Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Flare dan Sepak Bola, Meriah namun Berbahaya

Wahyu Adji Febrianto • Rabu, 4 Juni 2025 | 12:52 WIB
Ilustrasi flare.
Ilustrasi flare.

Dalam sebuah pertandingan sepak bola, kehadiran flare sekilas membuat suasana menjadi lebih memukau dan meriah. Namun, kehadirannya juga mendatangkan beberapa risiko.

Flare telah menjadi bagian dari suporter sepak bola tak hanya di Indonesia. Namun juga di seluruh penjuru dunia. Ketika dinyalakan, cahayanya yang dihasilkan begitu terang diiringi asap tebal.

Menciptakan atmosfir menarik di dalam stadion. Kehadiran flare seolah-olah menunjukkan betapa membaranya semangat para suporter dalam mendukung tim-tim kebanggaan.

Tak hanya menunjukkan semangat yang berapi-api, kehadiran flare juga digunakan untuk menggambarkan maksud lain. Salah satunya adalah bentuk psywar kepada tim lawan.

Yaitu seolah-olah menghadirkan suasana “neraka” yang digambarkan dengan nyala flare berwarna merah untuk tim lawan yang akan bertanding. Tak hanya itu, bagi sebagian suporter sepak bola, flare lebih dari sekedar alat yang bisa dimainkan.

Bagi mereka, flare juga merupakan simbol sebuah kebersamaan. Seperti yang terlihat di pertandingan pertandingan big match di Eropa dan Amerika Latin.

Para suporter yang membawa flare secara serentak menyalakan flare yang mereka bawa. Mengubah stadion seketika menjadi lautan cahaya. Tak hanya sekedar menyalakan flare, mereka juga mengiringinya dengan koreografi-koreografi yang memukau.

Terlepas dari semua kemeriahan yang dihadirkan flare, nyatanya benda tersebut juga mengahdirkan banyak risiko ketika dinyalakan saat menonton pertandingan sepak bola.

Rasanya risiko yang ditimbulkan, tak sebanding dengan kemeriahan yang dihasilkan dari menyalakan sebuah flare.

Ada banyak sekali risiko, di antaranya risiko keselamatan fisik. Ketika flare dinyalakan, ia akan menghasilkan panas dengan suhu yang tinggi.

Bahkan bisa mencapai ratusan derajat celcius. Jika ketika dinayalakan, apinya terkena langsung ke kulit. Penyebabnya jelas, yaitu luka bakar serius.
Tak hanya selain menghadirkan luka fisik. Jika flare yang masih menyala dilemparkan ke bangunan jelas akan menyebabkan kebakaran.

Apalagi di stadion, banyak sekali ditemukan bahan yang mudah terbakar. Di antaranya bangku kursi penonton dan adboard. Pun ketika sampai terjadi kebakaran, risikonya bisa meningkat berkali-kali lipat.

Tak hanya apinya yang bisa menimbulkan berbagai masalah namun juga asap yang ditimbulkan. Asap yang dihasilkan dari pembakaran flare mengandung zat-zat berbahaya.

Zat tersebut dapat mengakibatkan berbagai gangguan pernapasan yang jika sangat parah bisa saja mengakibatkan korban jiwa.

Jika melihat dampak dan resiko yang ditimbulkan, kehadiran flare di sepak bola sebenarnya sangat berbahaya. Apalagi jika digunakan dengan tidak bertanggung jawab. Induk organisasi sepak bola dunia, yaitu FIFA dengan tegas melarang kehadiran dan penggunaan flare didalam stadion.

Larangan tersebut tertuang dalam salah satu regulasi FIFA, yaitu pada FIFA Stadium Safety and Security Regulations. Tak hanya itu, larangan penggunaan flare juga diatur FIFA dalam Laws of the Game.

Ada berbagai alasan kenapa FIFA secara tegas melarang penggunaan flare dalam sepak bola. Antara lain risiko kebakaran, gangguan kesehatan, dan juga dapat menganggu jalannya pertandingan.

Konsekuensi hukuman yang diberikan atas pelanggaran tentang flare yang diberikan pun juga tak main-main.

Mulai dari denda yang akan dijatuhkan kepada klub, sanksi tambahan seperti menggelar beberapa pertandingan tanpa penonton dan penutupan sebagian tribun.

Serta bisa saja hukuman individu kepada suporter yang ketahuan memainkan flare didalam stadion. Misalnya larangan masuk ke stadion untuk jangka waktu tertentu atau bahkan sumur hidup.

Di Indonesia, sejalan dengan regulasi FIFA. PSSI juga melarang penggunaan flare didalam stadion saat pertandingan sepak bola. PSSI melalui Komite Disiplin juga sudah mengatur hukuman-hukuman yang diberikan kepada klub jika terjadi insiden penggunaan flare.

Hukumannya juga tak main-main. Salah satunya adalah denda dengan nominal yang cukup besar. Bahkan mencapat ratusan juta rupiah.

Namun faktanya, hukuman tersebut tak membuat suporter di Indonesia takut untuk menyalakan flare didalam stadion.

Seperti yang terjadi di pekan-pekan terakhir Liga 1 beberapa waktu yang lalu. Beberapa suporter tim tuan rumah ramai-ramai menyalakan flare.

Bahkan saat pertandingan masih berlangsung. Tak hanya itu, insiden flare tersebut juga sempat mengganggu jalannya pertandingan.

Seperti yang terjadi dalam pertandingan PSS Sleman melawan Persija Jakarta di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 17 Mei lalu.

Pada pertandingan yang berlangsung pada malam hari tersebut, pertandingan berhenti kurang lebih 20 menit akibat asap pekat flare yang menyelimuti stadion yang terletak di Kabupaten Sleman tersebut.

Pasca insiden tersebut, hukuman yang diberikan Komdis PSSI pun tak main-main. Panpel PSS Sleman dihukum denda 270 juta rupiah atas insiden tersebut.

 Baca Juga: Ugahari, Rembunai, dan Sederhana

Tak hanya PSS Sleman, pada pekan tersebut beberapa tim juga dihukum karena suporternya menyalakan flare didalam stadion.

Yaitu Bali United FC, PSBS Biak, Persita Tangerang, Persib Bandung, dan yang terbaru Persebaya Surabaya. (Penulis adalah Wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Andhika Attar Anindita
#sepak bola #flare #opini