Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jelajah Desa Unik di Nganjuk: Kampung Sengkuni Tempatnya Orang Usil di Nganjuk

Iqbal Syahroni • Jumat, 22 September 2023 | 21:09 WIB

Photo
Photo

Kecamatan Sawahan menyimpan banyak sekali desa yang punya cerita unik. Setelah Desa Ngliman dengan tradisi gombak kuncungnya. Wilayah yang berada di lereng Gunung Wilis itu juga memiliki Kampung Sengkuni. Perkampungan itu dihuni oleh orang-orang usil. Lokasinya berada di Dusun/Desa Bendolo, Kecamatan Sawahan, KabupatenNganjuk.

Jarak Kampung Sengkuni dari desa asal gombak kuncung mencapai 15 kilometer. Berada di bagian selatan Desa Ngliman, Sawahan. Untuk memudahkan penjelajahan, wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk mencari kantor Desa Bendolo, Sawahan. Dari kantor pemerintahan desa, pintu masuk ke Kampung Sengkuni hanya berjarak 200 meter. Penandanya adalah gapura bertulis Kampung Sengkuni.

Meski Sengkuni dikenal sebagai tokoh antagonis, masyarakat yang tinggal di kampung itu merasa nyaman disibut sebagai orang Sengkuni. “Kalau dari etimologinya, tokoh ini (Sengkuni, Red) memiliki sifat jahat, suka mengadu domba, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kemenangan,” terang Amin Fuadi, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disporabudpar Nganjuk.

Faktanya, warga di kampung itu tidak punya karakteristik dan sifat seperti tokoh di pewayangan.
Karakter masyarakat Kampung Sengkuni yang paling dikenal adalah keusilannya mengerjain warga dari luar desa. Sifat jahil itulah yang lekat dengan kata Sengkuni. “Jadi yang distempel memeliki sifat Sengkuni di sana bukanlah perbuatan jahatnya. Tapi keusilan masyarakat yang suka jahil terhadap tamu dari luar desa” papar Amin.

Baca Juga: Agus Frihannedy Raih Penghargaan PHD Teraktif 2023

Apa saja keusilan yang sering diperbuat warga Kampung Sengkuni? Yang selama ini kerap terjadi adalah keusilan warga menyembunyikan sandal atau sepatu para tamu dari luar desa. Perbuatan itu hanya sebatas bahan untuk bercanda. Setelah pemiliknya pusing mencari sandalnya, dan mengaku menyerah maka warga yang menyembunyikan sandal akan mengembalikannya. Tidak ada niat untuk mencuri.

Menurut Amin, keusilan warga di Kampung Sengkuni itu seperti bercandanya anak-anak atau sahabat karib. Mereka melakukannya tanpa membuat korbannya menjadi celaka atau teraskiti. Salah satu korban keuislan masyarakat Kampung Sengkuni adalah stafnya di dinas pemuda, olahraga, kebudayaan dan pariwisata (disporabudpar). “Waktu itu staf saya sedang melakukan penelitian sumber mata air di sumber mata air di sana. Setelah lama disembunyikan akhirnya ya dikembalikan,” ujar Amin.

Perilaku usil warga itu dibenarkan Parlan, 58, Ketua RT02/RW02 di Dusun/Desa Bendolo, Sawahan. Dia tidak keberatan dengan label warga Sengkuni. Meski tahu tokoh pewayangan itu punya sifat jahat, Suparlan tidak pernah mempersoalkan penyebutan Sengkuni untuk warga di kampungnya. Sebab, keusilan itulah yang menurutnya menjadi cikal bakal munculnya Kampung Sengkuni.

“Berawal dari ucapan warga sendiri yang waktu itu jadi korban keusilan, dia nyeletuk: wooh, Sengkuni tenan we (dasar kamu Sengkuni, Red), disitu lah nama Sengkuni menjadi populer dan menjadi nama kampung,” papar bapak tiga anak itu. Dia juga memastikan, warga yang usil juga tak benar-benar memiliki sifat Sengkuni yang jahat. Justru keusilan itulah yang membuat warga semakin erat.

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#cerita unik #jelajah #desa #desa unik