Setelah dari Kampung Sengkuni di Desa Bendolo, Sawahan, Jawa Pos Radar Nganjuk bergeser ke Dusun Sawunggaling, Desa Bagorkulon, Bagor. Dusun ini memiliki cerita unik tentang pantangan pejabat masuk ke kampung tersebut. Erat kaitannya dengan nama Sawunggaling yang bermakna ayam jago yang kuat.
”Pejabat jika ingin masuk Dusun Sawunggaling harus melalui dusun lainnya di Desa Bagorkulon terlebih dulu,” ujar Gudianto, Kaur Keuangan Desa Bagorkulon. Menurut kepercayaan warga setempat, jika langsung ke Dusun Sawunggaling pejabat tersebut bisa terkena musibah. Karena itu, pejabat memilih mengunjungi Dusun Sadang sebelum ke Sawunggaling.
Dalam bahasa Jawa, Sawunggaling terdiri dari dua kata. Sawung berarti ayam jago atau ayam jantan. Sedangkan Galing diambil dari kata galih yang diibaratkan laki-laki yang kuat. Artinya, Sawunggaling memiliki makna ayam jago yang kuat.
“Dulu, di sini ada ayam jago berukuran kecil tapi selalu menang jika diadu. Makanya di tugu gapura pintu masuk dusun ini ada gambar ayam jago,” ucap Kaur Keuangan Desa Bagorkulon, Gudianto. Dari cerita yang didapat turun-temurun, ayam jago dari dusun itu kuat-kuat meski tubuhnya lebih kecil dari ukuran ayam jago pada umumnya.
Bahkan, masyarakat di desa itu percaya jika ayam jago yang asli dari Dusun Sawunggaling punya keunggulan. Dan selalu menang jika diadu dengan jago dari luar daerah. “Sekarang adu ayam sudah hilang karena dilarang, tapi pada zaman dulu di mana-mana ada ya adu ayam. Ayam jago dari sini pasti selalu menang,” tutur Gudianto.
Dia menyebutkan, Dusun Sawunggaling ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram. Seorang prajurit bernama Ki Punggul adalah orang yang pertama kali babat alas di desa itu. Masyarakat di sana percaya, Ki Punggul adalah orang yang menemukan ayam jago bertuah di dusun itu.
Dia kerap mengikutkan ayamnya untuk diadu. Dan selalu menang. Kemenangan ayam jagonya itu menarik minat orang dari luar daerah. Banyak yang ingin membelinya. Namun Ki Punggul ogah menjualnya. Namun jika ada warga dari luar yang ingin mengawinkan ayam mereka dengan ayam jago Sawunggaling masih diperbolehkan.
Walau ayam jago dan si empunya sudah tiada masyarakat percaya kekuatannya masih ada sampai sekarang. “Orang ‘pintar’ di Dusun Sawunggaling bisa merasakan kalau ayam jago milik Ki Punggul ini seperti masih hidup dan berkeliaran di Sawunggaling,” tandas Gudianto.
Karena itulah Dusun Sawunggaling masih dipercaya sebagai daerah yang memiliki ayam jago yang kuat. Untuk menggambarkan keberadaannya, masyarakat menjadikan ayam jago berwarna putih di gapura masuk Dusun Sawunggaling.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah