Siti Masruroh adalah salah satu anak muda yang ingin melestarikan kesenian dan budaya Jawa di Nganjuk. Dia tetap setia menjadi penari cucuk lampah. Meski job sebagai penari cucuk lampah di Kota Angin hanya bisa dihitung dengan jari setiap bulan.
“Saya ingin anak muda di Nganjuk mencintai kesenian dan budaya Jawa, khususnya tari cucuk lampah,” ujar Siti Masruroh. Cewek yang dikenal dengan nama panggung Imas Srikandi ini mengaku jika job tari cucuk lampah tidak seramai seniman yang lain, seperti jaranan, penyanyi, atau peniup saksofon. Namun, hal itu bukan halangan baginya untuk tetap bertahan dan setia. Karena di balik usahanya mendapatkan uang dari tari cucuk lampah, dia juga ingin ada penerusnya.
Baginya, tari cucuk lampah adalah warisan nenek moyang. Harus dilestarikan. Karena jika bukan generasi muda yang melanjutkan maka lama-kelamaan seni dan budaya itu akan hilang. Bisa punah atau dicaplok Negara lain.
Imas Srikandi mengaku setiap bulan, dia hanya mendapat job tari cucuk lampah tidak sampai puluhan. Rata-rata hanya 10 job sebulan saat ramai. Itu pun sudah melalui perjuangan ekstrakeras. Dia tidak menunggu order dengan duduk manis. Namun, cewek kelahiran tahun 1999 ini juga gencar promosi. Media sosial (medsos) menjadi sarananya promosi. Foto-foto dan video, saat dia tampil di-upload di medsosnya. Harapannya, calon pengantin ada yang tertarik menggunakan jasanya.
Selain itu, dia juga menawarkan jasanya lewat teman. Semua dilakukan karena Imas Srikandi ingin tari cucuk lampah semakin dikenal masyarakat. “Honor tari cucuk lampah juga hanya Rp 350 ribu-Rp 400 ribu untuk sekali tampil,” imbuhnya.
Imas Srikandi mengatakan, selain ingin melestarikan kesenian tari cucuk lampah dengan tampil di acara pernikahan, dia juga membuka kelas privat untuk anak SMA. Dia juga mengajar tari untuk anak TK, SD, dan SMA. “Saya ingin tari di Indonesia dikenal dan disukai anak-anak,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih melalui Kabid Kebudayaan Amin Fuadi mengaku bangga Imas Srikandi ingin melestarikan tari cucuk lampah. Apalagi, Imas Srikandi masih muda. “Seni tari cucuk lampah ini termasuk seni klasik,” ujarnya.
Oleh karena itu, disporabudpar selalu mendukung seniman untuk melestarikan seni dan budaya asli Indonesia. Salah satu bukti konkret dukungan disporabudpar adalah menyediakan Gedung Balai Budaya Mpu Sendok untuk Festival Wedding. Di acara itu, mulai dari MC, make up, hingga penari cucuk lampah tampil. “Kami selalu siap mewadahi dan mendukung seniman untuk melestarikan seni dan budaya asli Indonesia,” ujarnya.
Penari Cucuk Lampah di Nganjuk Sangat Bahagia karena Hal Ini
Siti Masruroh, 25, warga Desa Ngrami, Kecamatan Sukomoro merasa menjadi orang yang beruntung. Karena dia memiliki hobi yang bisa mendatangkan uang. Dengan menjadi penari cucuk lampah, Imas Srikandi-panggilan akrab Siti Masruroh bisa menyalurkan hobinya dan mendapatkan uang. “Sejak kecil, saya itu suka menari. Jadi, kalau sekarang jadi penari cucuk lampah itu saya senang sekali,” ujarnya.
Sejak duduk di bangku SD, Imas sudah mengikuti ekstrakurikuler tari tradisional. Dia sering dipilih guru untuk tampil menari. Dari situlah, dia mulai tertarik dan mendalami tari. “Dari SD kelas 1 sampai kelas 6, full menari tapi hanya tampil untuk pentas seni saja awalnya,” tuturnya.
Setelah memasuki bangku SMP, Imas sempat berhenti menari. Karena dia ingin meningkatkan prestasi akademiknya. Namun, hati kecilnya tidak bisa dibohongi. Dia sangat cinta dengan tari.
Sehingga, saat masuk SMK, Imas kembali mengikuti ekstrakurikuler seni tari. Dari ekstrakurikuler itu bakat dan kemampuan Imas sebagai penari semakin terlihat. Sejak tahun 2014, dia mulai aktif untuk jadi perwakilan tari dari sekolah bahkan mewakili Kabupaten Nganjuk di ajang perlombaan tari tradisional. “Saya pernah juara 2 pawai tari se-Jawa Timur untuk tari berkelompok dan juara 3 se-Jawa Timur untuk tari individu,” ujarnya.
Setelah lulus dari SMK, dia memutuskan untuk berhenti di dunia tari. Dia sempat bekerja di salah satu koperasi di Nganjuk. Dia menjadi kasir. Sehingga tak punya waktu untuk latihan tari. Namun pekerjaannya tak bertahan lama, setelah dua tahun akhirnya Imas memutuskan resign. Lagi-lagi, hati kecilnya tidak bisa berbohong. Dia ingin menjadi penari. “Gabung lagi ikut nari di acara wedding,” ungkapnya.
Setelah berkeliling menjadi penari wedding, dia bertemu dengan salah satu MC pernikahan asal Kecamatan Sawahan. Dia bernama Basori. Kemudian, kiprahnya di dunia tari cucuk lampah dimulai. “Saya diajari menari cucuk lampah dan prosesi temu manten,” ujarnya.
Karena sudah cocok dengan hati kecilnya, Imas memutuskan bergabung dengan Persatuan Masyarakat Budaya Indonesia (Permadani) Nganjuk. Dia pun terjun secara profesional menjadi penari cucuk lampah.
Seiring berjalannya waktu akhirnya Imas dikenal sebagai penari cucuk lampah. Pertama kali dia menjadi penari cucuk lampah itu tahun 2021. Saat itu, di Nganjuk belum banyak yang mengenal apa itu cucuk lampah di prosesi manten. Masyarakat lebih banyak mengenal penari manten. Padahal itu berbeda. Penari dengan cucuk lampah itu beda. Mulai dari kesakralan dan tari yang dibawakan uga berbeda.
Karena belum banyak yang tahu membuat job cucuk lampah di Nganjuk sepi. Imas lebih sering ke luar kota. Seperti Gresik, Madura, Jombang, Kediri, Malang, Lamongan, hingga Ngawi.
Masyarakat Percaya Bisa untuk Tolak Bala
Tubuhnya dibalut kain jarik, tak ketinggalan dengan aksesoris pelengkap busana Jawa seperti blangkon, sabuk timang, kalung ulur, keris, hingga selop Jawa. Diiringi dengan lantunan gending Jawa, Imas Srikandi menyuguhkan tarian gemulai penuh makna dan menuntun pengantin. Dia seperti Srikandi di tokoh pewayangan.
Imas memilih menjadi penari cucuk lampah dibanding penari wedding. Menurutnya, cucuk lampah lebih sakral dibanding penari biasa. Hal itulah yang tidak banyak diketahui masyarakat. “Cucuk lampah itu merupakan prosesi penolak bala di acara pernikahan,” ujarnya.
Peran cucuk lampah di prosesi pernikahan ini sebagai pembuka jalan kepada pengantin pria yang akan bertemu pengantin perempuannya. Dalam membuka jalan, terkadang ada halangan dan rintangan yang harus disingkirkan. “Nah tugas cucuk lampah inilah untuk melancarkan perjalanan pengantin pria sampai bisa bertemu pasangannya dengan lancar,” ujar Imas Srikandi, panggilan akrab Siti Masruroh Ragam gerak cucuk lampah, lanjut dia, diawali dengan sesembahan. Sebagai simbol meminta ridho Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, sebagai simbol penghormatan kepada pengantin pria. Kemudian, gerakan lampah sebagai simbol pembuka jalan dan menyingkirkan segala rintangan.
Usai menari di depan pengantin, cucuk lampah juga mendampingi prosesi temu manten dari balang gantal, sinduran hingga menuju ke pelaminan. “Mulai dari prosesi ngidak tigan (menginjak telur, red), hingga sinduran dihantarkan menuju kursi pengantin itu saya juga yang mengarahkan. Pokoknya tidak hanya menari tapi juga harus hafal prosesi temu manten karena cucuk lampah juga yang mengarahkan itu,” terangnya.
Penari cucuk lampah menyesuaikan keinginan yang punya hajat mantenan. Bisa sepasang penari, bisa hanya penari pria atau hanya penari wanita. Bila sepasang, mereka akan berperan sebagai Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji. Namun biasanya, Imas berperan sebagai Srikandi. Oleh karena itulah nama panggungnya dikenal sebagai Imas Srikandi. Menjadi penari cucuk lampah itu harus punya wirasa, wiraga, dan wirama. “Menari tidak menggunakan rasa maka aura tariannya tidak akan terasa sehingga tarian itu tidak melekat dan tidak memukau penonton,” tandasnya.
Terpisah, Kabid Kebudayaan Disporabudpar Kabupaten Nganjuk Amin Fuadi membenarkan jika cucuk lampah memiliki beberapa kepercayaan dan pantangan bagi penarinya. Salah satunya penari cucuk lampah harus yang masih gadis bagi perempuan, yang laki-laki juga harus masih perjaka. Meski begitu, Amin mengaku alasan tersebut belum ada penjelasan secara ilmiah. Hanya saja, bagi pecinta seni Jawa pasti paham dengan hal tersebut. “Karena pada faktanya, dengan berjalannya waktu dan perkembangan masih ada cucuk lampah yang sudah berkeluarga. Tapi kalau melihat tradisi yang sebenarnya ya memang harus masih gadis,” tegasnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah