Selain lebih hemat, Suwarji mengatakan, untuk mendapatkan solar terkadang sulit. Apalagi, jika ada kenaikan harga BBM. Kelangkaan sering terjadi. Untuk itu, petani lebih memilih memodifikasi mesin diesel. Sehingga, mesin diesel bisa menggunakan elpiji untuk pengganti solar.
Modifikasi mesin diesel tersebut tidak hanya dilakukan Suwaji. Petani-petani di Kota Angin juga banyak melakukannya. Sehingga, mesin diesel dengan menggunkan elpiji marak dipakai untuk irigasi saat musim kemarau. “Banyak yang memakai elpiji karena hemat dan praktis,” ungkapnya.
Untuk itu, Suwarji mengatakan, saat ini, dia sudah tidak terpengaruh dengan adanya kabar kenaikan harga Pertamina Dex dan Dexlite atau kelangkaan. Karena dia dan petani sudah menyiasatinya BBM solar di mesin diesel dengan elpiji 3 kilogram. “Mudah-mudahan saja elpiji 3 kilogram tidak langka dan naik harganya,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Nganjuk Haris Jatmiko mengaku sudah mengetahui banyak petani memodifikasi mesin diesel. Sehingga, mesin diesel mereka bisa menggunakan elpiji untuk pengganti solar. “Laporan dari masyarakat sudah masuk ke kami,” ujarnya.
Karena itu, Haris mengatakan, disperindag akan mengecek ke lapangan. Karena sebenarnya, elpiji 3 kilogram itu adalah elpiji bersubsidi untuk masyarakat kurang mampu. Jadi, penggunanya harus warga kurang mampu. Jika yang menggunakan warga kaya maka akan menjadi salah sasaran. “Nanti kami cek penggunaan elpiji 3 kilogram di masyarakat,” ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah