Tradisi nyadran di Desa Sonoageng, Kecamatan Prambon didukung sepenuhnya oleh Pemkab Nganjuk. Bahkan, nyadran terbesar di Kabupaten Nganjuk itu menjadi ikon wisata budaya di Kota Angin. Karena mampu menyedot ribuan wisatawan dan rutin digelar.
“Nyadran di Sonoageng sudah dilaksanakan turun temurun,” ujar Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih melalui Kabid Kebudayaan Amin Fuadi. Sejak tahun 1994, nyadran ini masuk dalam agenda pemkab. Karena itu pemkab selalu mendukung nyadran di sana. Bupati dan Forkopimda Nganjuk juga selalu hadir setiap nyadran di Sonoageng.
Tradisi nyadran di Sonoageng menurut Amin, lebih cocok untuk ikon wisata budaya. Karena banyaknya warga Nganjuk hingga luar kota yang mendatangi Sonoageng hanya untuk melihat prosesi ritual nyadran di sana. “Kalau untuk wisata religi mungkin belum masuk ke arah sana. Lebih cocok ke wisata budaya karena untuk melestarikan kebudayaan dan menghormati leluhur desa,” paparnya.
Amin berharap, masyarakat rutin melakukan tradisi nyadran dengan baik. Sehingga, nyadran di Sonoageng tetap menjadi tradisi nyadran terbesar di Nganjuk dan terlama. Ini karena nyadran dilakukan tidak hanya sehari atau dua hari. Namun, selama 20 hari. Warga bergantian melaksanakan nyadran di makam Raden Said dan Mbah Putri.
Baca Juga: Setelah Kasus di Ngluyu, Bagaimana Kondisi ODGJ di Kabupaten Nganjuk?
Desa Sonoageng sendiri memiliki lima dusun yaitu Dusun Sonoageng, Banyurip, Sumber, Gading, dan Waung. Total penduduknya sekitar 10.000 jiwa. Setiap nyadran selalu digelar berbagai pertunjukkan seni. Mulai dari kesenian wajib yaitu kentrung dan wayang krucil hingga jaranan dan pasal malam. Inilah yang membuat nyadran Sonoageng selalu ditunggu warga. Tidak hanya warga Nganjuk tetapi juga warga luar Kota Angin. “Nyadran itu ya Sonoageng. Kalau tidak Sonoageng ya tidak ramai nyadrannya,” ungkap Susanti, 45, warga Purwoasri, Kabupaten Kediri.
Lokasi Kabupaten Kediri yang berbatasan dengan Nganjuk membuat warga di sana berbondong-bondong ke Sonoageng setiap nyadran. Karena di sana banyak pertunjukkan. “Biasanya malam Minggu kalau mau lihat nyadran dengan anak-anak,” ujar Susanti.