Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mercon Bulan Puasa di Aksi Demo

Anwar Bahar Basalamah • Sabtu, 29 Maret 2025 | 23:46 WIB
Ilustrasi aksi demo dengan lemparan petasan.
Ilustrasi aksi demo dengan lemparan petasan.

Kabar tewasnya Orang Pembuat Mercon dari Kampung Sebelah akhirnya sampai juga pada Lek No.

Jantungnya maktratap begitu Pak Mukhol berbisik lirih di kuping kanannya. Tiba-tiba saja, tangan dan bibirnya bergetar.

Lek No tak kuasa berucap walau hanya sepatah.

"Lek.. Lek.. ucapkan Innalilahi dulu."

Pak Mukhol berusaha menyadarkan Lek No. Sambil memintanya berbicara, Pak Mukhol terus mengguncang-guncangkan tubuh tetangganya itu.

Lek No tetap tak bergeming. Sepertinya dia terpukul berat dengan berita yang dibawa Pak Mukhol. Padahal, Pak Mukhol masih sebatas mengabarkan kalau Orang Pembuat Mercon dari Kampung Sebelah menghadap Sang Khalik sore tadi.

Pak Mukhol belum sampai bercerita bagaimana kronologi ledakan yang merenggut nyawa Orang Pembuat Mercon dari Kampung Sebelah.

Seandainya cerita itu dilanjutkan, Pak Mukhol akan mengatakan, Orang Pembuat Mercon dari Kampung Sebelah mengalami luka bakar sampai 90 persen.

Sekujur tubuhnya melepuh. Meski sempat siuman ketika ledakan mercon itu terjadi di rumahnya, nyawa Orang Pembuat Mercon dari Kampung Sebelah tak bisa diselamatkan.

Dia mengembuskan napas terakhirnya di kamar perawatan rumah sakit setelah dirawat intensif selama hampir lima jam. Jarum jam waktu itu menunjuk pukul empat lewat sepuluh menit.

Dan, cerita itu bakal ditutup Pak Mukhol dengan menuturkan, semua petaka itu bermula ketika Orang Pembuat Mercon dari Kampung Sebelah meracik mercon buatannya.

Malang tak dapat ditolak. Ketika memasukkan bahan peledak ke dalam selongsong, seketika mercon sebesar buah duren itu meledak sejadi-jadinya.

"Pak Mukhol tidak perlu bercerita bagaimana kejadiannya."

Akhirnya Lek No tersadar setelah beberapa menit tubuhnya membeku.

"Alhamdulillah akhirnya sadar juga. Saya belum cerita apa-apa Lek. Saya hanya mengabari Orang Pembuat Mercon di Kampung Sebelah meninggal dunia, Lek."

"Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Iya Pak Mukhol."

"Syukurlah. Apa perlu saya ceritakan?"

"Tidak usah Pak."

"Baiklah. Masih buat mercon, Lek?"

Mendapat pertanyaan dari Pak Mukhol, tubuh Lek No kembali bergetar. Tapi, kali ini getarannya tak membuatnya membisu.

"Masih Pak. Tapi, setelah dapat kabar dari sampean, saya sepertinya harus berhenti membuat mercon, Pak."

Rupanya, kabar meninggalnya Orang Pembuat Mercon dari Kampung Sebelah menyebabkan Lek No syok. Dia kemudian mempertimbangkan untuk pensiun dari membuat mercon.

Di kampung ini, semua orang tahu, Lek No adalah orang yang ahli dalam meracik mercon. Setiap bulan puasa tiba, Lek No yang sehari-harinya bakulan di pasar, sudah pasti nyambi menjadi pembuat mercon.

Selepas dari pasar sekitar jam sepuluh pagi, Lek No biasanya bersiap untuk meracik mercon di rumahnya. Lek Ni, sebagai istri, sebenarnya tidak setuju dengan pekerjaan sampingan suaminya itu.

Tapi, mau bagaimana lagi, kondisi ekonomi yang sulit membuat keluarga ini harus banting tulang demi asap dapur tetap mengepul. Jadi, apa pun pekerjaanya akan dilakukan meski itu berisiko tinggi.

Sepanjang bulan puasa ini, Lek No sudah meracik bermacam-macam mercon. Mulai mercon bantingan, slorot, cabe sampai mercon kertas dari ukuran kecil sampai ukuran besar, Lek No sanggup membikinnya.

Pelanggannya tentu saja adalah adalah anak-anak di kampung ini dan kampung sebelah. Biasanya, mereka cukup datang ke rumah Lek No dan memilih sendiri mercon yang diinginkan.

Uang hasil jualan mercon itu, kata Lek No, sedikit membantu perekonomian keluarga di tengah melambungnya harga barang kebutuhan pokok akhir-akhir ini.

"Jadi karena alasan itu saya meracik mercon dan menjualnya Pak Mukhol."

"Iya saya paham Lek. Tapi, tahu sendiri kan akibatnya, sudah ada kejadiannya, Lek."

"Terus saya harus gimana, Pak Mukhol?"

"Maksudnya?"

"Maksudnya, mercon saya harus diapakan. Saya kadung buat banyak."

"Dibuang saja Lek."

"Waduh."

Dengan berbagai pertimbangan, Lek No tidak mengiyakan saran Pak Mukhol. Dia enggan membuang mercon-mercon yang sudah dibuatnya itu. Jika dikumpulkan, jumlahnya hampir satu glangsing.

"Masak mercon sebanyak ini harus dibuang," gumam Lek No.

Di tengah kekalutan pikirannya mau dikemanakan mercon satu karung itu, sebuah pesan WA masuk ke HP-nya.

Dalam pesan itu, seorang yang mengatasnamakan Pendemo Penolak Revisi Undang-Undang Tentara ini ingin memesan ratusan mercon yang harus dirampungkan dalam waktu tak kurang dari tiga hari.

"Sanggup?" kata pengirim pesan itu.

"Sanggup. Besok saya antarkan sesuai alamat," jawab Lek No tegas.

Lek No tak pusing lagi dengan mercon-merconnya. Dia tak harus membuangnya seperti saran Pak Mukhol.

Malah, dia ketiban untung besar. Mercon yang tak lagi dikehendakinya itu dibeli borongan oleh
Pendemo Penolak Revisi Undang-Undang Tentara.

Lek No tak peduli mau dipakai apa semua mercon buatannya itu. Yang penting, baginya, mercon satu karung itu tidak tampak lagi di rumahnya.

Lamat-lamat dia bisa menghilangkan rasa trauma dari peristiwa yang menimpa Orang Pembuat Mercon dari Kampung Sebelah.

Hingga, suatu sore, HP-nya berdering.

"Halo Lek No."

"Iya halo."

"Saya Pak Babinsa."

"Iya Pak. Ada apa Pak?"

"Bener? Lek No yang menjual mercon ke Pendemo?"

Lek No tak menjawab.

Tubuhnya kembali bergetar hebat.

Ditutupnya telepon itu dari Pak Babinsa dengan rasa khawatir yang luar biasa.

Pak Babinsa terus meneleponnya berkali-kali.

Dan, Lek No tetap berdiri di tempatnya tadi dengan tubuh gemetar.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #aksi demo #bulan puasa #mercon #jawapos #demo