Dengan adanya kenaikan harga solar Rp 1.650 per liter, jumlah MPU yang beroperasi semakin sedikit. Jika sebelumnya masih terlihat MPU jurusan Nganjuk-Sawahan, Nganjuk-Wilangan dan Nganjuk-Kertosono beroperasi, kemarin sudah semakin jarang. Alasannya, sederhana. Sopir MPU tak mau mengalami kerugian. “Mungkin ada 4 atau 5 sopir yang libur narik karena adanya kenaikan BBM,” ungkap Jaelani.
Pria yang sudah 30 tahun menjadi sopir MPU ini mengaku nekat beroperasi. Karena dia merasa bingung jika harus berdiam diri di rumah. Sejak muda, dia sudah menjadi sopir MPU. Akibatnya, Jaelani mengalami kerugian dalam dua hari beroperasi setelah adanya kenaikan BBM bersubsidi. “Harus nombok Rp 30 ribu untuk bayar sewa MPU sehari,” keluhnya.
Kerugian yang dialami Jaelani ini karena dia tidak berani memaksa penumpang membayar ongkos MPU lebih tinggi dari biasanya. Karena penumpang sepi. Mereka tetap membayar ongkos naik MPU seperti sebelum ada kenaikan harga BBM. “Nganjuk-Sawahan itu tetap Rp 15 ribu. Kadang ada juga yang bayar seikhlasnya,” ujarnya.
Hal senada diutarakan Sunardi, 74, sopir MPU jurusan Nganjuk-Sawahan. Sopir asal Desa Semare, Kecamatan Berbek ini mengatakan, kenaikan harga BBM bersubsidi yang mendadak membuat sopir MPU belum melakukan kesepakatan terkait tarif. Semuanya masih menggunakan tarif seikhlasnya penumpang. “Tidak tega jika harus memaksa membayar lebih tinggi dari biasanya ke penumpang,” ujarnya.
Sunardi mengatakan, penumpang MPU adalah pedagang di pasar. Karena itu mereka juga mengalami kesulitan dengan kenaikan harga BBM. Dikhawatirkan, jika tarif naik MPU naik, penumpang tersebut akan memilih naik motor atau sepeda ke pasar.
Sunardi mengatakan, jika kenaikan harga BBM bersubsidi terus terjadi, maka MPU hanya akan menghitung hari. Apalagi, rencana dinas perhubungan (dishub) memberikan subsidi BBM kepada sopir MPU juga tidak terealisasi. “Mungkin kalau terus-terusan rugi, sopir MPU akan pensiun,” ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah