Kampung Kuliner di Lingkungan Cacingan menjadi ikon Kelurahan Jatirejo. Sayang, bagi warga luar Nganjuk yang ingin menikmati kuliner di sana tidak akan mudah menemukan. Karena meski berada di dekat pusat kota tetapi kampung kuliner ini berada di gang. Untuk mobil, harus memilih jalan memutar jika ingin berkuliner di sana. Sedangkan, pintu utama kapung kuliner ini hanya bisa dilewati kendaraan roda dua dan tiga. Di gapura tertulis 'Kampung Kuliner Kelurahan Jatirejo' sebagai penanda kampung kuliner di sana.
Yang menarik, meski masuk gang tetapi pengunjung kuliner di sana banyak. "Weekend paling ramai pembelinya," ujar Warsini, 54, pedagang nasi goreng di sana.
Rata-rata dalam semalam berjualan, omzet Warsini sekitar Rp 500 ribu. Satu porsi nasi goreng dibanderol Rp 12 ribu. Untuk jam buka mulai pukul 17.00 WIB hingga malam hari.
Yang menarik, di Kampung Kuliner Jatirejo, orang-orang yang berjualan adalah warga setempat. Mereka berjualan di halaman rumah masing-masing. Hanya menyediakan rombong untuk menunjukkan jika berjualan nasi goreng. "Enak tidak perlu ke mana-mana. Pembeli datang sendiri," ujarnya.
Meski dagangan di kampung kuliner tersebut hampir sama tetapi mereka tidak bersaing dengan menggunakan cara-cara tidak sehat. Bagi pedagang di sana, rezeki sudah ada yang mengatur. Karena itu, pedagang hidup rukun.
Hal senada diutarakan, Nomi, 56, pedagang nasi goreng yang paling ramai pembeli. Pedagang di sana sudah berjualan nasi goreng puluhan tahun. "Saya jualan nasi goreng sejak 1983," ujarnya.
Karena paling ramai pembeli, Nomi mengaku setiap malam mampu menghabiska 25 kilogram nasi dan 40 kilogram mie. Untuk nasi 25 kilogram itu bisa menjadi sekitar 250 porsi nasi goreng. "Semalam bisa dapat uang sekitar Rp 3 juta," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (UM) Kabupaten Nganjuk Cuk Widiyanto bertekad mengembangkan Kampung Kuliner Jatirejo. Setelah memberikan sebutan Kampung Kuliner Jatirejo pada akhir 2019, dinkop dan UM akan mengembangkan lagi. Karena itu, Cuk tidak mau hanya duduk manis di belakang meja dan menerima laporan. Cuk beberapa kali melihat langsung dan kuliner nasi goreng di sana. "Jika melihat langsung di lapangan, saya bisa mengetahui kondisi riil dan problem pedagang," ujarnya.
Kepala dinas yang juga seorang pencipta lagu ini mengatakan, Kampung Kuliner Jatirejo ini sebagai wujud kemandirian warga. Sehingga, mereka bisa mendapatkan penghasilan tanpa harus keluar kota. "Dinas akan terus mendukung dengan gencar melakukan promosi," ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah