Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
NGANJUK, JP Radar Nganjuk- The Carnival mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Selama sepuluh bulan beroperasi, The Carnival tidak mampu menyedot pengunjung. Padahal, objek wisata yang sebelumnya bernama Taman Rekrasi Anjuk Ladang (TRAL) milik Pemkab Nganjuk ini sudah dipermak dan dikelola pihak ketiga. Yaitu, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Nganjuk.
Namun ternyata, tetap sepi pengunjung. “Setiap bulan selalu minus rata-rata Rp 20 juta,” ujar Rizky Pramudya, pengelola The Carnival Nganjuk, kemarin.
Jika sebulan minus Rp 20 juta maka kerugian selama sebulan menembus Rp 200 juta. Kerugian itu belum termasuk investasi yang telah dikeluarkan yang kabarnya mencapai miliaran rupiah untuk membangun sejumlah wahana permainan di sana.
Baca Juga: Ini Perjuangan Kades Cepoko Berbek saat Masih Kuliah
Rizky mengatakan, biaya operasional The Carnival sangat tinggi. Awalnya, karyawan di sana mencapai puluhan orang. Karena ada banyak wahana permainan yang ditawarkan dan harus membersihkan dan merawat lahan seluas 1,2 hektare. Belum lagi, biaya listrik. Sebab, The Carnival ini memiliki konsep permainan malam hari. Bahasa kerennya ingin menjadi Nganjuk Night Carnival (NNC) seperti Batu Night Spectacular (BNS).
Selama 10 bulan beroperasi, Rizky mengungkapkan, tiket masuk The Carnival yang terjual hanya 13.092 lembar. Ini artinya, rata-rata pengunjung setiap bulan hanya sekitar 1.300 orang. Jika dihitung per hari hanya ada 43 orang setiap harinya. Bahkan, saat ini jumlah tersebut terus mengalami penurunan. “Semakin sepi setiap harinya,” keluh Rizky.
Dengan hanya mampu menjual 13.092 lembar tiket maka pendapatan dari tiket masuk sekitar Rp 200 jutaan atau rata-rata sebulan hanya Rp 20 jutaan. Karena harga tiket masuk untuk hari Senin-Jumat Rp 15 ribu. Sedangkan, Sabtu-Minggu, harga tiket masuk sebesar Rp 20 ribu. Uang tersebut tidak masuk 100 persen ke pengelola The Carnival. Namun, harus dibagi atau sharing dengan Pemkab Nganjuk. Karena The Carnival yang sebelumnya bernama TRAL adalah aset Pemkab Nganjuk. “Untuk tiket masuk Rp 15 ribu itu kami hanya menerima Rp 9.500,” ungkap pengusaha muda ini.
Baca Juga: Produksi Bawang Merah Nganjuk Tahun Ini Merosot, Begini Penjelasan Petani
Terpisah, Tria Maharani, 34, warga Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk mengaku jika harga tiket masuk The Carnival terlalu mahal. Karena pengunjung di The Carnival tidak sendirian. Rata-rata mereka ke sana dengan anak dan suami. Minimal pengunjung merogoh uang Rp 45 ribu untuk bermain di The Carnival. “Harusnya lebih murah. Karena ini kelasnya Nganjuk,” ujarnya.
Selain itu, wahana permainan yang ditawarkan di The Carnival juga dianggap tidak terlalu istimewa. Mirip seperti pasar malam. “Kalau sudah sekali ke sini, pasti enggan mau balik lagi,” ujar Tria.
Rata-rata pengunjung di The Carnival adalah orang yang penasaran dengan perubahan TRAL. Mereka berwisata di sana hanya ingin melihat kondisi dan wahana permainan yang ada di dalamnya. Karena sebelumnya, TRAL ini dalam kondisi yang mangkrak. Pengunjung hanya bisa dihitung dengan jari saat itu. “Saya ke The Carnival ini juga sekali ini karena penasaran saja,” ujarnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.