Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Petani Padi Muda di Indonesia: Dulu Banyak yang Ogah, Sekarang Jumlahnya Terus Bertambah

Karen Wibi • Senin, 18 Mei 2026 | 15:30 WIB
Abdul Aziz Setiawan, 35, petani padi muda asal Desa Joho, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (Jatim)
Abdul Aziz Setiawan, 35, petani padi muda asal Desa Joho, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (Jatim)

 

NGANJUK, JP Radar Kediri- Swasembada pangan di Indonesia pernah mengalami masalah. Salah satunya karena harga gabah kering yang terlalu murah. Alhasil banyak masyarakat, terutama anak muda, yang ogah menjadi seorang petani.

Namun semuanya berubah sejak beberapa tahun terakhir. Itu setelah Perum BULOG melakukan intervensi harga gabah kering di pasar. BULOG berani memberi harga tinggi untuk gabah kering dari petani. Bahkan, saat ini, harga gabah kering yang dibeli oleh Bulog mencapai Rp 6.500.

Tentu hal itu menjadi kabar menggembirakan oleh banyak petani di Indonesia. Salah satunya adalah Abdul Aziz Setiawan, 35, petani padi asal Desa Joho, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (Jatim). Petani muda itu mengatakan, dulu, menjadi petani padi merupakan pekerjaan yang sulit. Banyak hal yang harus dipikirkan. Salah satunya adalah memutar modal ketika harga gabah sedang anjlok. “Dulu menjadi petani padi itu sangat sulit. Alhamdulillah, setelah Bulog membeli gabah dengan harga Rp 6.500, menjadi petani padi saat ini jadi lebih mudah,” ujar pria yang ditemui di salah satu petak sawah padi miliknya itu.

Apa yang dikatakan oleh Abdul memang benar adanya. Dulu, saat mengawali karir menjadi seorang petani di usia 23 tahun, Abdul sering dibikin mumet. Bagaimana tidak, saat sedang panen raya, harga gabah yang dibeli oleh tengkulak malah selalu anjlok. Bahkan, sekitar empat tahun lalu, Abdul pernah merasakan harga gabah miliknya hanya dihargai Rp 4 ribu per kilogram. “Dulu itu luar biasa mumet. Bagaimana mau mikir untung, mikir untuk balik modal aja sulit,” tambahnya.

Alhasil, untuk menekan biaya produksi, Abdul sering langsung terjun ke sawah. Setiap harinya dia bisa bekerja di sawah nyaris 12 jam. Alasannya? Abdul harus ikut menanam padi, ikut mengairi padi, ikut memberi pupuk padi, bahkan dirinya juga harus ikut memanen padi. Semuanya itu dilakukan agar Abdul tidak tekor ketika panen tiba.

Beruntung apa yang dirasakan oleh Abdul tak bertahan lama. Itu setelah adanya intervensi dari pemerintah pusat melalui Perum BULOG sejak beberapa tahun terakhir. Ada satu kebijakan baru yang benar-benar membuat Abdul bisa bernafas dengan lega. Perum BULOG akan membeli seluruh gabah kering milik petani dengan harga Rp 6.500.

Satu kebijakan itu benar-benar merubah nasib Abdul dan ribuan petani di Indonesia. Kini Abdul bisa bernafas dengan lega. Karena dirinya tidak harus lagi tekor ketika panen tiba. Sebaliknya, Abdul selalu meraup untung hingga jutaan ketika panen. “Mungkin saya tidak lagi jadi petani kalau tidak ada kebijakan itu,” tandasnya.

Kini, setelah adanya intervensi harga, Abdul bisa sedikit bersantai. Dirinya tidak harus terlalu bekerja keras di sawah. Dirinya bisa memperkerjakan banyak buruh tani. Pagi tadi (18/5), Abdul lebih banyak menghabiskan waktu di tepi pematang sawah. Matanya tertuju kepada beberapa buruh tani yang sedang mengerjakan sawah miliknya yang berada di kaki Gunung Wilis.

Abdul kini tak perlu khawatir. Bebannya sebagai seorang petani benar-benar menghilang. Karena menurut hitung-hitungan, dirinya tak akan merugi karena menanam padi. Melainkan akan selalu untung saat masa panen. “Alhamduillah saat ini selalu untung saat panen,” tambahnya.

Lahan pertanian padi di Desa Joho, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur
Lahan pertanian padi di Desa Joho, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur

Bahkan bukan hanya Abdul yang merasakan manfaat dari kebijakan tersebut. Melainkan juga puluhan petani di Desa Joho, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk. Bahkan, menurut Abdul, saat ini banyak anak muda yang mau menjadi petani padi. Bukan tanpa alasan, bagi sebagian anak muda itu, menjadi petani padi adalah pekerjaan yang menjanjikan. “Dulu banyak yang ogah, sekarang jumlahnya terus bertambah,” imbuhnya.

Apa yang dilakukan oleh Perum BULOG tentu selaras dengan tujuan dari Pemerintah Republik Indonesia (RI) dalam mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan. Itu seperti yang dikatakan oleh Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman. Dalam kunjungannya ke Nganjuk pada 14 Mei lalu, pria yang akrab disapa Amran itu menegaskan akan melakukan segala upaya untuk membuat Indonesia swasembada pangan. “Alhamdulillah saat ini, komoditas seperti padi, cabai, hingga jagung sudah tercukupi. Indonesia sudah swasembada pangan,” ujarnya di sela-sela kegiatan Panen Raya Kedelai Ketahanan Pangan TNI Angakatan Laut (AL) Tahun 2026.

Menurut Amran, mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan tentu bukan perkara mudah. Banyak hal yang harus dilakukan. Salah satunya adalah menyejahterakan petani. Ya benar, menurut Amran, kunci dari swasembada pangan adalah kesejahteraan petani.

Bagaimana caranya? Amran menjelaskan, beberapa tahun terakhir, banyak masyarakat, terutama anak muda, yang ogah menjadi petani. Terutama menjadi petani padi. Alasannya satu: Takut harga gabah anjlok ketika panen. Alhasil regenerasi petani di Indonesia tak berjalan lancar.

Padahal, secara hitung-hitungan setiap tahunnya, jumlah petani padi selalu berkurang. Alasannya banyak, mulai dari si petani yang meninggal hingga yang beralih ke pekerjaan lain. Dengan kondisi tersebut, jumlah produksi padi di Indonesia juga ikut terus berkurang. Menyebabkan Indonesia gagal dalam melakukan swasembada pangan dalam beberapa tahun terakhir.

Menanggapi fenomena itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia (RI) memiliki sebuah kebijakan untuk menyetahterakan petani. Yakni dengan memberikan harga tinggi untuk gabah dari petani. “Alhamdulillah petani padi saat ini sudah sejahtera. Bahkan, di harga tengkulak, harga gabah bisa mencapai Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu,” tandasnya.

Kebijakan itu bahkan memberi dampak positif yang sangat cepat. Di tahun 2025 lalu, Indonesia resmi mencatat swasembada beras. Bahkan produksi beras nasional menembus rekor tertinggi hingga mencapai 34,71 juta ton. Sementara konsumsi tahunan berkisar di angka 31,16 juta ton. “Kita targetnya tidak hanya swasembada pangan, melainkan juga bisa mengekspor beras ke luar negeri,” tegasnya. (wib)

Editor : rekian
#perum bulog #petani muda #kabupaten nganjuk