”Akeh Durung Mesti Cukup Sitik Durung Mesti Kurang, Ojo Mburu Seneng Nanging Mburuo Ayem; Nrimo ing Pandum Tansyah Iling Lan Bersyukur; Ora Ono Mulyo Tanpo Rekoso; Nak Gak Sabar Nang Mburiku, Mibero; Ojo Ngaku Ayu Yen Durung Dadi Pacare Sopir; Sing Nglakoni Ayem Tentrem, Sing Nyawang Kakean Cangkem; dan Muatanku Tidak Lebih Berat dari Rasa Kangenku Padamu”. Itulah sebagian kata-kata di bak truk yang melintas di Jalan Raya Kertosono-Nganjuk.
Bahkan, tak jarang ada teman kita yang mengabadikan tulisan dan gambar di bak truk dengan kamera smartphone. Kemudian, menjadikannya sebagai status WhatsApp (WA). “Gambar dan tulusan di bak truk itu tergantung permintaan sopir truk. Kami tinggal mengerjakan,” ujar Listianto, pengelola bengkel bak truk dan variasi Mool.
Menurut Listianto, desain sebuah bak truk itu merepresentasikan si pengemudi. Bukan pemilik atau juragan truk tersebut. Terutama untuk truk yang kirim muatan atau barang ke luar kota. Biasanya mereka lebih gila-gilaan dalam memodifikasi truknya. “Biasanya itu sopirnya dapat angan-angan kata apa gitu, kok dirasa bagus. Lalu, diminta dituliskan atau digambar di bak truknya,” ujar pria yang berdomisili di Desa Jatirejo, Kecamatan Rejoso tersebut.
Listianto tidak memungkiri bahwa modifikasi bak truk juga erat dengan gengsi atau kebanggaan dari si sopir truk itu sendiri. Semakin bagus modifikasi truknya, maka semakin bangga pula pengemudinya.
Namun, di balik itu semua modifikasi tersebut juga dimaksudkan sebagai sarana promosi. Karena jika truknya jelek, orang yang hendak menyewa juga malas. “Jadi ya ada faktor marketing juga. Selain, adu gengsi,” imbuhnya sembari tertawa kecil.
Hal tersebut dibenarkan oleh Deni Putranto, 34, salah seorang sopir truk. Ia mengaku bahwa lebih percaya diri (pede) jika mengemudi truk yang memiliki desain menarik di baknya. Tentu, hal tersebut akan berimbas pada kenyamanannya dalam bekerja. “Kalau truknya bagus kita yang nyetir kan juga nyaman,” katanya. Editor : Anwar Bahar Basalamah