Ucapan Pak Kamituwo Supat yang direkam oleh Dirjo jadi buah bibir orang-orang di Dusun Megol. Video berdurasi satu menit itu membikin panas kuping warga yang menontonnya. Termasuk, salah satu yang tersinggung adalah Lek No.
Di video itu, Pak Kamituwo Supat memang tidak terang-terangan menyebut kata penghinaan. Tapi, Pak Kamituwo Supat secara eksplisit sudah menantang warganya untuk menggeruduk rumahnya di siang hari selepas Dzuhur.
Jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Seperti yang terucap dalam video, Pak Kamituwo Supat mengatakan,"Kalau masih protes soal kenaikan iuran Agustusan, silakan geruduk rumah saya. Seribu orang, saya ladeni."
INFORMASI PENDAFTARAN KOMPETISI KOMPETENSI AKADEMIK 2025
Apa itu kompetisi kempetensi akademik? Baca di sini
Daftar di link berikut: https://rkomnibus.com/
Contac person: 0813-3563-2111 (heri)
Tantangan itu tentu saja memantik Lek No dan warga lain untuk mendemo Pak Kamituwo Supat di kediamannya. Mereka ingin membungkam kecongkakan Pak Kamituwo Supat sekaligus mendesak iuran Agustusan diturunkan.
Persoalan tantang-menantang itu memang bermula dari rencana Pak Kamituwo Supat yang menetapkan iuran Agustusan di Dusun Megol untuk setiap KK. Jika tahun lalu, pamong hanya menarik 30 ribu per KK, di tahun ini iuran naik menjadi 100 ribu setiap KK-nya.
"Tidak masuk akal."
"Gendeng."
"Ugal-ugalan kenaikannya."
"Rakus."
"Makan tuh iuran."
Begitu komentar warga usai menerima surat edaran dari Pak Kamituwo Supat yang diantarkan oleh Dirjo. Di tahun ini, Dirjo tidak hanya jadi pemanis di kepanitiaan Agustusan.
Berkat ketulusannya, Pak Kamituwo Supat menunjuk Dirjo menjadi ketua panitia Agustusan Dusun Megol. Di kepanitiaan ini, Dirjo juga merangkap sebagai pengumpul iuran warga.
Dia mendatangi satu per satu rumah warga untuk menagih iuran. Sebagain besar, warga Dusun Megol menolak kenaikan iuran Agustusan. Karena itu, mereka berencana untuk memprotes kebijakan Pak Kamituwo Supat yang dinilai memberatkan.
Pesan menohok itu dititipkan lewat Dirjo agar disampaikan kepada Pak Kamituwo Supat.
"Mereka rata-rata menolak kenaikan iuran Pak," kata Dirjo saat memberikan laporan kepada Pak Kamituwo Supat.
"Apa alasan mereka menolak, Jo?"
"Katanya, terlalu mahal Pak. Katanya, saat ini kondisinya sulit. Apa-apa mahal,"
"Tapi, apa sudah kamu sampaikan iuran seratus ribu itu untuk apa saja?"
"Sudah Pak. Sudah saya sampaikan."
"Iuran itu kan untuk kesuksesan Agustusan di dusun kita. Kita jangan kalah dengan kemeriahan Agustusan dari dusun lain."
"Siap Pak, saya mengerti."
"Pancen susah warga kita mau dibikin maju."
"Siap Pak."
"Maunya acara Agustusan yang biasa-biasa saja," gerutu Pak Kamituwo Supat.
"Siap Pak."
"Jangan cuma siap-siap aja kamu, Jo."
"Sia.. maksudnya apa yang harus kita lakukan dengan penolakan warga, Pak? Apalagi mereka berencana mendemo kita, Pak?"
"Mendemo?"
"Iya Pak. Betul Pak."
"Baiklah. Kalau begitu, saya akan membuat pernyataan dan tolong kamu rekam omongan saya dengan video. Setelah itu sebarkan ke semua warga lewat grup WA dan japri."
Sebenarnya, Pak Kamituwo Supat sudah mengukur statementnya. Tantangan untuk mendatangkan sebanyak seribu orang dari Dusun Megol adalah sesuatu yang mustahil.
Pak Kamituwo Supat sudah menghitung. Jumlah warganya memang kurang lebih ada seribu jiwa. Tapi, tidak semua warga berusia dewasa. Sebagian masih anak-anak dan lansia.
Dengan begitu, tidak mungkin mereka datang sebanyak seribu orang bersama balita, anak-anak dan orang sepuh.
Baca Juga: Di Balik Potongan Tarif 19 Persen, ketika Privasi Dijadikan Uang Receh.
"Tidak mungkin mereka bisa mendatangkan seribu orang, Jo."
"Begitu ya Pak?"
"Iya. Ini hanya gertak sambal saja."
Perhitungan Pak Kamituwo Supat dalam tantangannya memang jitu. Lek No yang semula berapi-api ingin berdemo mulai garuk-garuk kepala mencari massa sebanyak seribu orang.
Saat ini, baru terkumpul 250 orang yang siap berdemo. Di tengah rasa putus asa itu, Pak Mukhol meminta Lek No untuk membatalkan aksi di depan rumah Pak Kamituwo Supat.
"Sudahlah Lek, batalkan saja."
"Tidak bisa, Pak."
"Susah Lek cari seribu orang."
"Iya sih. Tapi saya tidak mau menyerah, Pak."
"Bagaimana caranya, Lek?"
"Saya belum tahu juga, Pak."
"Makanya lebih baik, kita temui saja Pak Kamituwo, Lek."
"Tapi, Pak Kamituwo Supat sudah menantang warga Pak. Jadi harus kita layani tantangannya."
Pak Mukhol sepertinya menyerah untuk membujuk Lek No. Meski belum punya jalan keluar, bapaknya Danantara Mugi Langgeng itu tetap bersikukuh untuk berdemo dengan jumlah seribu orang bagaimana pun caranya.
Waktu sebentar lagi memasuki azan Dzuhur.
Massa mulai mendatangi rumah Pak Kamituwo Supat. Tapi, sesuai perkiraan Lek No, jumlahnya tidak sampai tiga ratus orang.
Di siang itu, Lek No yang mengompori warga untuk berdemo justru belum terlihat batang hidungnya. Semua pendemo bingung, di mana keberadaan Lek No.
Hampir sepuluh menit ditunggu selepas azan Dzuhur, Lek No belum juga muncul. Sampai akhirnya iring-iringan sound horeg datang mendekat di rumah Pak Kamituwo Supat.
Di tengah iring-iringan itu, Lek No mulai tampak dan memberikan woro-woro kepada warga.
"Silakan datang, silakan datang, silakan datang di rumah Pak Kamituwo. Kita protes kenaikan iuran Agustusan," teriak Lek No yang berdiri di atas truk sound horeg.
Tak dinyana. Ajakan Lek No ternyata membuat warga yang semula enggan untuk berdemo, akhirnya memutuskan mendatangi rumah Pak Kamituwo Supat.
Apalagi ketertarikan warga tidak hanya soal protes kenaikan iuran Agustusan. Mereka juga ingin memprotes Pak Kamituwo Supat yang mendatangkan sound horeg di rumahnya.
Warga merasa terganggu dengan suara sound horeg yang memekakkan telinga itu. Rupanya, mereka tidak tahu, iring-iringan sound horeg itu didatangkan oleh Lek No. Tapi, di bagian bak truk, Lek No menuliskan, "Sound horeg ini datang atas permintaan Pak Kamituwo Supat"
Akhirnya, di depan rumahnya, Pak Kamituwo Supat didemo sebanyak seribu orang warganya karena iuran Agustusan dan sound horeg.
"Pancen asemmm Lek No," kata Pak Kamituwo Supat dengan wajah tersungut-sungut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah