Sebanyak 72 siswa SMA/SMK sederajat se-Kabupaten Nganjuk digembleng di lapangan GOR Bung Karno. Mereka dilatih anggota TNI untuk persiapan pengibaran bendera Merah Putih saat upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Siswa gabungan beberapa sekolah itu berlatih setiap hari agar disiplin dan bisa memberikan yang terbaik untuk Kota Angin.
“Ayo luruskan!!!” teriak salah pelatih kepada pasukan Paskibraka Kabupaten Nganjuk, Kamis (3/8) lalu. Para pelajar itu yang dididik khusus oleh anggota Polres Nganjuk, Satpol PP dan TNI Kodim 0810 sejak 26 Juli lalu untuk menjadi pasukan pengibaran bendera saat 17 Agustus 2023 nanti.
Anggota TNI yang melatih puluhan siswa yang rata-rata duduk di bangku kelas 11 itu adalah Peltu Budi Santoso. Setiap kali memberi aba-aba, suaranya lantangnya terdengar hingga jarak 100 meter. Lokasi latihan anak-anak Paskibra itu berada di lapangan GOR Bung Karno, Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan/Kabupaten Nganjuk.
Saat itu, jarum jam sudah menunjukkan angka 08.00, pasukan Paskibraka yang sudah terpilih dari beberapa sekolah itu sudah memulai latihan. Pelatih meminta agar barisan dengan formasi 17, 8, dan 45 bisa sejajar.
Budi meminta seluruh anggota paskibraka fokus. Dia mengingatkan kepada seluruh peserta bila hari pengibaran semakin dekat. “Kami sudah meminta komitmen anggota paskibraka, pelatih, orang tua, dan guru agar latihan persiapan pengibaran bendera bisa maksimal,” ujar Samsodin, Kabid Pemuda dan Olahraga Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk.
Dia menjelaskan, guru, anak, dan orang tua sudah sangat paham dengan konsekuensi ikut paskibraka. Anak-anak itu harus mendapat latihan ekstra keras dan disiplin. “Alhamdulillah, memang tidak ada yang mundur sampai hari ini (Kamis (3/8), Red),” ujar Samsodin.
Peserta Paskibraka Galang Fadilah Akbar, 17, merasakan sakit pada tubuhnya pada waktu hari pertama saja. Waktu pertama dilatih Budi, dia merasakan sakit perut dan sedikit mual. Saat pertama kali digembleng, dia bersama 71 pasukan Paskibraka Kabupaten Nganjuk melakukan kegiatan fisik yang ekstra keras. “Mulai dari jalan berkilo-kilo, lalu merangkak, dan berjalan menyisir sungai. Tidak hanya itu kami juga memutar ke kuburan di Begadung, lalu jalan lagi ke sini (GOR Bung Karno, Red),” paparnya.
Rrasa sakit itu yang dialami siswa SMAN 2 Nganjuk itu hanya sesaat saja di hari pertama. Buktinya, hingga kemarin, dia masih bertahan sebagai pasukan Paskibraka Kota Angin. Dia merasa bangga bisa gabung menjadi anggota Paskibaraka Nganjuk dan berkomitmen tidak ingin mundur.
M. Danis Wahyu Ardiansyah, 17, juga merasa perjuangan yang sama. Dia juga tidak akan berhenti sampai hanya berlatih saja. “InsyaAllah bisa kuat, dan lancar sampai hari pengibaran,” ungkapnya dengan tegas.
Meski beraltih di bawah terik matahari di musim kemarau, ke-72 siswa-siswi itu tampak bersemangat. Teriakan komando dari pelatih juga menjadi vitamin dan penyemangat bagi para siswa. Semua dilakukan untuk Indonesia.
Urunan Membeli BBM untuk Latihan
Antusias dan semangat anggota Paskibraka Nganjuk patut diacungi jempol. Itu tergambar dari beberapa anggota yang rumahnya jauh dari lokasi latihan. Seperti yang dilakukan Fajar Aisyah Al Kusuma, 16, siswi SMAN 1 Kertosono itu harus berjuang menempuh jarak 35 kilometer untuk ikut latihan. “Saya berangkat dari rumah saya di Jombang,” ujarnya siswi kelas 11 itu. Dia tinggal di Bandarkedungmulyo, Jombang dan sekolah di Kertosono, Nganjuk, Sejak 26 Juli lalu dia selalu ikut latihan ke GOR Bung Karno, di Kelurahan Begadung, Nganjuk.
Untuk berangkat ke lokasi latihan, Aisyah tidak sendirian. Ada tujuh orang lainnya yang berangkat dari Kertosono. “Dari sekolah saya ada 8 yang ikut Pasikbraka. Kami berangkat bareng naik mobil dan diantar orang tua teman,” ungkapnya.
Untuk menjaga kekompakan, mereka selalu berangkat bersama-sama saat latihan. Agar setiap berangkat bisa hemat, dia dan temannya-temannya urunan untuk biaya berangkat latihan. “Kami urunan beli bensin mobilnya,” papar Aisyah kepada Jawa Pos Radar Nganjuk. Dengan cara itu, Aisyah mengaku, tidak terlalu boros. Apalagi yang dia kerjakan itu worth it.
Ia merasa, menjadi bagian Paskibraka ini adalah kesempatan yang sulit diulangi. Sekali untuk seumur hidup. Makanya ia tidak ingin kesempatan yang sudah didapatkan dan impikan sejak duduk di bangku SMP itu menjadi sia-sia.
Berbeda dengan Aisyah, Galang Fadilah Akbar, 17, siswa asal Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambon itu rela ngekos di Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan/Kabupaten Nganjuk. Dia memutuskan untuk mencari kos-kosan setelah tiga hari mengkuti latihan pada 26 Juli.
“Sebelumnya, ya PP (Pulang-pergi, Red), seperti Aisyah dan teman-teman dari Kertosono,” ujarnya. Dia memilih kos selama satu bulan. Dengan cara itu, dia bisa datang ke lokasi latihan lebh cepat. Dia juga mengaku bisa hemat tenaga dan waktu.
Dia tidak sendirian. Teman satu kos yang juga anggota paskibra ada satu anak dari Ngronggot. Mereka selalu berangkat bersama-sama saat latihan. Bagi mereka, jarak bukanlah masalah. Selalu ada solusi ketika mereka benar-benar menginginkannya. Apalagi, jika menjadi bagian dari Paskibraka, ini adalah langkah untuk membangun disiplin yang tinggi bagi para siswa.
Seperti Galang yang ingin mengejar cita-cita menjadi polisi, merasa bila menjadi anggota paskibraka bagian dari Langkah kecil untuk mendisiplinkan diri. Semua, akan dilakukan dengan serius.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah