Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Sosok Survivor Mental Health Asal Kabupaten Nganjuk

Ilmidza Amalia Nadzira • Senin, 6 November 2023 | 20:35 WIB
BANGKIT: Febri Tri Arianto (kanan) dan istri berhasil berjuang mengatasi gangguan masalah kejiwaan.
BANGKIT: Febri Tri Arianto (kanan) dan istri berhasil berjuang mengatasi gangguan masalah kejiwaan.

Febri Tri Arianto punya cerita kelam di masa lampau. Pria 34 tahun itu mengalami pahitnya gejala gangguan jiwa dan gangguan kesehatan mental. Yang membuatnya kian terpuruk adalah tidak mendapat dukungan dari keluarga. Orang-orang terdekatnya abai sehingga sempat terlintas untuk mengakhiri hidup dengan cara pintas.

Gejala gangguan jiwa itu dirasakan Febri sejak lama. Bahkan sebelum menikah, gejala itu sudah mengendap di dirinya. “Puncaknya 2019,” ucapnya. Saat itu, dia tidak bisa tidur selama dua minggu. Dia merasakan kecemasan berlebihan, lalu jantung berdebar, dan asam lambung. Ketika itulah dia kerap berhalusinasi hingga berpikir untuk bunuh diri.

Dalam kondisi yang sangat buruk itu, dia beruntung punya istri yang bisa memahami kondisinya. “Saat itu, istri saya lah yang mengajak untuk berobat ke dokter psikiater. Supaya tahu diagnosis gangguan jiwa apa yang saya alami,” kenang Febri.

Ketika itu, keluarga besarnya tidak percaya jika dirinya mengalami gejala gangguan kejiwaan. Keluarga menduga sakit yang dirasakan Febri hanyalah sakit layaknya orang yang banyak pikiran. Namun semakin lama, ia takut jika gejalanya semakin parah. Hal itu bisa melukai diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.

Berkat dorongan istrinya, Febri berani memilih untuk berobat ke dokter psikiater di Rumah Sakit Daerah (RSD) Nganjuk. “Pertama kali berobat, ke tempat praktik dokter. Saya menceritakan keluhan dan gejala yang saya alami selama ini. Setelah satu bulan berobat, saya di diagnosis skizoafektif,” ujar suami Ela Sakinah, 34, itu.

Dokter memberinya tiga obat yang harus dikonsumsi secara rutin. Yakni obat skizotik, obat depresan, dan obat penenang agar dirinya bisa tidur. Jika tidak diminum secara rutin, ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya. Selain tidak bisa tidur, ia merasa tidak bisa produktif. Badan terasa lemas dan sangat mudah marah. “Pokoknya kalau berobat untuk gangguan jiwa itu kuncinya ya patuhi pengobatannya, karena sakit depresi ini bisa sembuh kok,” tandasnya. Berkat kesungguhannya berobat, Febri sekarang sudah membaik dan dinyatakan sembuh.

Agar bisa membantu orang lain yang mengalami sakit yang sama, dia membentuk komunitas berbagi. Kumpulan ini bisa menjadi wadah untuk mendukung mereka yang mengalami gangguan mental. Tidak hanya itu, komunitas ini juga untuk menggugah kesadaran orang tentang pentingnya kesehatan mental.

Febri yang dulunya adalah seorang pengidap skizoafekti, kini justru menjadi orang yang bisa menjadi tempat sharing dan curhat. Dia banyak menjadi rujukan tempat curhat untuk orang yang kena gangguan jiwa. 

Editor : Anwar Bahar Basalamah