Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional

Murid

Mahfud • Kamis, 6 Maret 2025 - 16:26 WIB
Mahfud
Mahfud

BAHASA menunjukkan bangsa. Pepatah ini punya pengartian yang luas dan beragam. Bisa Merujuk pada kita sebagai kelompok, atau bangsa. Bisa pula mengarah pada kita sebagai pribadi atau pribadi.

Secara umum, pepatah 'bahasa menunjukkan bangsa' memiliki makna bahwa bahasa menjadi cermin dari jati diri dan martabat suatu bangsa. Semakin baik bahasa yang kita gunakan maka semakin tinggi pula posisi kita sebagai bangsa di tengah percaturan dengan bangsa lain. 

Baca Juga: Oknum

Mengerucut pada sudut pandang pribadi, bahasa akan menjelaskan karakter seseorang. Bila bahasa yang digunakan orang tersebut tertata dan terstruktur dengan baik, orang tersebut sudah pasti punya cara berpikir yang tertata dan terstruktur pula. Sebaliknya, bila bahasa yang kita gunakan serba belepotan, tidak jelas tata aturannya, maka, seperti itulah cara berpikir kita. Belepotan, tidak jelas lokasinya, tidak sistematis, dan tentu saja jauh dari efisien dan efektif. 

Lalu, apakah itu salah bahasanya? Ataukah kekeliruan dari penggunanya? Coba kita renungkan bersama. 

Sebagai Bangsa Indonesia, kami memiliki bahasa yang sangat kami cintai dan kami hormati. Kita junjung mencapai-tingginya. Karena bahasa itulah yang cermin menjadian jati diri kita sebagai bangsa di tengah pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bahasa itu adalah Bahasa Indonesia. 

Baca Juga: Ksatria

Bahasa Indonesia dikenal memiliki kearifan yang luas. Menyerap berbagai bahasa dari suku-suku yang ada. Juga mampu menyerap dari bahasa-bahasa asing. Menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang sangat fleksibel. Tidak kaku. 

Namun, sebagai bahasa resmi, Bahasa Indonesia juga memiliki pedoman-pedoman atau kaidah. Bahasa yang seharusnya digunakan, dalam  bahasa resmi, adalah yang sesuai dengan kaidah itu. Situasi dan kondisi ketika bahasa itu digunakan juga menentukan seperti apa seharusnya Bahasa Indonesia digunakan. Baik itu secara lisan maupun tulisan. 

Sayangnya, semakin ke sini kita sepertinya semakin kurang bisa menghargai bahasa sendiri. Kaidah berbahasa sudah tak lagi kita indahkan. Baik dalam hal ejaan atau pengucapan. 

Baca Juga: Mental Tempe 

Contoh mudah saja, kita sudah tidak bisa lagi membedakan kapan menggunakan kata ‘aku’ dan kapan menerapkan kata ‘saya’. Belum lagi, banyak sekali penamaan dan penulisan yang tidak lagi memerhatikan kaidah yang sesuai. Tidak lagi memedulikan hukum D-M, hukum diterangkan menerangkan. Tak lagi tahu apa itu kata depan apa itu awalan. Bahkan, membedakan arti kata pedestrian dan trotoar saja kita yang tidak bisa.  

Parahnya lagi, kita sering tak menghargai Bahasa Indonesia dengan seharusnya. Sering menggunakan frasa yang justru kian membuat Bahasa Indonesia kaku dan bertele-tele. Dan, ironisnya, hal-hal seperti itu sering dilakukan oleh institusi-institusi pemerintah. 

Contohnya, penggunaan kata siswa. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘siswa’ menjadi padanan dari ‘murid’. Artinya, orang (anak) yang sedang berguru (belajar, bersekolah). 

Sehingga, bila tahun ajaran baru, ketika sekolah-sekolah akan menerima murid baru, frasa penerimaan murid baru sudahlah cukup untuk mewakili. Orang akan dengan jelas mengartikan bahwa frasa itu menyebut adanya proses penerimaan orang yang akan bersekolah atau berguru atau belajar. 

Baca Juga: Kosong

Dulu, kita saya kecil, setiap kali tahapan mendapatkan orang yang akan belajar itu, setiap sekolah akan memasang pengumuan ‘penerimaan murid baru’. Yang kemudian disingkat dengan PMB. Pernah pula suatu ketika berganti dengan penerimaan siswa baru yang disingkat dengan PSB. 

Entah, apakah karena frasa itu terlalu singkat dan terlalu ndesa, kita mengubahnya menjadi penerimaan peserta didik baru atau PPDB. Entahlah, apakah saya yang terlalu simpel cara berpikirnya tapi istilah tersebut terasa sangat bertele-tele. Ironisnya, prosesnya pun akhirnya juga menjadi bertele-tele. Tidak bisa sederhana. Masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya harus paham dengan istilah zonasi, prestasi, mutasi, afirmasi. Akhrnya, karena mungkin sudah bingung, akhirnya yang terjadi adalah kolusi di sana-sini.

Padahal, lebih praktis mana menggunakan kata murid baru dengan peserta didik baru? Dari sisi jumlah kata saja, murid baru jelas lebih efisien. Hanya menggunakan dua kata. Beda dengan peserta didik baru yang harus ada tiga kata. Padahal, maknanya pun sama. 

Baca Juga: Pecinan

Kini, PPDB pun berubah. Frasa peserta didik baru kembali ke 'khittah'-nya, murid. Menjadi Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Frasa 'peserta didik' kembali lagi ke 'murid'.

Meskipun istilah tahapan ini masih menggunakan empat kata tetapi terasa lebih ringkas. Karena yang pertama adalah kata 'seleksi' yang menggambarkan adanya proses menyeleksi. Kalau saya boleh usul, tentu cukup menggunakan seleksi murid baru. Lebih praktis. 

Lalu, apakah pentingnya mengubah istilah seperti itu? Sebenarnya, ini tidak penting-penting amat. Sama pentingnya mengubah penerimaan siswa baru menjadi PPDB di era sebelumnya. Namun, saya lebih menyukai kami menggunakan kata yang sudah baku seperti murid. Tanpa perlu menggantinya dengan frase peserta didik yang terlalu dibuat-buat. 

Baca Juga: Dasamuka

Namun, perubahan tersebut tidak akan berarti bila sikap dan tabiat kita dalam proses penerimaan murid baru ini sama saja. Tidak menempatkan integritas dan kejujuran di atas segalanya. Menempatkan kepentingan masyarakat sebagai tujuan utama. Bukan sekedar mencari keuntungan pribadi atau kepentingan kelompok. Kemudian, masih juga berkolusi di sana-sini. Mengubah seleksi yang seharusnya adil menjadi bertujuan komersiil. Masih mengutamakan 'wani pira' kepada mereka yang butuh sekolah. Menjadikan mereka yang marjinal kian terpinggirkan. Ah, semoga hal itu tidak terjadi.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di Grup Telegram " Radar Kediri ". Caranya klik link join  telegramradarkediri .  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : rekian
#bangsa #bahasa #spmb #ppdb #kbbi