Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lebaran, Udik, Mudik

Mahfud • Kamis, 3 April 2025 - 04:16 WIB
Lebaran, Udik, Mudik
Lebaran, Udik, Mudik

Mengapa Hari Raya Idul Fitri disebut Lebaran? Banyak pendapat tentang hal ini. Salah satunya, karena Idul Fitri adalah ‘pemungkasnya’ puasa Ramadan.

Ketika umat Muslim diuji dengan tidak makan dan minum selama satu bulan penuh maka Idul Fitri adalah ‘penyelesai’-nya.

Artinya, ketika Idul Fitri menjelang selesai pula ibadah wajib selama sebulan penuh itu. Umat Islam dibolehkan lagi makan dan minum.

Ketika takbir berkumandang maka puasa sudah selesai.

Nah, orang Jawa menyebut selesai itu dengan istilah bar, lebar, lebaran. Dari sanalah akhirnya istilah Lebaran digunakan sebagai sinonim Idul Fitri.

Meskipun maknanya jauh berbeda. Idul Fitri adalah kembali fitri.

Sedangkan Lebaran merujuk kata selesai, tuntas.

Karena akar katanya bahasa Jawa, jangan heran bila Lebaran banyak pula diisi dengan tradisi, kebiasaan, masyarakat Jawa pada khususnya dan Nusantara pada umumnya.

Seperti beranjangsana atau silaturahmi, menyediakan sajian untuk menyambut mereka yang datang, memberi sangu berupa uang pada anak-anak kecil, serta tradisi-tradisi lainnya.

Tentu saja kebiasaan ini tidak bisa dikatakan menyimpang dari ajaran Islam. Justru mengandung nilai-nilai kebaikan yang juga diajarkan agama.

Ada lagi tradisi yang ikut mengalir seiring dengan datangnya Lebaran. Yaitu mudik.

Pulang kampung. Migrasi. Umumnya dari kota ke kampung atau desa.

Meskipun dalam konteks saat ini, bisa jadi mudik justru dari desa ke kota.

Karena bisa jadi seseorang yang asalnya dari kota ternyata mendapat tugas atau pekerjaan di desa.

Apakah mudik memang tradisi yang ada seiring dengan munculnya Lebaran? Bila merunut dari berbagai sumber, justru mudik sudah terjadi jauh sebelum masyarakat Nusantara mengenal Lebaran.

Atau jauh sebelum Islam masuk. Ada yang menyebut, mudik sudah dikenal sebagai aktivitas masyarakat di zaman Kerajaan, di era Majapahit.

Mengapa masyarakat saat itu melakukan mudik? Tentu saja jangan membayangkan mudiknya kala itu sama seperti sekarang.

Yang bikin padat jalanan. Yang bikin sesak pertokoan. Yang bikin macet di berbagai persimpangan, pertigaan, perempatan.

Mudiknya mereka adalah kembali ke udik, ke tempat asal. Karena udik adalah maknanya hulu sungai.

Sedangkan masyarakat kala itu sering bermigrasi ke muara, ke hilir, untuk mencari nafkah. Karena itu, ada masanya mereka ke udik. Mudik!

Apakah teori itu benar? Tentu saja saya tak berani menjamin sepenuhnya. Karena waktu itu saya juga belum lahir.

Namun, banyak ahli antroplogi, sosiologi, maupun sejarah yang seide dengan sodoran narasi itu.

Yang pasti, kata mudik menjadi populer setelah Indonesia merdeka. Di era 1970-an.

Saat itu warga atau penduduk Jakarta berbondong-bondong ke tempat asal mereka. Waktu yang dipilih adalah ketika Lebaran datang.

Sebab, di saat ini hampir semua lapisan masyarakat mendapat libur. Yang pegawai negeri, yang pegawai swasta, yang buruh, dan yang anak sekolah.

Jadi, Lebaran adalah waktu yang pas untuk mudik, menuju udik!
Kenapa Jakarta? Ya karena saat itu Jakarta adalah satu-satunya kota besar yang benar-benar jadi acuan untuk hidup layak.

Sistem politik sentralistik menciptakan Jakarta benar-benar jadi madu bagi para lebah pekerja. Entah akhirnya mereka sukses atau tidak, kebutuhan untuk mudik adalah pokok.

Membawa pulang hasil kerja selama setahun.
Bagaimana mudik zaman now? Ya masih setali tiga uang alias sama saja.

Bedanya, mudik saat ini tidak terfokus Jakarta dan udik. Melainkan dari banyak kota besar di Indonesia.

Bisa dari semenajung Sumatera, Pulau Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, dan lainnya. Atau juga dibalik, yang hidup di Kediri pulang dulu ke Jakarta atau ke kota-kota lain di Indonesia.

Lalu, apakah mudik ini berdampak jelek atau sebaliknya? Ya lihat dulu dari perspektif mana kita melihat.

Kalau mudik dipandang dari sisi pemborosan bahan bakar fosil, ya jelas bagi pemerhati lingkungan ini punya efek negatif.

Pemakaian bahan bakar fosil meningkat. Polusi pun meningkat pula.

Kalaupun ada yang pulang dengan mobil listrik, toh jumlahnya masih belum seberapa.
Mudik juga membuat kemacetan di mana-mana.

Membuat sengsara ketika berada di jalanan. Bila biasanya melintasi perempatan hanya butuh satu menit, sekarang bisa 20 menit! Antrean panjang kendaraan menunggu lampu lalu lintas berubah warna hijau bisa mengular hingga 1,5 kilometer! Tak percaya? Coba saja ke perempatan Desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri.

Baca Juga: Sempat Viral, Sinopsis, dan Pemeran Film How To Make Billion Before Grandma Dies cocok Ditonton Libur Lebaran

Tapi, dari perspektif ekonomi, mudik berpotensi memutar roda ekonomi dengan kencang. Uang dari kota mengalir ke desa via mereka.

Tempat-tempat penjual makanan dipenuhi orang. Toko-toko juga padat.

Meskipun kata orang tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, toh tetap ada peningkatan dibanding hari-hari biasa.

Sayangnya, mudik yang sudah menjadi tradisi itu, yang berlangsung dari tahun ke tahun, tetap saja penuh dengan hiruk pikuk. Kemacetan di mana-mana. Kecelakaan di beberapa tempat.

Penipuan dan pembegalan terjadi.
Mungkin, pemerintah sudah merumuskan manajemen permudikan dengan baik.

Tapi, yang dirasakan masyarakat, tetap saja kejadian akan berulang lagi. Macet yang tak terkendali.

Antrean panjang di pintu tol, di pelabuhan, di terminal, atau di titik-titik para pemudik.

Pertanyaannya sekarang, bisakah kita belajar dari pengalaman? Karena menurut pepatah, hanya keledai yang terjerembap dalam lubang yang sama sampai dua kali.

Padahal, kita bukan keledai kan? 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#mudik #lebaran