Cobaan Febri Tri Arianto begitu berat. Saat berjuang melawan skizoafektif, dia terpaksa resign dari pekerjaannya. Padahal pada 2019 lalu, kondisi ekonomi keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Ia harus mempilih berobat dan menginggalkan dunua kerja.
Dulu, pria 34 tahun itu bekerja di perusahaan bidang alat sarana dan prasarana untuk sekolah, kantor dinas, dan perkantoran lainnya. Karena bekerja dengan target, ia baru bisa mendapatkan gaji jika sudah mencapai target. “Sebelum berobat, saya bekerjanya kemana-mana, pernah di NTT dan Kalimantan Selatan, lalu terakhir di tempatkan di Nganjuk,” tuturnya.
Ia bekerja dengan tekanan. Setelah memutuskan berhenti bekerja, Febri lalu membangun bisnis di bidang yang sama. Kali ini dia melakukannya bersama sang istri, Ela Sakinah, 34. Dengan modal nekat, keduanya berkeliling ke kantor-kantor dan sekolah-sekolah di seluruh Nganjuk.
Mereka berdua menawarkan barang sarana prasana ke kantor-kantor. Saat usahanya baru berjalan, pandemi Covid-19 melanda di Nganjuk. Keadaan itu membuat ekonominya menjadi mandeg. “Jadi saat itu, benar-benar berada di titik terendah. Kalau orang biasanya mulai dari 0, kami mulai dari minus,” akunya.
Saat semua orang bekerja di rumah masing-masing, Febri masih berkeliaran di luar rumah untuk mencari pelanggan baru. Jika gejala gangguan jiwanya muncul, ia akan merasa sakit. Mulai gangguan kecemasan berlebihan, jantung berdetak cepat, dan asam lambung. “Tapi berkat dukungan istri saya ternyata saya mampu melewati masa-masa sulit itu,” tutur alumnus ITS ini.
Saat ini, usahanya juga mulai lancar. Bahkan ia bisa kirim barang keluar kota. Selain berobat ke dokter jiwa, berbagai pengobatan sudah dilakukan. Termasuk datang ke kiai, hingga pengobatan alternatif. Hal itu karena gejala depresi skizoafektif. Oleh karenanya hingga sekarang, ia masih rutin minum obat.
Editor : Anwar Bahar Basalamah