Dampri menjelaskan, Hari Raya Galungan merupakan momen untuk memperingati proses terciptanya alam semesta. Sebagai ucapan syukur, umat Hindu memberikan persembahan untuk Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara.
Selain dimaknai sebagai hari terciptanya alam semesta, Galungan juga memiliki arti menang. Yakni kemenangan dharma atau kebaikan melawan adharma atau keburukan. Galungan dirayakan setiap 210 hari dalam perhitungan kalender Bali. “Umat Hindu harus selalu sadar bahwa dharma itu sebagai dasar pola hidup,” ujar Dampri.
Setelah merayakan Galungan, umat Hindu akan mengadakan upacara Kuningan. Yang mana akan digelar pada Sabtu (18/6) atau sepuluh hari setelah Galungan. Umat Hindu percaya bahwa Galungan ini merupakan momen turunnya para leluhur. “Lalu nanti waktu Kuningan merupakan momen kembalinya leluhur ke kahyangan,” ungkap Dampri.
Lebih lanjut, dalam momen ini Dampri juga berpesan kepada seluruh umat Hindu tentang pentingnya kesadaran untuk menjadi manusia seutuhnya. Sehingga, sebagai makhluk individu maupun sosial dapat menjaga keserasian dan keselarasan. “Semuanya harus dituangkan dalam bentuk perilaku yang baik,” pesannya.
Untuk diketahui, upacara peringatan Hari Raya Galungan di Pura Kerta Kerta Bhuwana Giri Wilis kemarin tidak hanya diikuti oleh umat Hindu Nganjuk. Melainkan, banyak pula umat Hindu dari luar kota Angin. Baik saat mengikuti rangkaian upacara hingga makan bersama yang dilakukan dengan semangat kebersamaan. “Semua yang ke sini datang atas panggilan hati dan jiwa masing-masing,” pungkas Dampri. Editor : Anwar Bahar Basalamah