Menurutnya, latar belakang pengunjung tersebut cukup beragam. Namun mayoritas adalah remaja. Spot foto andalan di sana ada dua. Yaitu di gapura masuk pura dan pintu masuk tempat sembahyang. Dua spot ini menjadi pilihan utama. Pasalnya ornamen Bali sangat kuat.
Untuk dapat berkunjung dan mengambil foto, umat Hindu di sana tidak mempermasalahkannya. Justru senang bisa dikenal banyak orang. Hanya saja, wisatawan harus tetap berlaku sopan dan mematuhi aturan yang ada. Karena pura merupakan tempat ibadah. “Hanya boleh di luar saja. Tidak boleh masuk ke tempat persembahyangannya,” ujar Dharma.
teguh adat dan budaya leluhur selama bertahun-tahun. (Foto: Andhika Attar)
Pengurus tidak mematok harga tiket atau karcis tertentu untuk para pengunjung. Semuanya sukarela. Berapa saja yang diberikan tidak menjadi soal. “Tidak ditarget. Sukarela. Tapi kebanyakan yang pernah ke sini, pasti kembali lagi,” ungkap Dharma.
Sementara itu, Jro Mangku Dampri selaku pemangku agama dan adat mengatakan, tradisi budaya itu sudah berlangsung turun-temurun. Hanya saja, dilembagakan sebagai Hindu sejak 1968. Saat warga negara harus memiliki keterangan agama di kartu tanda penduduk (KTP). “Sejak saat itu umat di sini menyatakan diri beridentitas dan ber-KTP Hindu. Namun jauh sebelum itu sudah ada adat dan tradisi yang kami lestarikan,” terang Dampri.
Keberagaman di Desa Bajulan, Loceret memang sangat kuat. Mayoritas warga di sana memeluk agama Islam. Namun, di sana juga ada kampung Hindu. Jumlah umatnya pun mencapai sekitar 300 jiwa. Dari total sekitar 5.500 warga desa setempat.“Sejak sebelum saya lahir umat Hindu sudah ada di sini. Dari dulu semuanya rukun,” sambung Kepala Desa Bajulan Lauji. (tar/tyo) Editor : Anwar Bahar Basalamah