Ini yang termasuk tidak mudah untuk diyakini tim marketing: optimis dengan target yang diberikan. Kebanyakan tim marketing langsung “pening” kepalanya, ketika targetnya dinaikkan. Berbagai alasan pun meluncur dari mulut mereka, ketika pada akhirnya tak mencapai target. Mulai dari kondisi perekonomian yang masih belum stabil, kondisi klien yang masih merecovery keuangannya, dan lain-lain.
Teman saya yang punya anggota tim marketing di perusahaannya berjumlah sekitar 20-an orang juga merasakan hal yang sama. Setiap bulan, hampir tidak ada yang mampu mencapai target yang diberikan. Dan saya yakin, itu karena masih kurang kuatnya rasa optimisme-nya. Begitu diajak untuk mencapai target yang lebih tinggi, belum dilaksanakan, sudah pesimis lebih dulu. Ini yang juga saya rasakan pada tim marketing saya.
Maka, saya bikin kegiatan sebulan sekali, hanya untuk membangun spiritualitas dalam bekerja, serta meningkatkan rasa percaya diri dan optimisme terhadap apa pun yang dikerjakan. Saya sangat percaya, antara spiritualitas dalam bekerja, dengan membangun rasa percaya diri dan optimisme itu saling kait mengait.
Dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyaknya orang yang selalu pesimis dan putus asa, sehingga mereka cenderung memilih untuk lebih baik akrab dengan kata-kata “tidak mungkin” daripada bangkit, meraih tantangan dan berjuang. Mereka ini cenderung enggan menerima perubahan dan tantangan. Padahal, berubah adalah kunci untuk survival. Dan tantangan adalah jalan menuju sukses.
Lantas, bagaimana caranya agar tim marketing di perusahaan kita selalu merasa tertantang dan mau ikut berjuang? Setidaknya ada dua cara: Pertama, bikin sesuatu yang selalu membuat mereka penasaran. Kedua, dorong untuk berpartisipasi.
Coba Anda lihat saat ada lomba panjat pinang, yang biasanya dibikin setiap perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus. Di lomba itu, pohon pinangnya dibikin sangat licin. Dilumuri minyak. Dan di atas, digantung berbagai hadiah yang menggiurkan. Pernah saya melihat, di atas digantungkan sepeda untuk anak-anak. Ada juga kipas angina. Juga berbagai hadiah lainnya. Jika dipikir dengan akal sehat, tidak akan mungkin bisa memanjat pohon pinang yang sangat licin itu.
Tapi buktinya, karena ada berbagai hadiah di atas yang menggiurkan, selalu saja ada peserta yang penasaran dan mencoba keras untuk memanjat pohon pinang itu. Mereka yang merasa tak mungkin, biasanya cuma menjadi penonton. Begitu lomba dimulai, banyak peserta yang memanjat, kemudian terjatuh. Kebanyakan mereka yang menonton akan tertawa. Karena terbukti, bahwa pohon pinang yang licin itu tidak mungkin bisa dipanjat. Seolah-olah mereka yang ikut lomba, memanjat pohon pinang, lalu terjatuh itu adalah orang-orang yang bodoh dan ingin melawan sesuatu yang tidak mungkin.
Tapi, ternyata, selalu saja ada peserta yang berhasil naik hingga ke atas, dan mengambil berbagai hadiah itu. Mereka punya beragam cara. Ada yang melumuri dirinya dengan pasir, dan dengan susah payah memanjat pohon pinang yang licin itu. Ada juga yang bekerjasama dengan teman-temannya. Ada yang merelakan tubuhnya untuk dijadikan pijakan temannya, demi bisa meraih hadiah di atas sana. Hingga akhirnya berhasil mengambil hadiah.
Ini lah cerminan untuk orang-orang yang berhasil mengalahkan sesuatu yang tak mungkin. Sedangkan mereka yang tidak berpartisipasi, meskipun bisa tertawa, tapi tidak mendapatkan apa-apa.
Jadi, kuncinya adalah:partisipasi. Terjun langsung. Harus melakukan. Ini seperti slogan Nike yang terkenal itu: “Just Do It”. Nike punya filosofi, bahwa hidup itu adalah sebuah perlombaan. Dan pada setiap perlombaan, Anda punya dua pilihan: Anda bisa hanya menjadi penonton, atau Anda berpartisipasi, dan “Just Do It”.
Memang, selalu ada dua risiko ketika Anda ikut berpartisipasi. Anda bisa menang, atau Anda akan kalah. Tetapi, jika Anda tetap tidak mau berpartisipasi, maka Anda tetap tidak akan mungkin menang. Meski Anda sudah berteriak-teriak, melompat-lompat, atau pun berjingkrak-jingkrak. Ini semua tidak akan ada gunanya. Untuk bisa menang, Anda harus ikut berpartisipasi, seperti pada lomba panjat pinang tadi.
Adidas punya slogan pada setiap iklannya: “Impossible is Nothing”. Iklan ini berisi kredo yang dilontarkan oleh Leyla Ali, putri petinju legendaris Muhammad Ali. Slogan ini sangat menarik dan puitis. Kebalikan dari sebuah kredo yang telah lama populer, yaitu: “Nothing is Impossible” (tidak ada yang tidak mungkin), maknanya adalah sebuah optimisme. Oleh Leyla Ali kemudian diplesetkan menjadi ungkapan perjuangan yang lebih puitis: “Impossible is Nothing”. Copy iklan secara lengkapnya adalah:
“Tak mungkin bukan lah fakta. Tak mungkin adalah pendapat semata. Tak mungkin bukanlah sebuah deklarasi. Melainkan sebuah tantangan. Tak mungkin adalah sebuah potensi. Tak mungkin sifatnya sementara. Tak mungkin tidak berarti apa-apa (Impossible is Nothing).
Jadi, jangan ada tempat bagi “tidak mungkin” di pikiran kita. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah