NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Penyakit diare tidak bisa dianggap enteng. Penyakit itu bisa menimpa siapa saja. Jika penanganannya terlambat, penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Mereka yang paling rentan meninggal dunia akibat diare adalah balita. Yakni usia nol sampai lima tahun.
Kepala Dinkes Kabupaten Nganjuk dr Hendriyanto melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) I Ketut Wijayadi mengatakan, balita yang kena diare akan sulit diselamatkan bila kondisinya sudah parah. Terutama karena mengalami dehidrasi. Dalam keadaan itu, pembuluh darah pada balita bisa tenggalam.
“Kalau sudah tenggelam tidak bisa menerima infus,” kata Ketut Wijayadi atau akrab disapa Ikhrom. Jika itu terjadi maka balita paling rentan menyebabkan kematian. Dia bersyukur, sejak 2022 lalu tidak ada satu kasus diare yang meninggal dunia. Di tahun lalu, mereka yang kena diare ada sebanyak 9.315 orang.
Adapun semester awal tahun ini, yang kena diare mencapai 5.142 orang. “Jika dirinci ada 1.605 balita yang kena diare. Dan 3.537 orang dewas,” ungkap Ikhrom. Hingga Juli ini, dinkes juga tidak mencatat ada kematian atas kasus tersebut.
Meski nihil kematian, Ikhrom meminta masyarakat tetap waspada. Terutama untuk warga yang suka membuang pampers sembarangan. Apalagi pampersnya masih ada kotoran bayinya. Menurut Ikhrom, diare bisa muncul karena adanya pencemaran lingkungan.
“Masalahnya memang di sanitasi lingkungan. Masih banyak ibu-ibu yang membuang sampah berisi pampers bayi, namun kotorannya tidak dibersihkan terlebih dahulu. Dibuang begitu saja di pinggir jalan atau di pinggir sungai. Itu salah satu penyebab meningkatnya penyakit diare,” jelas Ikhrom.
Dia menyayangkan adanya prilaku tersebut. Sebab Kabupaten Nganjuk ini termasuk kabupaten Open Defecation Free (ODF) atau Bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Namun karena masalah sanitasi lingkungan yang masih kurang terjaga, menjadi penyebab meningkatnya kasus diare.
Terpisah, petugas kebersihan di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Kelurahan Mangundikaran juga menyampaikan penjelasannya. “Saya perhatikan, di sekitar rumah-rumah warga juga masih banyak ibu-ibu yang membuang sampah pampers yang isinya masih ada kotorannya. Tidak dibersihkan. Seperti di pinggir lapangan atau jalan, pinggir sungai, dan di bawah jembatan,” terang Agus Susanto, 37, asal Kelurahan Mangundikaran.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah