Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Permainan Harga Beras, Rakyat Jadi Korban

Emilia Susanti • Selasa, 12 Agustus 2025 | 01:40 WIB

 

Permainan Harga Beras, Rakyat Jadi Korban
Permainan Harga Beras, Rakyat Jadi Korban

Lagi-lagi rakyat telah ditipu. Jika sebelumnya Pertamax, kini ada beras oplosan. Yang katanya premium ternyata medium. Entah siapa pelakunya. Pun apa penyebabnya. Toh harganya tak kembali ke harga eceran tertinggi (HET).

Akhir-akhir ini, beras menjadi tajuk utama di media massa. Lalu, media sosial turut meramaikannya. Informasi yang beredar, telah terjadi pengoplosan beras. Harusnya sih masuk katogeri medium. Namun ada pihak-pihak yang melabelinya premium.

Jika menulusuri awal mula perkara ini, semua dimulai ketika ada kenaikan harga beras di pasar. Khususnya beras premium. Bila melihat data di Kota Kediri, harga beras premium mengalami kenaikan sekitar satu bulan ini. Atau pada akhir bulan Juni kemarin.

Kendati demikian, ada yang sebetulnya luput dari pengamatan. Ternyata, sejak awal tahun, harga beras medium sudah terlebih dahulu dijual di atas HET. Hanya saya, semua orang seakan-akan tutup mata. Pemerintah pun begitu. Tak ada tindakan yang berarti.

Tentu saja alasannya banyak. Alasan klasiknya karena adanya kenaikan permintaan. Memang betul situasi ini benar-benar terjadi di momen tertentu seperti hari raya Idul Fitri. Namun, apa yang membuat harga tak pernah bisa kembali ke HET ketika momen tersebut sudah berlalu?

Oh mungkin karena masa panen padi. Intinya, saat belum memasuki masa panen, persediaan beras menjadi terbatas. Sehingga membuat harga terkerek naik. Anehnya, pemerintah selalu mengatakan pasokan beras aman. Pun tak ada masalah dalam distribusi. Lantas, apa yang menyebabkan harga masih di atas HET?

Rasanya, pemerintah belum hadir di semester pertama tahun ini. Buktinya, harga beras tak pernah sesuai HET dan malah diatasnya. Tapi mungkin alasannya karena kenaikan harganya tidak terlalu besar. Alias dalam batas wajar. Yang secara persentase, belum membutuhkan suatu intervensi.

Kalau dipikir-pikir, semua alasan itu masuk akal. Dan memang begitu adanya. Bahkan dalam teori ekonomi pun bakal ada yang namanya titik ekulibrium baru. Atau titik keseimbangan harga yang baru.

Singaktnya, HET boleh dianggap sebagai harga keseimbangan. Yang mana, memang sudah saatnya titik keseimbangan harga itu bergeser. Mungkin saja menjadi Rp 12,7 ribu, Rp 13 ribu, bahkan  bisa jadi Rp 14 ribu.

Yang jelas, penentuan HET tidak boleh asal. Harus benar-benar melihat kondisi permintaan dan penawaran. Tentu juga melihat ongkos produksi hingga kemampuan daya beli masyarakat. Mau tak mau, rakyat harus menerima HET yang baru nantinya.

Yang jadi aneh, kenapa kenaikan harga beras premium benar-benar mendapat tanggapan cepat dari pemerintah. Tidak adil bukan. Padahal harga beras medium sudah di atas HET sejak awal tahun. Kenapa harga beras premiun yang baru naik dalam kurun waktu satu bulan ini begitu menggelitik pemerintah?

Belum berakhir keganjalan ini, tiba-tiba pemerintah mengumumkan ada beras oplosan. Sebuah kabar yang seakan-akan menjadi titik terang atas fenomena kenaikan harga beras selama ini. Padahal, beras oplosan dan kenaikan harga beras seharusnya tidak berkaitan.

Kata yang lebih tepat sepertinya adalah permainan harga. Ya karena ada pihak-pihak yang ingin dapat untung besar saja. Bukan karena ada persoalan permintaan dan penawaran di pasar seperti yang diterangkan di ilmu ekonomi.

Kendati demikian, harga beras sudah terlanjur naik. Bahasa ekonominya inflasi. Dan saat sudah berada di situasi yang sekarang, kecil kemungkinan harga akan kembali turun. Alias tak akan kembali ke HET.

Mungkin, pemerintah sedang mencari momen yang tepat untuk menetapkan HET yang baru. Ujung-ujungnya, tetap rakyat korbannya. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Andhika Attar Anindita
#opini #beras