Usai Salat Ied, gerbang rumah bercat putih itu sudah dibuka lebar-lebar. Warga kampung ini dan kampung sebelah rela mengantre untuk masuk ke rumah bergaya Jawa modern itu.
Padahal, sepulang dari masjid, seharusnya mereka pulang dulu ke rumah masing-masing.
Bersilaturahmi dengan sanak keluarga, handai tolan dan orangtua. Tapi, tidak demikian bagi sebagian orang yang 'mencintai' Mantan Lurah Kaspo.
Jujugan pertama orang-orang ini adalah rumah yang berada di tepi jalan utama kampung itu.
Bagi warga, unjung-unjung ke rumah Mantan Lurah Kaspo adalah kewajiban yang harus ditunaikan segera. Bersalaman, menikmati hidangan dan berfoto bersama bekas pemimpin mereka.
Lek No, termasuk orang yang pernah unjung-unjung di rumah Mantan Lurah Kaspo setahun lalu. Di tahun ini, seperti tahun sebelumnya, Lek No langsung bergegas begitu khotbah Salat Ied di masjid kampung ini rampung.
Bedanya, Lek No kali ini tidak hanya berdua bersama Lek Ni, istrinya. Ada Danantara Mugi Langgeng, bayi mereka.
Di tengah melangkah menuju rumah Mantan Lurah Kaspo, Lek No bertemu Pak Mukhol di jalan depan masjid. Beda dengan Lek No, bapaknya Gusyon ini belum sama sekali merasakan unjung-unjung ke rumah Mantan Lurah Kaspo sejak menanggalkan jabatannya.
"Pokoknya beda Pak, kalau kita unjung-unjung sekarang dengan setelah tidak lagi jadi lurah."
"Bedanya apa Lek?"
Lek No tidak langsung menjawab pertanyaan Pak Mukhol soal perbedaan unjung-unjung ketika Mantan Lurah Kaspo masih jadi lurah dan tidak.
Meski begitu, mereka terus berjalan beriringan mengarah ke rumah Mantan Lurah Kaspo. Terhitung empat rumah lagi, Lek No beserta keluarganya dan Pak Mukhol berikut Bu Timuk dan Gusyon tiba di rumah paling mewah di kampung ini.
"Kita ngantre dulu, Pak Mukhol," kata Lek No.
Pak Mukhol yang masih penasaran dengan suasana di dalam rumah, akhirnya ikut mengantre bersama warga lain. Di luar pagar depan, antrean sudah tampak mengular. Walaupun jarum jam belum genap menunjukkan pukul delapan tepat.
Satu per satu warga yang mengantre memasuki halaman rumah Mantan Lurah Kaspo. Hingga akhirnya Lek No, Pak Mukhol dan keluarga keduanya yang mendapat giliran masuk.
Di dalam rumah, suasana begitu hiruk pikuk. Mereka berbaris untuk bersalaman bergantian dengan Mantan Lurah Kaspo yang duduk di atas kursi empuknya di ruang tamu.
Di ruang yang luas itu, di pinggir-pinggirnya, tuan rumah menghidangkan aneka makanan dan kue. Semua jenis makanan yang disajikan di sini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan milik warga pada umumnya.
Di hari Lebaran, warga biasanya menyuguhkan bermacam kue seperti nastar, biskuit, madumongso, kembang goyang, kembang gula, rengginang, kue kancing, keripik pisang, dan bolu klemben. Jika ada yang mewah sedikit, mereka menyiapkan ketupat dan sayur opor ayam.
Tapi, di rumah Mantan Lurah Kaspo, hidangan Lebaran menjadi tak biasa, terasa spesial dan mahal. Di ujung ruangan, tersaji beberapa makanan dari daging kambing. Ada kambing guling, sate, gule, dan krengsengan.
Bergeser ke kanan, perdagingan yang lezat siap disantap kapan saja. Mulai dari rendang, semur, dendeng, empal, rawon, rica-rica sampai tongseng dan soto daging.
Bila menengok ke kiri, aneka makanan laut juga tersedia. Ada sup kerang, cumi-cumi asam manis dengan level kepedasan bertingkat, kepiting lada hitam, lobster saus Padang, dan gulai kepala ikan kakap.
Di dekat kursi si empunya rumah, adalah makanan favorit Lek No. Karena alasan inilah Lek No tidak mau melewatkan kesempatan unjung-unjung ke rumah Mantan Lurah Kaspo.
Jika tidak berkunjung ke sini, barangkali sulit rasanya Lek No dan Lek Ni menikmati masakan istimewa ini dalam setahun.
Di situ terhidang makanan olahan ayam dan unggas-unggas yang lain.
"Nah ini kesukaan saya Pak Mukhol. Bebek Peking sambel pencit," kata Lek No.
Usai bersalaman, para pengunjung memang dipersilakan untuk makan-makan sesuai kesukaan mereka. Di tengah santap pagi itu, Mantan Lurah Kaspo menghibur tamunya dengan pertunjukan seni tari yang digelar di teras rumah.
Setelah itu, mereka diperbolehkan untuk berfoto-foto di area rumah yang estetik dan foto bersama Mantan Lurah Kaspo. Yang paling akhir, sebelum pulang, warga mendapat bingkisan dari pemilik rumah. Isinya: aneka snack, buah-buahan dan amplop.
Setiap mereka yang ingin pulang dengan bingkisan di tangan, oleh pesuruh Mantan Lurah Kaspo diminta untuk menyiarkan ke semua orang perihal "wisata unjung-unjung" di rumah itu sampai hari ketujuh Lebaran. Setelah hari ketujuh, Mantan Lurah Kaspo tidak menerima tamu lagi.
Rasa penasaran Pak Mukhol akhirnya terobati setelah ikut unjung-unjung. Sebagai ketua RT, sejatinya Pak Mukhol mengenal sedikit banyak sepak terjang mantan atasannya itu.
Di tengah perjalanan pulang, Pak Mukhol bercerita pada Lek No berkaitan dengan sosok Mantan Lurah Kaspo.
Di kampung ini, kata Pak Mukhol, Mantan Lurah Kaspo sudah memimpin selama tiga periode. Masing-masing periode dijabat selamat enam tahun.
Dua tahun lalu, dia sebenarnya menghendaki ingin memimpin lagi. Tapi, undang-undang melarangnya. Akhirnya, Pak Lurah Kambali yang tampil menggantikannya dengan sedikit campur tangan Mantan Lurah Kaspo.
Berkat andilnya yang menjadikan Pak Lurah Kambali, Mantan Lurah Kaspo menitipkan anak perempuannya untuk menjadi Carik. Jadilah kini Carik Kanti mendampingi Pak Lurah Kambali dalam urusan administrasi kampung.
"Ooo... Berarti Bu Carik itu titipan," kata Lek No menyela cerita Pak Mukhol.
"Kira-kira begitu Lek."
Di mata Pak Mukhol, Mantan Lurah Kaspo memang orang yang ambisius. Berkuasa selama 18 tahun di kampung ini, sepertinya masih kurang baginya.
Seperti yang diingat Pak Mukhol di sebuah rapat kampung, Mantan Lurah Kaspo tetap berhasrat dikenal warga dan ingin masyarakat selalu memuji keberhasilannya membangun kampung ini.
Makanya, ketika purna dari lurah, Mantan Lurah Kaspo ajeg membuka rumahnya untuk warga. Oleh para pesuruhnya, warga diminta untuk berfoto dan mengunggah foto itu lewat status di media sosial mereka masing-masing.
Kalau tentang kekayaan Mantan Lurah Kaspo, Pak Mukhol mengakui tidak tahu banyak. Cuma dari cerita segelintir orang dekatnya, Mantan Lurah Kaspo memiliki usaha tambang di luar daerah.
Di dekat rumahnya, dia punya alat berat yang bisa disewakan kepada siapa saja.
"Yang saya tahu cuma itu Lek, sumber kekayaan Mantan Lurah Kaspo."
Di luar itu, Pak Mukhol hanya mengingat satu peristiwa yang membuat satu kampung ini pernah gempar.
Kejadian itu terjadi sekitar delapan tahun lalu saat rumah Mantan Lurah Kaspo digeledah aparat penegak hukum karena diduga menggelapkan dana kampung miliaran rupiah.
Pak Mukhol yang waktu itu sudah menjabat ketua RT menyaksikan sendiri penggeledahan di rumah Mantan Lurah Kaspo. Tapi, kasus itu menguap begitu saja. Mantan Lurah Kaspo lepas dari jeratan hukum dan tetap bisa berlenggang kangkung hingga hari ini.
"Berarti Mantan Lurah Kaspo koruptor, Pak?"
"Hussss.. saya tidak bilang begitu Lek."
"Ah.. mana mungkin dia bisa sekaya itu tanpa korupsi Pak."
"Husss.. sudah Lek. Ini masih Lebaran."
Tak seperti Pak Mukhol yang memilih untuk tidak suudzon, Lek No meski sudah dua kali unjung-unjung ke sana, punya prasangka buruk terhadap Mantan Lurah Kaspo.
Setelah berpisah di depan pagar rumah mereka, Lek No sejurus kemudian melempar bingkisan yang dibawanya ke dalam sampah. Disusul sang istri melakukan hal yang sama.
Entah, tahun depan, apakah Lek No masih mau unjung-unjung lagi ke rumah Mantan Lurah Kaspo atau tidak.
Yang pasti, menu bebek Peking sambal pencit senantiasa tersedia setiap tahunnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah