Oleh : Mahfud
Pandji Pragiwaksono memang nama terkenal. Komedian, atau istilah keren sekarang seorang komika yang tenar. Lawakan-lawakannya sering bermuatan sosial politik. Mengakar pada dinamika sosial yang terjadi di masyarakat. Lawakannya terasa membumi dan cocok bagi kalangan milenial yang memiliki idealisme pada kondisi sosial politik.
Dan, seperti halnya para selebritas lain, Pandji pun memanfaatkan media sosial sebagai panggung baru. Konten Youtube, podcast, celotehan di twitter, Instagram, dan lain-lainnya menjadi arena baru bagi mereka. Selain untuk menunjukkan eksistensi, tentu juga tak bisa diingkari hal itu sebagai sarana mencari uang. Semakin terkenal konten semakin uang mengalir baik dari pemasang iklan atau dari jumlah viewer dan subscribe.
Maka, jangan heran bila banyak orang yang ingin terkenal mendadak, atau mendadak terkenal, dengan hal-hal yang tidak lucu, tidak smart, dan tidak berempati pada masyarakat. Misalnya, Tiktoker di Bandung, Jawa Barat, yang mendubbing suara musik seolah-olah keluar dari pengeras suara masjid. Atau juga Youtuber yang bercandanya kelewatan hanya agar kontennya dilihat warganet.
Nah, apakah Pandji terjebak dalam situasi itu? Khususnya ketika dia membanding-bandingkan antara NU dan Muhammadiyah, dua ormas keagamaan besar di tanah air, dengan FPI yang baru saja dibubarkan oleh pemerintah?
Bisa jadi, Pandji tidak butuh tindakan atau ucapan sensasional untuk meningkatkan popularitasnya. Pandji sudah punya popularitas yang lebih dari cukup tanpa dia harus bersensasi. Dalam kasus ini, Pandji sepertinya tergelincir pada idealismenya. Ingin menunjukkan keberpihakannya pada ormas yang dia anggap terpinggirkan oleh pemerintah (baca: FPI) tapi salah dalam memberikan perbandingan.
Pandji juga tak diimbangi dengan pengetahuan sejarah yang cukup. Terutama ketika dia melihat latar belakang dua ormas besar di tanah air, NU dan Muhammadiyah. Bagi Pandji, yang lebih banyak hidup di Jakarta dan hanya bersinggungan dengan orang-orang tenar, NU dan Muhammadiyah hanyalah ada di awang-awang. Tidak mengakar di masyarakat.
Pandji seharusnya lebih banyak turun ke bawah, ke masyarakat. Tak hanya di Jakarta tapi juga di berbagai daerah lain. Di pelosok-pelosok daerah, terutama di Jawa, NU dan Muhamadiyah justru tak dianggap sebagai ormas keagamaan. NU dan Muhammadiyah justru sudah menjadi nadi bagi kehidupan mayarakat itu di kehidupan sosial dan keagamaan. NU atau Muhammadiyah adalah mereka. Demikian pula sebaliknya.
Seringkali orang tidak tahu apakah dia punya kartu aggota NU atau Muhammadiyah tapi tetap saja merasakan bagian dari organisasi tersebut. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang identik dengan organisasi tersebut. Menghormati kiai-kiai atau tokoh agama yang berasal dari organisasi itu.
Namun, mengharapkan Pandji belajar tentang NU dan Muhammadiyah tak juga tepat. Toh, penilaian yang dia kutip dari orang lain itu tetap saja sah dia keluarkan. Terlepas penilaian itu benar atau tidak.
Justru yang perlu dilakukan oleh organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah adalah melihat bahwa ternyata masih ada orang-orang yang berpikiran seperti Pandji tersebut. Inilah yang harus dilihat sebagai pekerjaan rumah bagi mereka. Perlu juga bagi kedua organisasi ini mengubah persepsi dan pemikiran orang-orang seperti Pandji itu. Tentu dengan langkah kongkrit yang kian diperluas.
Terutama bagi NU yang hari ini memeringati harlah versi Masehinya. Pandangan-pandangan minor seperti yang tersaji pada ucapan Pandji itu bisa dijadikan satu masukan kecil. Bahwa ternyata masih ada orang yang menganggap NU berada di awang-awang. Meskipun penilaian itu tak mewakili pandangan mayoritas, toh tak ada salahnya mendengarkan ucapan seseorang. Selamat harlah bagi NU. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri).
Editor : adi nugroho