Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kala Olahraga Lari Jadi Ajang Adu Gengsi

Wahyu Adji Febrianto • Rabu, 7 Mei 2025 | 03:11 WIB
Ilustrasi tren lari.
Ilustrasi tren lari.

Olahraga menjadi salah satu kebutuhan manusia. Alasannya beragam. Paling utama adalah alasan kesehatan. Bahkan, sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak berolahraga. Baik ringan maupun berat.

Salah satu jenis olahraga yang sangat mudah dilakukan adalah running atau lari. Saking mudahnya melakukan olahraga ini, kita seolah-olah tak sadar telah melakukannya.

Seperti melaksanakan kegiatan sehari-hari. Misalnya, saat kita tertinggal bus atau transportasi lainnya. Tanpa sadar kita akan berlari mengejarnya.

Bisa dibilang, dahulu, lari menjadi olahraga yang ekonomis. Lari dahulu menjadi olahraga yang sederhana dan murah. Bagaimana tidak, hanya berbekal baju yang nyaman dan sepatu biasa. Bisa sepatu sekolah atau lainnya.

Tidak harus sepatu lari. Setiap orang bisa melakukannya. Bagaimana jika tidak memiliki sepatu? Bagi sebagian orang, berlari bertelanjang kaki alias nyeker bukan suatu masalah. Asik-asik saja untuk dilakukan.

Namun, seiring berjalannya waktu, banyak hal mengalami pergeseran karena satu-dua sebab. Termasuk olahraga lari. Olahraga yang dulu dikenal sebagai olahraga yang ekonomis, kini telah bertransformasi.

Saat ini, lari menjelma menjadi salah satu tren gaya hidup. Sarat dengan unsur fashion. Ya, perubahan tersebut terjadi karena semakin gencarnya media sosial.

Hadirnya media sosial bagi sebagian orang telah mengubah esensi sesungguhnya dari olahraga lari. Dari aktivitas fisik yang sederhana menjadi tren gaya hidup dan fashion. Ada beberapa hal yang menyebabkan fenomena tersebut bisa terjadi.

Diantaranya untuk menunjukkan eksistensi diri. Melalui berbagai platform media sosial, masyarakat dapat menunjukkan aktivitas mereka. Salah satunya dengan olahraga lari.

Foto menggunakan outfit yang keren, sepatu branded, dan jam tangan pintar demi mendapatkan engagement sosial serta menunjukkan status sosial.

Hal lainnya adalah ingin mendapatkan visual yang menarik. Suka atau tidak suka, media sosial bergantung dengan visual. Foto saat lari menggunakan perlengkapan serba branded tentunya menambah estetika pada konten yang dihasilkan.

Mereka rela berinvestasi untuk membeli perlengkapan mahal untuk mendapatkan foto atau video yang menurut mereka “layak posting”. Ujung-ujungnya dari semua hal tersebut adalah mereka ingin diakui eksistensinya.

Berubahnya tren lari bagi sebagian orang dari sekedar aktivitas fisik menjadi salah satu tren gaya hidup dan fashion membuat olahraga lari menjadi salah satu olahraga mahal.

Setidaknya bagi sebagian orang yang mementingkan efek lari di media sosial daripada di tubuh mereka. Pertama dari topi, beberapa brand kenamaan membanderol harga topi running mereka di rentang harga Rp 400 ribu.

Dari sisi pakaian, harganya jelas di atas topi. Misalnya diambil contoh dari salah satu brand ternama asal Jerman yang terkenal dengan logo tiga stripnya. Mereka membanderol jersey lari dengan harga kurang lebih dari Rp 500 ribu.

Untuk celana lari, kurang lebih Rp 600 ribu. Harga tersebut belum termasuk celana kompresi yang digunakan untuk meningkatkan performa lari. Dari sisi sepatu, ini merupakan salah satu yang menguras dompet.

Salah satu contohnya, dari brand asal amerika, mereka membanderol salah satu sepatu runningnya dengan harga Rp 3-5 juta. Tergantung fitur apa yang diinginkan pembelinya. Belum lagi pelari memerlukan jam pintar yang harganya bisa mencapai Rp 7 juta.

Dari sedikit rincian tersebut saja, bisa dilihat, berapa mahalnya perlangkapan lari jika niatnya hanya untuk flexing.

Mereka yang memakai perlengkapan-perlengkapan dari merek ternama tersebut seolah-olah seperti seorang model yang sedang “catwalk” di panggung. Setiap langkahnya, langkah menggunakan sepatu mahal, selalu menjadi perhatian pelari lain atau masyarakat yang melihat.

Namun sebenarnya, fenomena tersebut hanya terjadi pada sebagian orang. Faktanya, masih banyak di lapangan masyarakat yang benar-benar menjadikan lari sebagai aktivitas fisik.

Memakai outfit sesuai kemampuan, yang terpenting target larinya terpenuhi. Atau, kalaupun mereka memakai perlengkapan dari merek-merek ternama, tujuan mereka hanya untuk meningkatkan performa lari mereka.

Mengejar target berkilo-kilometer atau pace tinggi. Bukan untuk menghiasi media sosial mereka. Kalaupun mereka ingin memamerkan lewat media sosialnya, intensitasnya akan sewajarnya saja. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

         

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#olahraga #running #lari #opini #Adu Gengsi