelat itu terus merangkak naik.

Jalanan kampung terendam. Beberapa rumah warga yang posisinya lebih rendah, sudah kemasukan air di ruang tamunya. Sebagian dari mereka berjaga-jaga di depan rumah untuk mengantisipasi kedatangan banjir yang tiba-tiba.

Di saat suara kentongan terdengar berbunyi bersaut-sautan, air warna cokelat itu terlihat semakin mendekat. Air bercampur kayu, batu, kerikil, sampah dan barang-barang lain yang belum teridentifikasi seluruhnya itu bergulung dan menerjang apa saja yang dilewatinya.

Seluruh warga di kampung ini selamat berkat peringatan dini yang diberikan oleh Pak Lurah Kambali. Hanya saja, rumah mereka tak luput digempur air yang datang dari sungai yang meluap.

Selaku pemimpin yang tanggap, Pak Lurah Kambali segera menetapkan musibah tersebut sebagai Darurat Bencana Kampung. Dia memberi arahan kepada bawahannya untuk mencatat semua barang-barang warga yang hilang terbawa air. 

Pak Lurah Kambali berjanji barang milik warga yang amblas, bisa kembali lagi dalam kondisi bagus atau rusak. Tidak hanya itu. Pak Lurah Kambali bereaksi dengan cepat mencari penyebab banjir yang tercatat baru pertama kali terjadi di kampung ini.

Satu per satu pamong diamanahi tugas masing-masing.

"Semua Kamituwo, dipimpin Pak Supat, segera laporkan apa saja yang dibutuhkan warga."

"Semua ketua RT di bawah koordinasi Pak Mukhol, cari apa penyebab banjir kali ini."

Semua serempak mengatakan,"Siap."

"Terus, tugas saya apa, Pak Lurah?" kata Lek No yang ingin ikut andil dalam penanganan pascabanjir.

"Sampean, tolong data barang-barang warga yang hilang."

Perintah sudah diberikan. Pak Lurah yang tetap turun tangan, akhirnya ikut membantu Lek No mendaftar barang atau perabotan rumah warga yang hanyut.

Dalam waktu tak kurang dari tiga jam, bertempat di balai kampung, mereka kemudian melaporkan hasil dari perintah Pak Lurah Kambali. Laporan dimulai dari Pak Kamituwo Supat.

"Saya sudah data semua kebutuhan warga, Pak Lurah."

"Baik Pak Supat. Apa saja yang dibutuhkan mereka?"

"Yang pertama beras, makanan ringan, minuman, obat-obatan, peralatan mandi dan bisa ditambah selimut, Pak Lurah."

"Baik Pak Supat. Sudah saya catat. Silakan berikutnya Pak Mukhol," kata Pak Lurah Kambali sambil menyeruput kopi hitamnya yang mulai dingin.

"Saya belum tahu persis apa penyebabnya, Pak Lurah."

"Terus apa temuannya, Pak Mukhol?"

"Yang kami temukan, banyak potongan kayu ikut terseret banjir. Kami juga menemukan sampah-sampah yang memenuhi sungai di kampung kita, Pak Lurah."

"Kenapa banyak potongan kayu, Pak Mukhol?"

"Kemungkinan besar, hutan di atas kampung kita sudah dibabat habis, Pak."

"Waduh celaka ini?"

"Celaka gimana, Pak Lurah?" 

Lek No menyahut dengan pertanyaan yang dangkal tapi penting.

"Celaka, kalau hujan lagi, ya banjir lagi, Lek."

"Berarti ya jangan gundul, Pak," kata Lek No, polos.

"Jangan gundul gimana to sampean itu. Saya bisa apa kalau soal gundul menggundul."

"Loh, sampean kan Pak Lurah, pemimpin kita."

"Masalahnya, Lek. Orang yang gundulin hutan itu, orang-orang besar."

"Pak Lurah bukan orang besar?"

"Bukan."

Pak Lurah Kambali sewot. Lek No dengan kepolosonnya memberondong dengan pertanyaan yang semua orang mengerti apa maksud orang besar itu. 

"Memangnya siapa orang besar itu, Pak Lurah?" tanya Lek No.

"Orang besar itu, orang yang menguasai hajat hidup kita. Mereka yang berkuasa dan kekuasaannya lebih dari sekadar seorang kepala desa, Lek."

"O begitu. Kita nggak bisa lawan mereka?"

"Nggak."

Jawaban singkat dari Pak Lurah Kambali mendapat anggukan dari pamong-pamong lainnya. Mereka seolah setuju, tidak ada yang berani melawan kekuasaan para penguasa hutan itu.

Laporan dari pak Mukhol pun dilanjutkan lagi.

"Bagaimana dengan sampah-sampah yang di sungai, Pak Mukhol?" 

"Oh ya Pak Lurah. Kami menemukan banyak sampah rumah tangga yang dibuang di sungai. Ada popok, plastik, sisa makanan dan tumbler, Pak."

"Waduh celaka."

"Ya begitulah kira-kira, Pak Lurah."

"Tapi, kenapa ada tumbler juga ya?"

"Itu yang saya kurang paham."

"Apa warga di kampung kita tidak butuh thumbler?"

"Barangkali begitu, Pak."

"Apakah semua tumbler itu kondisinya rusak, Pak Mukhol?"

"Kondisinya bagus, Pak Lurah. Dan sebagian saya amankan."

"Ada berapa yang diamankan dan kondisinya masih bagus?"

"Ada sepuluh, Pak Lurah."

"Kalau begitu, dua buah kita serahkan ke Jeng Enol. Karena tadi ketika saya dan Lek No mendata, Jeng Enol kehilangan tumbler punya anaknya."

"Boleh."

"Terus yang delapan sisanya, kita serahkan siapa?"

Semua pamong dan Lek No diam. Tak ada jawaban mengalir dari mulut mereka. Sepertinya mereka juga bingung mau diapakan delapan thumbler yang ditemukan Pak Mukhol.

"Baiklah kalau tidak ada jawaban, lebih baik kita serahkan kepada orang yang membutuhkan saja."

"Memangnya siapa yang membutuhkan termos itu, Pak Lurah?" tanya Lek No.

"Bukan termos, Lek. Tapi tumbler. Ya siapa saja yang butuh, Lek."

"Warga kita kan tidak butuh termos, eh, maksudnya tumbler. Buktinya tumbler itu dibuang ke sungai."

"Betul juga ya."

Di tengah kebingungan akan diserahkan kepada siapa tumbler itu, diam-diam Pak Lurah Kambali membuka sebuah artikel berita di HP-nya. Bahwa ada seorang perempuan muda di Ibu Kota yang kehilangan tumbler seharga tiga ratus ribu setelah tertinggal di kereta api.

"Siapa tahu dia butuh. Daripada di kampung ini jadi sampah," pikir Pak Lurah Kambali dalam hati.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#banjir #banjir bandang #opini #tumblr #Lek No