Ini kisah di balik kisah. Tentang Peristiwa Djengkol. Yang selalu kembali hangat diperbincangkan, selain Peristiwa Kanigoro, setiap kali September berakhir. Dan, Oktober tiba.
Kisah di balik kisah. Bukan peristiwa utamanya. Melainkan, serpihan fakta yang ikut membentuk peristiwa utama. Ini kisah berawal dari Sersan Kepala (Serka) Suharjo. Yang kala itu bertugas di koramil wilayah timur. Yang terburu-buru datang ke Markas Kodim di tengah kota. Setelah mendapat laporan intel bahwa ada segerombolan orang, berjumlah ratusan, bersenjatakan arit, parang, pacul, dan berbagai peralatan lain datang menyerbu Perkebunan Djengkol.
Sebagian massa membawa poster ala kadarnya bertulisan ‘Buruh Tani Menuntut Haknya’, ‘Hidup BTI’, ‘Tanah untuk Rakyat’, dan ‘Laksanakan UU Pokok Agraria dengan Konsekuen’. Tanpa disertai foto –tidak seperti laporan intel zaman sekarang—laporan itu ditutup dengan perlunya segera dikirim pasukan tentara untuk meredam kerusuhan massa.
Komandan kodim tak ada di tempat karena sedang mengikuti pengarahan pangdam di Surabaya terkait kemantapan siaga operasi Ganyang Malaysia. Orang keduanya pun tak ada karena sedang kunjungan ke koramil wilayah barat. Serka Suharjo lantas melapor ke perwira paling senior yang ada. Letnan dua.
Tanggap, sang letnan segera menginstruksikan anak buahnya untuk mengumpulkan semua anggota yang tersisa. Lengkap dengan senjata dan kendaraan. Tapi, yang tersisa hanya belasan orang. Senjata pun tak ada. Semua sudah dibawa ke kodam untuk gelar pasukan.
Tak kehabisan akal, sang letnan meminta semua tetap bersiaga dengan membawa apa pun senjata yang ada. Tak peduli rusak atau kosong tanpa peluru. Mengilap atau karatan. Bazoka atau pistol. Yang penting, ada senjata.
Bukan hanya itu. Sang letnan mencari bala bantuan. Ke markas zeni. Tapi, ternyata, kondisinya sama. Sebagian besar personel sedang dikirim ke perbatasan Kediri-Tulungagung. Membikin jembatan Bailey, karena jembatan utama yang membelah Sungai Brantas ambrol. Senjata? Tak ada juga.
Namun, seorang kapten di markas zeni itu tetap berjanji mengusahakan. Dan, yang ada adalah senapan mesin peninggalan Perang Dunia II yang ia gantungkan di dinding sebagai hiasan dan kenang-kenangan. Itulah yang dicomot. Lalu, bersama anak buah yang tersisa, mereka berangkat ke Djengkol dengan diangkut Gaz, jip bongkok bikinan Rusia. Personel gabungan berjumlah tak lebih dari 30 orang itu lebih bermodal semangat daripada senjata yang apa adanya.
Tiba di pertigaan yang mengarah ke Djengkol, di pinggir sawah, telah berkumpul ratusan orang. Kapten zeni dan letnan kodim berpikir, massa sudah siap menghadang mereka. Gaz yang mengangkut pasukan tetap melaju. Begitu mendekati, sang kapten zeni melihat beberapa belas atau puluh orang di belakang kerumunan massa diam-diam balik badan. Lalu cepat-cepat melarikan diri.
Semula, pasukan membayangkan akan terjadi perlawanan. Dari mereka yang menamakan diri Pemuda Rakyat dan BTI. Untuk itu, pasukan sudah bersiap. Namun, demi semakin mendekati kerumunan massa itu, yang terjadi justru antiklimaks.
Bukan anak-anak muda gagah anggota Pemuda Rakyat atau BTI yang progresif revolusioner dan militan yang didapati. Melainkan para orang tua dengan tubuh kurus dan wajah memelas. Kalaupun ada sejumlah pemuda, tak tampak tanda-tanda keperkasaan. Kecuali, hanya keluguan petani.
Kapten zeni dan letnan kodim pun memaki intel sialan yang membikin laporan itu. Meski demikian, sembilan puluh enam orang berwajah lugu –yang ditinggal kabur provokatornya begitu tentara datang—itu tetap diamankan.
“Saya disuruh kumpul. Katanya akan diberi pembagian tanah milik pabrik,” aku sebagian mereka saat diperiksa di makodim.
“Katanya saya harus berterima kasih kepada BTI. Karena, berkat usaha keras merekalah saya bisa punya tanah sendiri,” kata yang lain lagi. Sementara, tak ada satu pun pentolan BTI yang ikut diamankan bersama mereka.
Rupanya, dari penyelidikan, diketahui, saat menggiring para petani utun itu ke pertigaan yang mengarah ke Djengkol sambil membawa arit, pacul, dan gaman lainnya, para pentolan BTI tersebut berada di belakang mereka. Namun, segera kabur begitu tentara tiba.
Adapun para petani lugu itu hanya tahu bahwa mereka dijanjikan akan mendapatkan jatah tanah. Soal politik, apalagi komunisme, marxisme, atau sosialisme, sama sekali jauh dari jangkauan pemikiran mereka.
Orang-orang seperti mereka, selalu saja menjadi mainan para elite. Tidak dulu maupun sekarang. Karena elite tahu kebutuhan dan keinginan mereka. Dan itu sudah cukup untuk menjadi bahan iming-iming atau janji. (tauhid wijaya, kisah ini dikutip dari buku Terjebak Kabut Merah karya Pandu Ganesa, 2014)
Editor : adi nugroho