Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kiamat MPU di Nganjuk Semakin Dekat

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 7 September 2022 | 21:04 WIB
PUSING: Jaelani ngetem di depan Terminal  Nganjuk kemarin. Beberapa sopir MPU  memutuskan pensiun karena harga solar naik. (Foto: Karen Wibi)
PUSING: Jaelani ngetem di depan Terminal Nganjuk kemarin. Beberapa sopir MPU memutuskan pensiun karena harga solar naik. (Foto: Karen Wibi)
NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Mobil penumpang umum (MPU) di Nganjuk tampaknya akan tinggal kenangan. Karena kiamat MPU semakin dekat. Hal ini setelah pemerintah memutuskan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 3 September lalu. Solar yang sebelumnya Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter. Sehingga, ada kenaikan Rp 1.650 per liter. Kemudian, Pertalite naik dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10 ribu per liter. Lalu, Pertamax naik dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter. “Bayare penumpang ora sepiro, munggah e solar ora kiro-kiro,” keluh Jaelani, 60, seorang sopir MPU yang berasal dari Desa Sengkut, Kecamatan Berbek kemarin.

Dengan adanya kenaikan harga solar Rp 1.650 per liter, jumlah MPU yang beroperasi semakin sedikit. Jika sebelumnya masih terlihat MPU jurusan Nganjuk-Sawahan, Nganjuk-Wilangan dan Nganjuk-Kertosono beroperasi, kemarin sudah semakin jarang. Alasannya, sederhana. Sopir MPU tak mau mengalami kerugian. “Mungkin ada 4 atau 5 sopir yang libur narik karena adanya kenaikan BBM,” ungkap Jaelani.

Pria yang sudah 30 tahun menjadi sopir MPU ini mengaku nekat beroperasi. Karena dia merasa bingung jika harus berdiam diri di rumah. Sejak muda, dia sudah menjadi sopir MPU. Akibatnya, Jaelani mengalami kerugian dalam dua hari beroperasi setelah adanya kenaikan BBM bersubsidi. “Harus nombok Rp 30 ribu untuk bayar sewa MPU sehari,” keluhnya.

Kerugian yang dialami Jaelani ini karena dia tidak berani memaksa penumpang membayar ongkos MPU lebih tinggi dari biasanya. Karena penumpang sepi. Mereka tetap membayar ongkos naik MPU seperti sebelum ada kenaikan harga BBM. “Nganjuk-Sawahan itu tetap Rp 15 ribu. Kadang ada juga yang bayar seikhlasnya,” ujarnya.

Hal senada diutarakan Sunardi, 74, sopir MPU jurusan Nganjuk-Sawahan. Sopir asal Desa Semare, Kecamatan Berbek ini mengatakan, kenaikan harga BBM bersubsidi yang mendadak membuat sopir MPU belum melakukan kesepakatan terkait tarif. Semuanya masih menggunakan tarif seikhlasnya penumpang. “Tidak tega jika harus memaksa membayar lebih tinggi dari biasanya ke penumpang,” ujarnya.

Sunardi mengatakan, penumpang MPU adalah pedagang di pasar. Karena itu mereka juga mengalami kesulitan dengan kenaikan harga BBM. Dikhawatirkan, jika tarif naik MPU naik, penumpang tersebut akan memilih naik motor atau sepeda ke pasar.

Sunardi mengatakan, jika kenaikan harga BBM bersubsidi terus terjadi, maka MPU hanya akan menghitung hari. Apalagi, rencana dinas perhubungan (dishub) memberikan subsidi BBM kepada sopir MPU juga tidak terealisasi. “Mungkin kalau terus-terusan rugi, sopir MPU akan pensiun,” ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #nganjuk lagi #berita viral #berita terbaru #nganjuk news #mpu #kabar nganjuk #berita nganjuk #seputar nganjuk #dishub #MPU Kota Angin #berita viral nganjuk #info nganjuk #nganjuk #berita seputar nganjuk #berita nganjuk terkini #Nasib MPU #berita nganjuk terbaru