Widjisianti Priatna merupakan salah satu kepala desa perempuan di Kecamatan Tanjunganom. Dia sudah tiga periode menjabat sebagai Kepala Desa Wates. Perjalanan menjadi kepala desa pun tidak langsung mulus.
Perempuan berusia 51 tahun itu pertama kali menjabat sebagai kades pada 1999. Saat itu masa jabatannya masih delapan tahun. Ketika pemilihan kepala desa untuk periode kedua pada 2007 lalu, Widji-sapaan akrab Widjisianti Priatna, kembali macung sebagai kandidat incumbent.
Langkahnya untuk menduduki jabatan kades di periode kedua pupus. Dia kalah berkompetisi. Kekalahan itu tidak membuatnya patah arang. Ibu dua anak itu memutuskan untuk merantau ke Kalimantan Barat. “Saya ikut suami,” akunya sembari mencari pengalaman baru di perantauan.
Sebagai perempuan, Widji sudah memupuk mentalnya untuk menjadi pribadi yang tangguh. Lulus SMA, dia merantau ke Surabaya. Dia melanjutkan pendidikannya di Universitas Surabaya (Unesa). Lulus dari perguruan tinggi, dia diterima mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Surabaya.
Ketika itu, dia merasa pekerjaannya sebagai guru terlalu nyaman. Widji lalu mencoba tantangan baru. Dia merasa terpanggil untuk memajukan kampung halamannya dengan menjadi kepala desa. Dia memutuskan berhenti mengajar dan ikut kontestasi pemilihan kades pada 1999. Saat itu dia dipercaya memimpin Desa Wates untuk periode pertama.
Setelah kalah di 2007, Widji yang merantau ke Kalimantan Barat diminta kembali ke kampung halamannya. “Masyarakat yang minta saya pulang (ke Desa Wates, Red) karena mereka rindu,” ujar Widji.
Kepemimpinannya selama delapan tahun rupanya masih membekas di hati masyarakat. Sehingga ketika maju lagi di pilkades 2013 dan 2019, dia tetap dipercaya masyarakat untuk memimpin Desa Wates. “Saya sendiri tidak menyangka bisa menjadi kepala desa,” ucapnya sembari tersenyum.
Selama belasan tahun menjadi kades, ada banyak kejadian yang sulit dia lupakan. Misalnya, ada salah satu warganya yang sudah lansia minta dibantu untuk melamar kekasihnya yang juga masih satu desa. Saat itu, lansia laki-laki datang kepada Widji untuk meminta restu sekaligus menyampaikan kepada anak-anaknya agar dibolehkan menikah lagi.
“Ya saya sampaikan kepada anak-anaknya, mereka pun mengerti dan merestui ayahnya. Saat itu, si lansia langsung melamar,” kenangnya. Baginya, menjadi kades harus selalu standby menyelesaikan tiap masalah. Dia bahkan menyediakan waktu untuk menjadi tempat curhat para warganya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah