Untuk menangkap 1.000 tikus per hari tersebut tidak hanya dilakukan satu atau dua petani. Namun, anggota kelompok tani di Desa Talang yang ikut gropyokan jumlahnya sekitar 100 orang. Tepatnya, 94 orang. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang satu kelompok beranggotakan lima orang. Ada pula satu kelompok yang anggotanya 10 orang. Mereka akan mulai gropyokan sekitar pukul 06.00 WIB-10.00 WIB. Saat itu, diperkirakan tikus sudah kembali ke lubang persembunyiannya. Sehingga, bisa lebih mudah ditangkap. “Kami harus mengepung tikus untuk menangkapnya,” ujar Suroto.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Talang Suparlan mengatakan, mendukung lomba gropyokan yang digelar Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk. Karena dengan adanya lomba itu, petani di desanya semakin semangat berburu tikus. “Kami sebenarnya rutin melakukan gropyokan karena tikus di sini sangat banyak,” ujarnya.
Suparlan mengatakan, biasanya gropyokan dilakukan setelah panen padi. Agar tanaman petani tidak rusak terinjak saat petani mengejar tikus. “Setiap mau tanam, kami lakukan gropyokan dulu,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk Muslim Harsoyo mengatakan, Kecamatan Rejoso masuk wilayah utara Nganjuk. Di wilayah utara itulah hama tikus banyak dikeluhkan petani. “Selain Rejoso, daerah utara yang banyak tikusnya ada di Kecamatan Patianrowo, Gondang, Lengkong, dan Jatikalen,” ujarnya.
Muslim berharap, dengan adanya lomba gropyokan, masalah hama tikus bisa teratasi. Sehingga, petani tidak lagi mengeluh tanamannya rusak diserang tikus. Editor : Anwar Bahar Basalamah