Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis Menjadi Magnet Wisatawan

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 26 Desember 2022 | 19:07 WIB
SARANGHAEYO: Wakil Menteri Desa PDTT Budi Arie Setiadi bersama istri berfoto di depan Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis setelah acara. (Foto: Andhika Attar)
SARANGHAEYO: Wakil Menteri Desa PDTT Budi Arie Setiadi bersama istri berfoto di depan Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis setelah acara. (Foto: Andhika Attar)
Potensi wisata di Dusun Curik, Desa Bajulan, Loceret sangat tinggi. Dengan Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis sebagai poin utamanya. Hampir setiap hari pasti ada pengunjung yang datang ke sana. Ada yang ingin sekadar berswafoto maupun pemotretan untuk prewedding. “Nggak hanya akhir pekan saja. Setiap hari pasti ada yang ke sini untuk foto-foto,” ujar Dharma, 30, salah satu warga setempat.

Menurutnya, latar belakang pengunjung tersebut cukup beragam. Namun mayoritas adalah remaja. Spot foto andalan di sana ada dua. Yaitu di gapura masuk pura dan pintu masuk tempat sembahyang. Dua spot ini menjadi pilihan utama. Pasalnya ornamen Bali sangat kuat.

Untuk dapat berkunjung dan mengambil foto, umat Hindu di sana tidak mempermasalahkannya. Justru senang bisa dikenal banyak orang. Hanya saja, wisatawan harus tetap berlaku sopan dan mematuhi aturan yang ada. Karena pura merupakan tempat ibadah. “Hanya boleh di luar saja. Tidak boleh masuk ke tempat persembahyangannya,” ujar Dharma.

Photo
Photo
POTENSI WISATA: Umat Hindu Desa Bajulan memegang
teguh adat dan budaya leluhur selama bertahun-tahun. (Foto: Andhika Attar)

Pengurus tidak mematok harga tiket atau karcis tertentu untuk para pengunjung. Semuanya sukarela. Berapa saja yang diberikan tidak menjadi soal. “Tidak ditarget. Sukarela. Tapi kebanyakan yang pernah ke sini, pasti kembali lagi,” ungkap Dharma.

Sementara itu, Jro Mangku Dampri selaku pemangku agama dan adat mengatakan, tradisi budaya itu sudah berlangsung turun-temurun. Hanya saja, dilembagakan sebagai Hindu sejak 1968. Saat warga negara harus memiliki keterangan agama di kartu tanda penduduk (KTP). “Sejak saat itu umat di sini menyatakan diri beridentitas dan ber-KTP Hindu. Namun jauh sebelum itu sudah ada adat dan tradisi yang kami lestarikan,” terang Dampri.

Keberagaman di Desa Bajulan, Loceret memang sangat kuat. Mayoritas warga di sana memeluk agama Islam. Namun, di sana juga ada kampung Hindu. Jumlah umatnya pun mencapai sekitar  300 jiwa. Dari total sekitar  5.500 warga desa setempat.“Sejak sebelum saya lahir umat Hindu sudah ada di sini. Dari dulu semuanya rukun,” sambung Kepala Desa Bajulan Lauji. (tar/tyo) Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #nganjuk viral #seputar nganjuk viral #info wisata nganjuk #berita nganjuk #wisatawan #seputar nganjuk #berita nganjuk viral #nganjuk terkini #wisata nganjuk #info nganjuk