Batalnya kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Kamis (1/9) lalu tidak hanya disambut gembira oleh pemilik kendaraan bermotor. Namun juga para pengecer bensin yang biasa berjualan di tepi jalan. Karena jika BBM naik, mereka percaya jika pelanggan akan enggan untuk membeli bensin secara ecer.
“Dari beberapa tahun yang lalu, kalau naik itu pasti beberapa hari awal akan jadi sepi,” terang Bawadi, seorang pengecer bensin yang berjualan di sekitar Pasar Wage, Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk kepada wartawan koran ini.
Pria yang berasal dari Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk itu mengatakan bahwa dirinya selalu mengikuti berita rencana kenaikan BBM. Terutama untuk BBM jenis Pertalite. Yang mulanya Rp 7,65 ribu per liter diprediksi akan berubah menjadi Rp 10 ribu per liter.
Mendengar kabar tersebut, pria berusia 62 tahun itu langsung kaget. Karena menurutnya, kenaikan harga BBM akan berdampak langsung bagi para pengecer. Pasalnya, ia menilai bahwa harga tersebut akan naik secara relative drastis.
Jika harga BBM jadi naik menjadi Rp 10 ribu per liter, maka dirinya harus menjual sekitar Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu per 1,5 liternya. “Karena untuk menyesuaikan botol,” ujarnya.
Sedangkan untuk harga tersebut, Bawadi menilai bahwa itu sangat tidak masuk akal. “Naik 500 saja pasti langsung sepi, apalagi sampai Rp 2 ribu,” imbuh pria yang sudah 30 tahun menjadi pengecer bensin tersebut.
Untungnya kenaikan harga BBM urung terjadi. Mendapat kabar tersebut, Bawadi mengaku langsung senang. “Saya untungnya juga tidak sempat kecele ikut antri di SPBU,” tambahnya.
Hal senada dirasakan oleh Suwardi, 63, warga Desa Kecubung, Kecamatan Pace yang juga seorang pengecer bensin mengatakan senang dengan tidak jadinya kenaikan BBM jenis Pertalite.
Sama seperti yang diungkapkan oleh Bawadi, ia mengatakan jika kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak bagi pemilik kendaraan. Namun juga bagi para pengecer. “Kalau sepi, yang biasanya terjual 10 botol nanti terjual berapa?” ucapnya.
Walaupun kenaikan harga BBM urung terjadi, Suwardi mengaku bahwa dirinya masih was-was. “Kalau sampai jadi ya sepi,” ungkap pria yang sudah menjadi pengecer bensin sejak 40 tahun yang lalu tersebut. Editor : Anwar Bahar Basalamah