Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengintip Peternak Kambing di Kabupaten Nganjuk Menjelang Idul Adha

Iqbal Syahroni • Senin, 26 Juni 2023 | 21:46 WIB
PENGGEMUKAN: Sumardi, peternak asal Sukomoro mengecek puluhan ekor kambing miliknya. Menjelang Hari Raya Idul Adha, harga domba mengalami kenaikan hingga Rp 250 ribu per ekor.
PENGGEMUKAN: Sumardi, peternak asal Sukomoro mengecek puluhan ekor kambing miliknya. Menjelang Hari Raya Idul Adha, harga domba mengalami kenaikan hingga Rp 250 ribu per ekor.

Peternak domba dan kambing mendapat berkah Idul Adha tahun ini. Meski tidak secara khusus menjual hewan kurban, mereka dapat limpahan permintaan yang tinggi. Harga pun terkerek karena permintaan yang tinggi.  

Salah satu peternak yang merasakan dampak kenaikan itu adalah Sumardi, peternak kambing dan domba asal Kelurahan/Kecamatan Sukomoro. Dua bulan menjelang Lebaran Haji, pria 49 tahun itu sudah menjual 20 ekor domba dan kambing. Karena permintaan yang tinggi, harganya pun sedikit terkerek.

“Naiknya sekitar Rp 250 ribu per ekor,” kata Sumardi. Jika harga normal seekor domba dibanderol Rp 1 juta, sekarang naik menjadi Rp 1,25 juta. Padahal domba dan kambing yang dijual mulai dari yang anakan hingga induk. Harganya pun dipatok mulai dari Rp 700 ribu sampai Rp 4 juta.

 Baca Juga: Pedagang Kambing Kurban di Nganjuk Sepi Pembeli

“Dua bulan lalu penjualannya bisa sampai Rp 25 juta,” katanya. Banyak konsumennya membeli anakan, mereka merawat sendiri hewan itu sampai memenuhi syarat untuk dipotong pada saat Idul Adha. Adapun domba dan kambing miliknya yang sudah poel sudah habis. Dia menyediakan pemotongan khusus untuk kegiatan aqiqah hingga ke penjual sate.

Bapak tiga anak itu sudah sekitar delapan tahun menggeluti peternakan kambing dan domba. Meski harga penjualan kambing dan domba sangat menjanjikan pada saat Lebaran Haji, pria berkaus putih merah itu belum berminat untuk menjual secara khusus hewan kurban.

Dia lebih suka menyediakan hewan anakan karena lakunya cepat. Sumardi mengaku bisa menjadikan hewan ternaknya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena itu, jika dia membesarkan hewan khusus kurban waktunya cukup lama. Sementara dia butuh pemasukan untuk menghidupi keluarganya.

 Baca Juga: Belum Semua Pedagang Kambing Kurban di Nganjuk Kantongi SKKH, Apa Itu?

“Saya masih fokus breeding bukan fattening untuk kurban. Kalau breeding, fokusnya pada domba betina. Nah, kalau memang dari hasil breeding ada yang jantan maka itu yang saya jual,” paparnya.

Sumardi mengatakan, permintaan kambing dan domba menjelang Idul Adha mengalami kenaikan. Jika tahun-tahun sebelumnya hanya bisa menjual 5-10 ekor selama dua bulan menjelang Idul Adha, penjualan tahun ini meningkat drastis mencapai 20 ekor. Masih ada kemungkinan penjualan terus bertambah.

Ampas Tempe untuk Pakan
Ilmu breeding kambing dan domba yang digeluti Sumardi diperoleh secara turun temurun. Dia berternak dengan metode tradisional dari ayahnya yang juga menjadi peternak kambing. Bedanya, sang ayah ikut membesarkan kambing jantan yang dijual khusus untuk kurban dan sebagian besar dibawa ke pasar.

Sumardi mengaku, metode perawatan yang dilakukan selama ini sama dengan ayahnya. Yang berbeda adalah cara memasarkannya. Dia memilih pasar khusus. Yakni menyediakan kebutuhan penjual sate dan orang yang hendak aqiqah. Bapak tiga anak itu tidak pernah mengira bakal meneruskan usaha peternakan kambing.

“Semuanya berawal dari ampas tempe,” ucap pria yang masih berjualan tempe tersebut. Sebagai pembuat tempe, pria 49 tahun dulu sempat kebingungan membuang ampas olahan tempenya.

Agar ampas tempenya tidak terbuang sia-sia, dia lantas menjadikan ampas tempe itu sebagai bahan pakan domba dan kambing. Biasanya, ampas tempe itu banyak dimanfaatkan untuk pakan sapi. Dan ternyata, domba yang dipeliharanya dengan memberi umpan ampas tempe itu sehat dan besar-besar.

Pembelinya merasa puas. Sumardi akhirnya menambah lagi jumlah ternaknya. Hingga sekarang jumlah mencapai puluhan ekor kambing dan domba. Karena umpan utama yang diberikan adalah ampas tempe, dia bisa berhemat Rp 500 ribu untuk pengeluaran pakan ternak. 

“Untuk makanan utama, bisa dibilang tidak mengeluarkan uang sama sekali. Kalau untuk vitamin dan suplemen harus beli. Tidak bisa kalau hanya diberi makan ampas tempe dan rumput saja,” kata Sumardi.

Dia menceritakan pengalaman pahitnya, bangkrut pada 2017 lalu. Sebanyak 17 domba di kandangnya mati karena sakit. Akibat peristiwa itu, dia harus mengubur dan membakar 17 hewan ternak yang telah dibesarkan lebih dari 2 tahun itu.

Berkat ampas tempe, dia bisa bangkit dari keterpurukan. Sumardi bisa berhemat dari bahan makanan. Dari penghematan bahan makanan itulah dia bisa membeli domba dan kambing breeding di kandangnya. “Tapi selama 3-4 bulan, kandangnya saya sterilkan,” katanya.

Hingga kemarin, Sumardi punya 27 domba. Ada empat yang masih berusia satu minggu. Hal yang sama juga dilakukan Suharti, 41, peternak asal Kelurahan/Kecamatan Sukomoro. Dia merasa hasilnya meski baru berternak selama 1,5 tahun. “Awalnya juga jualan tempe. Terus coba beternak di belakang rumah ini hasilnya bagus,” imbuhnya. Suharti dan Sumardi bisa menjalankan dua aktivitas sekaligus. Berjualan tempe sekaligus berternak kambing.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#idul adha #peternak #peternak kambing #kabupaten nganjuk #kurban