Bagi warga Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, memelihara gombak kuncung tentu memiliki tantangan tersendiri. Apalagi mereka yang baru punya anak pertama. Memelihara kuncung jauh lebih rumit dari gombak.
“Kenapa to, tidak dipotong?” pertanyaan sekitar sepuluh tahun lalu masih terngiang di kepala Sunarti. Ibu 38 tahun itu kesulitan menjelaskan alasan merawat kuncung kepada anak perempuannya yang saat itu masih berusia 8 tahun.
Sunarti merasa lebih rumit memelihara kuncung daripada gombak karena anak perempuannya kerap merasa risih. Apalagi saat kuncung mulai memanjang, anaknya kerap protes karena merasa rambut kuncungnya mengganggu wajah.
Sebagai anak perempuan, anak perempuannya ingin rambutnya tumbuh dengan bagus dan rapi. Tidak dibuat panjang sebelah. Sunarti pun harus ekstra sabar menghadapi pertanyaan anaknya. Kerumitan itu diperparah karena Sunarti merupakan warga pendatang yang berasal dari Prambon.
Baca Juga: Bupati Marhaen Djumadi Tingkatkan Kapasitas Lembaga Desa di Lengkong
Sebagai warga dari luar Desa Ngliman, Sawahan, dia kesulitan menjelaskan alasan anaknya harus dikuncung. “Dulu, anak pertama saya tidak suka rambutnya dibuat kuncung. Dia merasa model rambutnya aneh,” ungkap ibu tiga anak itu.
Beruntung, Lunari, suaminya dan Lasmirah, mertuanya, ikut membantunya untuk menjelaskan tradisi gombak kuncung tersebut. “Karena suami dan mertua bercerita tentang tradisi ini (gombak kuncung, Red,) lebih detail, anak saya bisa menerimanya. Butuh waktu lama,” aku Sunarti.
Setelah punya anak kedua dan ketiga, dia merasa lebih siap. Apalagi kedua anaknya laki-laki.
Menurutnya, merawat gombak tidak serumit kuncung. Karena anak laki-laki lebih cuek dan tidak pernah protes. Rambut kuncung pada anak pertamanya baru dipotong setelah masuk masa baligh.
Sama seperti Sunarti, Yuli Purnami, 29, juga merasa demikian. Ibu dari Arindra Meidian Ayura, 7, itu mengatakan, anak perempuan selalu punya keinginan tampil cantik. Ketika si buah hati minta dipotong, rambut kuncungnya terpaksa dibiarkan panjang. “Ya sekarang rambutnya panjang sebelah,” ungkapnya. Anaknya pun kerap menanyakan terkait dengan kuncungnya. Dia juga harus menjelaskannya dengan sabar.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah