Yel-yel “Tepuk Sakinah” memang tengah jadi perbincangan dalam beberapa hari terakhir. Setiap pasangan yang hendak ke jenjang pernikahan akan diajak menyanyikannya. Utamanya saat bimbingan kawin (pra-nikah) di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat.
Nantinya setiap pasangan diminta bertepuk tangan sambil melafalkan doa-doa yang menyimbolkan harapan keluarga harmonis, sakinah, mawaddah, warahmah.
Keberadaan “Tepuk Sakinah” yang berseliweran di lini masa media sosial mendapatkan beragam respons. Mayoritas mereka menjadikan tepuk sakinah sebagai bahan lelucon.
Kalimatnya yang sederhana dan mudah dihafal pun membuat semua kalangan usia bisa mengikutinya. Baik yang sudah menikah, akan menikah, atau yang belum berencana ke jenjang pernikahan.
Tentu upaya ini patut diapresiasi. Kreativitas yang bisa membuat bimbingan perkawinan lebih seru dan mudah diterima pasangan muda- mudi.
Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar adalah sejauh mana "Tepuk Sakinah" mampu menyelesaikan realita persoalan di rumah tangga.
Khawatirnya simbol dan permainan seperti ini bisa memberi efek emosional positif sesaat. Yang menjadikan "tepuk Sakinah" sebagai solusi konkret keluarga. Padahal tanpa bukti ilmiah justru berisiko membuat publik terjebak dalam ilusi rumah tangga yang harmonis.
Pertanyaan pentingnya, apakah cukup menepuk tangan untuk meraih sakinah, atau justru kita butuh pendekatan yang lebih substansial, berbasis riset, dan menyentuh akar masalah rumah tangga?
Ini yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Agar mereka yang belum menikah tak terjebak dalam ilusi harmonis yang muncul dari tepuk sakinah.
Respon positifnya Tepuk Sakinah memang diharapkan menjadi media efektif untuk menumbuhkan kesadaran bagi pengantin atau calon pengantin untuk membangun fondasi keluarga sakinah. Mencakup prinsip keadilan, keseimbangan, dan kesalingan.
Namun di lain sisi, para generasi z pun bertanya-tanya. Apakah semenakutkan itu pernikahan sampai harus ada tepuk sakinah.
Mereka pun ramai membuat konten di media sosial. Bahkan mereka menyebut tepuk sakinah sebagai salah satu alasan menunda pernikahan.
Tak jarang dari mereka merubah liriknya. Itu agar mereka tak terjebak dalam lirik yang seolah-olah semua permasalahan rumah tangga bisa diselesaikan hanya dengan tepuk sakinah.
Padahal realitanya angka perceraian masih cukup tinggi. Banyak dari mereka yang merasa takut akan kegagalan dalam pernikahan tersebut.
Apalagi Gen Z yang tumbuh di lingkungan dengan tingkat perceraian tinggi menjadi saksi bagaimana hubungan yang tidak sehat berdampak pada kehidupan anak dan keluarga. Hal ini melatarbelakangi mereka lebih skeptis terhadap institusi pernikahan.
Sehingga memilih membangun kestabilan diri dahulu sebelum mengambil keputusan besar seperti menikah.
Orientasi hidup pun telah bergeser dibanding generasi sebelumnya. Banyak dari mereka gen z yang lebih fokus pada pengembangan karier, pendidikan, traveling, atau mengejar passion.
Terakhir dengan adanya tepuk sakinah ini mampu membuka pandangan para generasi Z bahwa dengan fondasi yang kokoh pernikahan tidak semenyeramkan itu.
Sehingga perlahan mereka bisa mewujudkan mimpinya untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah secara nyata. Bukan hanya ilusi semata.
Editor : Andhika Attar Anindita