“Kalau tidak begini tidak akan mendapatkan perhatian dari pemerintah,” ujar Resky Ramadan. Pemuda 20 tahun asal desa setempat itu mengatakan, penanman pohon pisang itu dilakukan bersama-sama agar tidak ada lagi korban yang jatuh di jalan berlubang.
Panjang jalan yang rusak itu mencapai 1,5 kilometer. Beberapa pohon pisang diberi tulisan yang menggelitik sebagai bentuk protes tersebut. Seperti ‘Dalan Menuju Ilahi’ lalu ada juga ‘Jalan 1000 Lubang Biking Orang Tumbang’ dan kalimat yang sedang populer saat ini ‘Jalan Rusak Ni Booos, Senggol Donk’. Terus, ‘Jalan Berlubang Tak Senikmat Lubang Berjalan’.
Tulisan itu dibuat di kertas karton. Lalu ditancapkan di pohon pisang. Warga yang memasang pohon itu tidak ingin ada lagi pengendara yang jatuh. Seperti diungkapkan Lilik Purwanti, 46, warga setempat, pada saat hujan, genangan air pada jalan berlubang membahayakan para premotor.
“Paling banyak kecelakaan tunggal,” tegas Lilik. Aksi tersebut mendapat perhatian Mashudi, anggota Komisi I DPRD Nganjuk, yang menegaskan bila kerusakan jalan itu disebabkan karena usia jalan yang sudah lama.
Apalagi saat turun hujan, jalannya menjadi mudah mengelupas dan berlubang. “Satu minggu ini harus segera diperbaiki,” tergas politisi PDI Perjuangan setelah meninjau jalan tersebut. Dia meminta jalan itu segera diperbaiki karena anggarannya sudah ada dan tinggal direalisasi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Nganjuk Gunawan Widagdo mengatakan, pihaknya sudah melakukan survey untuk melihat kondisi kerusakan jalan. Gunawan tidak membantah bila pihaknya sudah mempersiakan rencana perbaikan jalan di sana.
“Perbaikan untuk jalan rusak di Desa Dadapan ini sebenarnya sudah di dianggarkan masuk ke dalam Rancangan Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Tinggal direlaisasi saja,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah