Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Korupsi Sudah Menjelma Jadi Tradisi

Andhika Attar Anindita • Minggu, 14 September 2025 | 00:00 WIB
Ilustrasi korupsi
Ilustrasi korupsi

Korupsi di Indonesia sudah melampaui batas. Korupsi tidak lagi sekadar tindak pidana. Ia telah menjelma menjadi tradisi.

Menjadi sebuah kebiasaan yang di bawah alam sadar akhirnya kita semua mengamini. Dari tingkat bawah hingga teratas.

Kita tidak lagi hidup di negara yang kaget saat pejabat ditangkap karena korupsi. Justru kita terkejut kalau ada yang benar-benar bersih. Karena praktik korupsi di negeri ini bukan sekadar tindakan individu.

Ia adalah hasil dari sistem yang cacat sejak awal. Politik transaksional, birokrasi yang berbelit, sistem hukum yang tambal sulam, dan masyarakat yang terlalu sering dipaksa pasrah.

Banyak dari kita tahu bahwa untuk bisa menduduki jabatan bergengsi. Seseorang perlu modal yang tidak sedikit. Uang itu entah dari mana datangnya. Bisa jadi investor, sponsor politik, atau kadang dari utang pribadi yang tentu harus dikembalikan.

Setelah terpilih, jangan heran jika yang pertama dikejar adalah proyek, fee, dan jatah dari rekanan. Bukan pembangunan, bukan reformasi birokrasi.

Lebih menyedihkan lagi, praktik semacam ini dianggap wajar. Sudah jadi rahasia umum. Korupsi bukan lagi sekadar urusan amplop di bawah meja. Ia menyusup ke segala lini.

Dari berjubah elite sampai barkaus kumal yang melakukan pungutan liar di jalanan. Semua ada perannya masing-masing dalam ekosistem yang sudah sangat matang ini.

Korupsi di Indonesia bukan kecelakaan. Ia adalah bagian dari sistem. Ia dibangun, dijaga, dan diwariskan. Semua tahu, semua paham cara mainnya.

Tapi semua pura-pura tidak tahu. Sialnya, praktik korupsi sudah begitu masif dan sistemik. Sehingga banyak yang tak lagi menganggapnya sebagai dosa.

Seseorang menyogok agar anaknya diterima di sekolah favorit. Warga memberi uang rokok agar izin cepat keluar.

Kontraktor setor ke pejabat agar proyeknya aman. Semua dijalankan dengan bahasa yang sopan. Dibalut budaya timur yang katanya penuh unggah-ungguh. Padahal esensinya sama.

Tentu, kita bisa menyalahkan banyak hal. Tapi pada titik tertentu, kita juga harus jujur: rakyat pun ikut berkontribusi dalam menjadikan korupsi sebagai budaya. Korupsi bukan sekadar urusan uang.

Ia merusak kepercayaan. Ia membuat anak-anak muda muak pada politik. Ia menciptakan generasi apatis, yang sejak dini sudah belajar bahwa kejujuran adalah kekalahan.

Korupsi di Indonesia bukan lagi sekadar kejahatan. Ia adalah kenyataan sosial. Sebuah realitas yang kita tahu busuk.

Tapi terlalu akrab untuk kita tolak sepenuhnya. Seperti kebiasaan buruk yang sudah terlanjur jadi budaya.

Ia hanya akan berubah jika ada yang cukup berani untuk menghentikannya. Bukan sekadar lewat pidato atau baliho kampanye. Tapi lewat tindakan nyata.

Hampir semua kalangan masyarakat melakukan atau setidaknya bersinggungan dengan praktik korupsi. Bedanya cuma seberapa besar dan banyak uang atau jumlah korupsinya.

Namun di luar itu semua, intinya tetap sama. Besar atau kecil akan tetap menjadi sebuah kebiasaan.

Korupsi telah mendarah daging di masyarakat kita. Korupsi telah menjadi sebuah tradisi. Disadari atau tidak, praktik tersebut sangat dekat dengan kita.

Sangat tidak kaget korupsi tumbuh subur di Tanah Air. Dari mereka yang tidak percaya agama hingga para ulama kondang tergiur dengan praktik rasuah. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#politik #opini #korupsi #tradisi