Kesadaran masyarakat terkait pentingnya gizi bagi kesehatan tubuh semakin meningkat, hal tersebut sejalan dengan permintaan masyarakat terhadap kebutuhan bahan pangan baik dari sumber nabati maupun hewani yang juga semakin meningkat. Salah satu bahan pangan dari sumber hewani yang paling banyak dikonsumsi masyarakat adalah daging ayam.
Menurut laporan Badan Pusat Statistik yang bertajuk Pola Distribusi Perdagangan Komoditas Daging Ayam Ras tahun 2022, rata-rata konsumsi daging ayam ras di kelompok rumah tangga nasional mencapai 6,048 kilogram (kg) per kapita per tahun pada 2021. Realisasi tersebut meningkat 8,62% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) (Annur, 2022).
Daging ayam memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi karena mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral dan zat lain yang bermanfaat bagi tubuh (Kusumaningrum et al., 2013). Komposisi protein pada daging ayam dinilai sangat baik karena mengandung semua asam amino esensial yang mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Daging ayam yang digemari masyarakat banyak berasal dari daging broiler (Sholaikah, 2015),.
Beberapa kelebihan ayam broiler diantaranya yaitu memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat dan efisien dalam memanfaatkan pakan serta harga produk yang relatif terjangkau, membuat peminat ayam broiler cukup tinggi. Akan tetapi, pertumbuhan ayam broiler yang cepat tersebut juga diikuti oleh pertumbuhan lemak, dimana bobot badan yang tinggi berhubungan dengan penimbunan lemak tubuh yang tinggi pula. Kandungan lemak dalam karkas yang tinggi menjadi perhatian khusus bagi konsumen dan produsen ternak (Azizah et al., 2017).
Pemberian pakan ternak yang baik, terkontrol, dan sesuai kebutuhan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pemeliharaan ayam broiler, dimana diharapkan dapat menghasilkan produk yang baik secara kuantitas dan kualitas. Pada penyediaan bahan pakan hendaklah bahan tersebut mudah didapat, murah harganya, tidak mengandung racun serta memiliki nilai nutrisi yang dibutuhkan (Sari dkk., 2017),
Efisiensi penggunaan pakan menjadi salah satu parameter penting pada peternakan, dapat diperoleh dengan rumus konversi pakan dikalikan dengan harga pakan per kg selama periode produksi (Abdel-Hafeez et al., 2017). Konversi pakan merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan dalam waktu tertentu. Nilai konversi pakan dapat dinyatakan sebagai ukuran efisiensi pakan yaitu menggambarkan tingkat kemampuan ternak untuk mengubah pakan menjadi sejumlah produksi dalam satuan tertentu, baik untuk produksi daging maupun telur (Fitro et al., 2015).
Income Over Feed Cost (IOFC) merupakan pendapatan kotor yang diperoleh dengan cara pendapatan dari hasil penjualan ayam hidup dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan untuk pakan selama periode pemeliharaan (Fitro et al., 2015). Faktor-faktor yang mempengaruhi IOFC antara lain bobot badan akhir, harga jual ternak, konsumsi pakan, dan harga pakan (Setyaningrum dkk., 2014).
Salah satu upaya untuk menekan biaya pakan dimana pengeluaran biaya pakan dapat lebih diminimalisir sehingga mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan adalah dengan penggunaan feed additive. Salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan tambahan (feed additive) untuk ayam broiler adalah daun singkong karena mengandung nutrisi yang cukup baik.
Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia tahun 2018 menunjukkan bahwa produksi singkong di Indonesia mencapai 19 juta ton dengan nilai pertumbuhan sebesar 1.51%. Berdasarkan data produksi ini maka 10-40% berupa daun singkong akan diperoleh produksi daun singkong sebesar 7,6 juta ton.
Daun singkong merupakan salah satu daun tanaman dengan kadar gizi tinggi seperti protein, karbohidrat, dan serat. Daun singkong juga memiliki harga murah dan mudah didapatkan karena 10-14% bagian dari tanaman singkong dapat dikonsumsi (Sholitan dkk., 2017).
Ekstrak daun singkong dapat menjadi bahan ransum yang tepat untuk dicampur dengan ransum komersil karena memiliki kandungan protein kasar yang cukup tinggi sekitar 21-39% (Akinfala et al., 2002),.
Oleh karena itu, pemanfaatan daun singkong yang dijadikan esktrak untuk pakan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan protein kasar ayam broiler, sehingga produktivitas ayam broiler semakin meningkat dan dapat menekan biaya pakan.
(Penulis adalah Mahasiswa Magister Agribisnis Veteriner Universitas Airlangga)
Editor : Anwar Bahar Basalamah