Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Setelah Kasus di Ngluyu, Bagaimana Kondisi ODGJ di Kabupaten Nganjuk?

Ilmidza Amalia Nadzira • Senin, 13 November 2023 | 23:58 WIB

Photo
Photo

Kasus pembunuhan Allisya Saffa, anak taman kanak-kanak (TK) Desa Tempuran, Kecamatan Ngetos membuat keluarga korban trauma dan warga ketakutan. Karena Mariadi, 51, tetangga korban yang mengaku membunuh Allisya tanpa ada alasan dan perasaan bersalah. Diduga Mariadi tega mencangkul dan memukul Allisya dengan batu hingga tewas karena mengalami gangguan jiwa.

Pembunuhan Allisya membuat warga Desa Tempuran menolak keras Mariadi pulang kampung. Jika polisi tidak menetapkan Mariadi sebagai ter­sangka dan membawanya ke pengadilan karena mengalami gang­guan jiwa maka warga me­larang Ma­riadi pu­lang. ”Kami takut Mariadi akan menye­rang dan membunuh anak atau orang lagi,” ujar tetang­ga Mariadi yang enggan namanya dikorankan.

Penolakan tersebut disampaikan langsung ke Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Nganjuk Darmantono saat mengunjungi rumah korban (8/11).

Selain membuat warga Desa Tempuran trauma, warga Kota Angin juga ketakutan dengan ulah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Apalagi, banyak ODGJ berkeliaran di jalan. Bahkan, ada juga yang mengganggu pengguna jalan dengan melempar batu, pasir, dan sandal ke pengguna jalan yang melintas. ”Saya pernah dilempar sandal sama Lastri (ODGJ) saat berangkat sekolah,” ujar Brayen Putra, 16, warga Kertosono.

Photo
Photo


Beruntung, Brayen tidak terjatuh dari sepeda motor. Padahal, saat itu kendaraan di sekitar Jembatan Kertosono sedang ramai. ”Gak tahu kenapa. Tiba-tiba Lastri ngamuk dan melempar sandal ke saya,” ungkapnya.

Hal senada diutarakan Yanuarita, 39, warga Kertosono. Dia mengaku pernah terjatuh karena ulah Lastri. Saat dia mengendarai sepeda motor, ternyata Lastri membuang batu ke jalan raya. Karena tidak menduga ada batu di jalan, ban sepeda motor Yanuarita akhirnya menabraknya. Sontak, dia jadi hilang kendali. ”Jatuh dan luka-luka jadinya,” ujarnya.

Saat mendengar ada pembunuhan anak TK dengan pelaku diduga ODGJ, Yanuarita berharap, pemerintah dan polisi bertindak cepat. Karena ODGJ melakukan perbuatan tanpa sadar. Kemudian, dia tidak bisa dipidana. ”Wong edan iku bebas. Itu yang bahaya,” ujarnya.

Untuk itu, ibu satu anak ini minta agar semua ODGJ dirawat dan diobati. Jangan dibiarkan berkeliaran jika belum sembuh. ”Bahaya jika ODGJ dibiarkan berkeliaran,” ingatnya.
Sementara itu, data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk, penderita gangguan jiwa di Nganjuk mencapai ribuan orang. ”Total ada 2.763 orang dengan gangguan jiwa,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Nganjuk dr Hendriyanto. Dari data di atas, ODGJ paling banyak ada di Kecamatan Prambon. Jumlahnya 418 orang.

Baca Juga: Seperti Apa Agen Pengendali Hayati dengan Drone di Kabupaten Nganjuk

Kemudian, Kecamatan Kertosono sebanyak 223 orang, Kecamatan Tanjunganom 215 orang dan Kecamatan Nganjuk sebanyak 208 orang. ”Yang lainnya tersebar di 16 kecamatan. Karena semua kecamatan ada ODGJ,” ujarnya.

Ironisnya, dari ribuan ODGJ itu mayoritas usianya adalah usia produktif. Penderita ODGJ ini tidak hanya orang gila (penderita berat, Red), tetapi juga orang yang dalam tekanan, stres, depresi dan berperilaku tidak sesuai dengan kebiasan lainnya.

Mantan Direktur RSD Kertosono ini mengatakan, ada banyak faktor penyebab timbulnya kasus ODGJ. Mulai dari faktor ekonomi, genetik, percintaan, depresi dan lingkungan. ’’Ada juga yang karena ditinggal nikah, akhirnya depresi. Tapi, paling banyak karena faktor ekonomi,’’ terangnya.

Hendriyanto mengatakan, agar kasus pembunuhan Allisya tidak terulang, dinkes melakukan pendataan ODGJ. Dinkes juga fokus pada upaya pengobatan ODGJ. Untuk gejala ringan dan sedang, mereka diberi treatment berupa rawat jalan ke puskesmas terdekat.

’’Kalau sudah gejala berat, nanti dirujuk ke RS Lawang, atau ke RSJ Menur. Tapi, itu ada batas waktunya juga, jadi setelah dapat perawatan dan pengobatan, tetap dirujuk lagi ke Nganjuk untuk dapat pengobatan di faskes terdekat,’’ paparnya.

Dia menambahkan, meski jumlahnya mencapai ribuan, namun kabupaten sudah menerapkan bebas pasung bagi penyandang gangguan kejiwaan. Pihaknya juga bekerja sama dengan dinsos dan dispendukcapil untuk proses pendataan serta perawatan bagi ODGJ yang berkeliaran di jalan. ’’Kabupaten Nganjuk sudah bebas dari pasung,” tandasnya.

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pembunuhan #odgj #korban #dinsos