Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerita Senyap tentang Ngap

Radar Kediri • Senin, 5 Mei 2025 | 13:05 WIB

Abdullah Muzi
Abdullah Muzi

Oleh : Abdullah Muzi Marpaung

Dalam kamus Melayu-Inggris Wilkinson (1901) terdapat lema ngap yang diterangkan sebagai prakategorial dari ngap-ngap yang berarti menarik napas tersengal-sengal; terengah-engah seperti ikan di luar air.

Uraian yang serupa dijumpai pula pada Kamus Melayu-Belanda Klinkert (1902), van Ronkel (1926), dan Ridderhof (1935). Ngap atau ngap-ngap memiliki beberapa sinonim yang boleh jadi sebagiannya merupakan variasi pengucapan seperti ngengap, ngungap, ungap, pengap, ungkap-ungkap, tungkap, cengap, cungap-cangip dan terkapah-kapah.

Ngap atau ngap-ngap masih mendapatkan tempat dalam kamus bahasa Indonesia Poerwadarminta (1954) sebagai padanan dari engah-engah; terbuka-buka mulutnya hendak menarik nafas. Ngap-ngap juga masih bertahan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tahun 2008.

Akan tetapi ngap dan ngap-ngap sudah tidak ada pada KBBI yang sekarang, berganti mengap dan mengap-mengap. Turut hilang bersama ngap dan ngap-ngap ialah ngengap, ngungap, dan ungap. Tungkap tak lagi menjadi salah satu sinonim dari mengap-mengap dan diartikan sebagai terdiam seketika; terkelu. Demikian pula dengan pengap yang kini dikenal sebagai adjektiva yang berarti serasa penuh sesak (seperti dalam kamar sempit yang tidak berjendela) dan  kurang mendapat udara dari luar.

Walau mungkin dipandang lebih sejalan dengan kaidah bahasa Indonesia, mengap dan mengap-mengap sangat jarang ditemukan dalam pustaka-pustaka lama. Boleh jadi hal ini yang membuat keduanya juga tidak sering digunakan sebagai verba untuk bernapas tersendat-sendat.

Yang jauh lebih sering digunakan ialah megap-megap, yang diserap dari bahasa Jawa. Poerwadarminta (1954) boleh jadi adalah orang pertama yang memperkenalkan kata megap-megap sebagai kata dalam bahasa Indonesia.

Sebelum tahun 1954, tak kurang dari 20 publikasi berhasil dilacak yang memuat kata megap-megap. Semuanya merupakan pustaka berbahasa Jawa. Kesuksesan megap-megap sebagai kata yang kini kerap dipakai mudah dipahami, karena sebagian besar penutur bahasa Indonesia adalah orang Jawa.

Ngap dan ngap-ngap adalah bagian kecil dari cerita tentang kata yang tersingkirkan dari kamus meski memiliki jejak sejarah yang tedas. Walaupun demikian tapak ngap dan ngap-ngap tidak sepenuhnya terhapus.

Dalam kamus Melayu Malaysia ngap masih ada sebagai sinonim dari lelah dan  letih. Demikian pula dengan ngap-ngap yang diartikan sebagai terbuka mulutnya (seperti hendak menarik nafas).

Begitulah kata. Begitulah kita. Ada hanya untuk sementara.

 

Abdullah Muzi Marpaung

Lahir di Bintan tahun 1967. Sekarang ia adalah dosen Teknologi Pangan Universitas Swiss German. Ia juga memiliki minat yang tinggi terhadap bahasa dan sastra Indonesia dan merupakan narasumber Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk penyusunan istilah Ilmu dan Teknologi Pangan. Artikel-artikelnya terkait bahasa, makanan tradisional Indonesia, dan karya sastranya baik puisi maupun cerita pendek telah dimuat di sejumlah media massa.

Editor : Jauhar Yohanis
#melayu #kbbi #Bahasa Indonesa