Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Self Healing

adi nugroho • Senin, 17 Agustus 2020 | 00:32 WIB
self-healing
self-healing

“Jangan lupakan itu semua (masalah). Ingatlah dan hadapi. Jika tak dihadapi kau hanya selalu menjadi anak kecil dengan jiwa yang tak bertumbuh.”


 


Oleh : Habibah A. Muktiara


 


It’s okay not be okay adalah salah satu drama korea yang banyak meninggalkan kesan. Saya sendiri sangat tertarik dengan kepribadian yang ada dalam setiap tokohnya. Drama yang baru saja tamat pada minggu pertama Agustus ini mengambil tema psikologi kesehatan mental.


Tokoh utama di drama ini bekerja sebagai perawat rumah sakit jiwa yang memiliki kakak dengan autisme. Keduanya kemudian bertemu dengan seorang perempuan yang bekerja sebagai penulis cerita anak. Perempuan tersebut diduga mengalami antisocial personality disorder.


Moon Gang Tae yang merupakan tokoh utama yang dari kecil oleh ibunya sudah diminta untuk menjaga kakaknya yang memiliki autisme, selalu menekan perasaannya. Sedangkan Moon Young yang memiliki latar belakang keluarga yang orang tuanya sukses, bukan berarti kehidupannya lantas menjadi mudah. Dengan emosi meledak-ledak, cenderung impulsif, dan tak tertebak, Moon Young punya perjuangan dalam keluar dari lingkaran trauma masa lalu.


Sebagai penulis buku anak-anak yang sukses, tidak akan ada yang mengira bahwa Moon Young menyimpan banyak beban di dalam diri. Baik Moon Youg maupun Kang Tae, keduanya punya kesamaan, yakni lari dari rasa takut. Padahal, keputusan ini hanya akan membuat masalah semakin rumit dan malah membuat diri merasa lebih kosong dari sebelumnya


Namun dari pertemuan tersebut dari situlah mereka saling belajar, bertumbuh, dan berproses untuk menjadi lebih baik lagi.  Lalu apa yang dapat bisa dipetik dalam drama ini. Everyone you meet is fighting battle you know nothing about. Karena yang tidak terlihat secara kasat mata belum tentu baik baik saja. Luka di fisik mungkin dapat dilihat dengan mudah. Namun bagaimana dengan luka di hati?


Karena luka di hati tidak kasat mata, jangan memperlakukan semua orang sama walau dari depan terlihat baik-baik saja. Family is supposed to be our safe haven. Very often it’s the place where we find the deepest heartache. Terkadang orang yang memiliki potensi melukai kita adalah orang yang paling dekat. Bahkan orang tua bisa menjadi salah satunya.


Kekerasan mulai secara fisik maupun emosi bisa berdampak pertumbuhan anak. Dengan berjalannya waktu luka pada tubuh dapat memudar dan menghilang. Namun bagaimana dengan luka di hati? Perasaan sedih, kecewa, terluka, kesepian, marah itu adalah emosi yang wajar sekali dirasakan. Because we are merely human after all. Jadi boleh saja untuk merasa tidak baik-baik saja. Kita boleh merasakan berbagai emosi. Tidak untuk mengabaikan dan menolak. Namun terimalah perasaan tersebut.


Semua orang memang tidak bisa mengubah atau melupakan masa lalu. Tapi menghindari apa yang membuat terluka tidak akan menyelesaikan masalah. Sehingga hadapilah hal tersebut sehingga kita dapat bertumbuh. Memang ketika proses memang menyakitkan namun pada akhirnya akan hasil yang memuaskan.


“Jangan lupakan itu semua (masalah). Ingatlah dan hadapi. Jika tak dihadapi kau hanya selalu menjadi anak kecil dengan jiwa yang tak bertumbuh.”


Drama ini menyampaikan bahwa hidup tak seperti cerita dongeng yang selalu berujung bahagia. Dalam perjalanannya, ada pula sakit hati, luapan emosi, perjuangan, bahkan rasa percaya yang hilang. Demi menghadapi realita, orang harus perlahan mengambil kembali keping-keping tersisa, menatanya, dan membuat rencana baru. Proses ini pun sangat mungkin tak hanya dilakukan sekali.


“Jangan melihat bintang di langit yang indah. Lihatlah kaki yang tersangkut di selokan.” Sebagai manusia, terkadang kita iri dengan pencapaian orang lain. Tanpa menyadari hal ini kita selalu membandingkan seseorang yang di atas kita. Karena selalu melihat ke atas, kadang kita lupa bahwa kita sedang terluka.(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)


 

Editor : adi nugroho
#radarkediri